
Waktu berjalan begitu cepat, perusahaan Rico mulai mengembangkan sayap di bidang perbankan dan asuransi. Rico sengaja menyibukkan diri, dia ingin waktu satu bulan yang iya janjikan pada Anya segera berlalu. Kegilaan kerja Rico sudah melebihi ambang batas, dia menjadi gila kerja, wanita bukanlah prioritas, dia pulang sudah dalam kondisi capek sehingga sampai di rumah, mandi dan langsung tidur. Berapa kali sudah Rachel menelponnya setiap hari, tapi tak pernah ada respon dari Rico. Dia hanya membalas atau menjawab telepon dari teman bisnisnya. Dia sengaja tidak menghubungi baik Rachel maupun Anya. Dia ingin betul-betul jujur pada hatinya. Diantara kedua wanita itu, siapa yang benar-benar ia cintai.
Sementara itu, Anya mulai gamang, pria yang selama ini diam-diam ia sukai mulai tidak mempedulikanya. Dia terlihat begitu sibuk dengan pekerjaanya, atau bisa jadi sibuk dengan kekasihnya. Rachel , aaah pikiran apa ini. Rico bukan pria seperti itu. Ia dididik sebagai pria gentle. Tapi ketidak pedulian Rico juga mengganggu pikiran Anya. Sementara sebentar lagi ia harus pergi ke Belanda selama seminggu untuk menengok ibunya disana. Hari ini Anya akan menyelesaikan pekerjaan cepat, ia ingin pergi ke suatu tempat, dan pulang lebih awal. Pas ia menyelesaikan pekerjaanya tiba-tiba adz telepon dari nomor yang tidak ia kenal. Anya mengangkat telepon.
"Halla..."
"Ini Anya ya ?!"
" Ya benar, maaf ini siapa ya?"
" Aku Rachel , kekasih Rico, aku mau bicara sama kamu secepatnya, kalau bisa hari ini".
Anya kaget, bagaimana Rachel tahu nomor teleponya?. Darimana dia tahu aku, bagaimana dia tahu nomor teleponku?.
"Rachel , bagaimana kamu tahu nomor teleponku ?"
"Itu nggak penting, sekarang yang penting kita harus bicara, aku tunggu di ST resto, hari ini jam tujuh malam".
Sebelum Anya menjawab bahwa hari ini ia tidak bisa. karena dia sendiripun ada acara. Rebecha sudah menutup teleponya. Anya mengambil tas. Dia mulai berbenah, dia harus segera mengurus Visa. Sebelum dia keluar kantor sengaja Anya melihat ke arah ruang Rico, dia tidak ada disana, entah kemana lagi dia. Saat itu jam menunjukkan pukul tiga sore. Anya pamit sama Ira.
"Gue pulang dulu, ada yang harus gue urus".
"Oh oke Nya, hati-hati ya, aku belum selesai nih "
__ADS_1
" Ok, semangat, selamat lembur ya " ucap Anya sambil menggoda mengacak rambut temanya itu.
" Ah Anyaaaa " teriak Ira, sampai beberapa teman mereka menengok ke arah mereka, sambil ikut tersenyum, karena suara Ira yang lepas kontrol.
" Mau kemana Nya ?" Kalau ini suara Irvan, yang satu kantor tahu dia naksir berat Anya, cuma Anya saja yang nggak tahu.
" Ada perlu ke suatu tempat "
" Perlu diantar nggak", ngebet banget suara Irvan. Teman satu kantor langsung rame, ada yang mengeluarkan siulan, ada yang tertawa, bahkan ada yang bertepuk tangan.
" Asiiiik gitu dong fan, mulai action, jangan ngomong di belakang aja" teriak Rudi, lalu disahut oleh David.
" Jangan kasih kendor Fan ". Anya bingung dengan reaksi teman-temanya, tapi tak berlangsung lama, sebab Ira sudah mendorong Anya menuju keluar.
"Udah sana berangkat, mereka orang lagi stress ma kerjaan jadi gitu deh, ngelantur".
"Udah sana berangkat aja ".
