
Fyi "Basil memiliki arti keinginan terbaik, cinta, kebencian"
***
Hari ini Evelyn sudah harus kembali ke Surabaya. Wajah gadis tersebut sedari tadi terus ditekuk karena merasa masih tak ingin kembali. Ia masih merasa ingin terus berada di Malaysia untuk berlibur. Namun kini ia sudah harus kembali dan sibukkan dengan banyak tugas seorang mahasiswi.
Evelyn sengaja mengambil penerbangan sore. Dan penerbangan nya berada di jam 17.35. Kini Hazel sudah berada di bandara bersama dengan kakaknya juga kakek dan neneknya untuk mengantar Hazel kembali ke Indonesia.
“Jaga diri baik-baik di sana ya Nak. Kami akan segera menyusul Hazel ke sana setelah urusan di sini semuanya selesai,” ucap kakek Evelyn setelah memeluk cucunya tersebut.
“Kakek sama nenek juga jaga diri baik-baik ya,” ucap Hazel yang di balas dengan anggukan dan senyuman oleh kakek dan neneknya tersebut.
“Baik-baik di sana ya,” pesan nenek Hazel setelah melepaskan pelukannya dari cucu nya tersebut.
Sekarang berganti kakaknya yang memeluk Hazel. Sebenarnya Tara sudah mengatakan akan mengantar Hazel sampai bandara Surabaya namun Hazel menolaknya mengingat besok Tara sudah harus bekerja. Jadilah Tara hanya bisa menurut saja dan hanya mengantar Hazel sampai bandara.
“Tunggu Abang ke sana ya, kalau ada yang nyakitin Hazel bilang ke abang,” ucap Tara pada adiknya tersebut yang menganggukkan kepalanya mendengar ucapan kakaknya tersebut.
Setelah peswat dengan nomor penerbamngannya di panggil dan akan segera take off dengan segera Hazel kembali memeluk mereka bergantian lalu melambaikan tangannya sebelum berjalan menjauh dari keluarganya tersebut. Senyuman Hazel luntur di ganti dengan wajah sendunya. Ia merasa belum siap untuk kembali. Menghadapi Akasa lagi. Ia benar-benar lelah.
Jika saja bisa Hazel ingin menjauh, namun apakah ia bisa? Hazel merasa sudah begitu terikat dengan laki-laki tersebut. Apa lagi dengan keluarga mereka yang mengira jika Hazel dan Akasa memiliki hubungan membuat Hazel merasa kesulitan untuk bergerak bebas.
Helaan nafas keluar dari gadis tersebut. Namun akhirnya selama perjalanan gadis tersebut memilih untuk memejamkan matanya dan beristirahat saja.
***
“Kau sudah menemukan alasan Hazel datang