" Okeh, daaaa teman-teman, aku duluan ya..."
" Yaaaa" jawab mereka berbarengan.
Anya berjalan menuju koridor ke arah lift. Untung tidak lama, lift sudah ke lantai dimana Anya berada. Saat lift terbuka, disana ada Rico, yang sedang ngobrol dengan beberapa kolega dan didampingi oleh Pak Hasan dan beberapa kepala bagian. Hal yang sangat tidak mereka duga. Anya terpaku di tempat berdirinya, sementara Rico merasakan hal yang sama. Tapi untungnya mereka berdua segera bisa menguasai diri. Dan pura-pura tak terjadi apa-apa. Anya menganggukkan kepala, dibalas oleh beberapa dari mereka. Setelah memberi jalan pada yang akan keluar dari lift Anya melirik sekilas ke arah Rico, ternyata Rico sedang memandang Anya sekilas, supaya tidak terlihat mencurigakan. Rico mulai berfikir dalam hati, mau kemana Anya, biasanya jam segini masih di kantor, kelihatanya dia akan pergi entah kemana. Ada desiran aneh di hati Rico saat memikirkan Anya.
__ADS_1
" Pak Hasan tolong Pak Bandi dipandu ke ruang meeting. ada berkas yang ketinggalan di mobil" Tiba'tiba Ada ide Rico untuk mengejar Anya.
"Baik Pak"
Rico segera mengejar lift yang ditumpangi oleh Anya, tapi lift sudah turun, walaupun beberapa tombol di tekan tapi posisi lift sudah mengarah turun. Entahlah..
.. ada rasa rindu yang teramat dalam di hati Rico untuk Anya. Rico menuju ke lift sebelah, dia menunggu sebentar dan lift datang.
Sementara Anya sudah menuju ke mobilnya, dan mulai melajukan mobil ke arah keluar. Di saat bersamaan terlihat Rico sedang keluar dari lift. Sebenarnya Rico ingin mengejar mobil Anya, tapi dia tadi turun dengan beberapa karyawan. Dia tidak mau ada skandal lagi, jadi dia berpura - pura menuju ke mobilnya, untuk mencari sesuatu yang memang tidak ada.
Anya sudah selesai mengurus Visa nya, waktu menunjukkan pukul 6 sore lebih, Anya bermaksud langsung pulang membersihkan diri dan santai di rumah. Hari ini rasanya capek sekali. Saat ia mulai istirahat depan tv sambil baca buku, tiba-tiba ponselnya berbunyi, nada panggil. Ia lihat no nya tak tersimpan. Anya biarkan saja sampai bunyi ponsel berhenti. Bunyi yang kedua ia lihat nomor yang sama, pikirnya pasti penting. Saat ia belum mengucapkan salam terdengar dari seberang suara yang ketus langsung bicara.
"Dimana lo, lo pikir lo siapa, udah jam berapa ini, punya jam nggak lo ?, aku tadi bilang jam berapa ?" Suara Rachel , sember dan terlihat suaranya marah. Anya lupa sama sekali, bahwa ada janji dengan Rachel , tapi sekarang badanya benar-benar tak bisa diajak kompromi, kelelahan yang teramat sangat. Tapi Anya berusaha menjawab dengan tenang dan sabar, susah kalau menghadapi orang kaya dan manja seperti Rachel .
"Aku ada kepentingan mba Rachel , kalau mau mba kesini aja main ke rumah".
"Apa ??!!, jadi lo nggak mau ketemuan sama gue hah ?!".
"Bukan nggak mau mbak, aku baru pulang, atau kalau nggak besok aja gimana?"
" Ih siapa sih lo ngatur-ngatur gue !!"
" Ya terserah mba Rachel , kalau mau nemuin saya sekarang bisa main ke rumah, saat ini kalau aku disuruh keluar, maaf nggak bisa". Suara Rachel agak melunak.
__ADS_1
"Ok dimana dan kapan kita ketemu, besok aku yang tentukan".
" Baik mba". Tanpa basa basi dan salam Rachel sudah menutup telepon. Sedangkan Anya hanya bisa menggelengkan kepala.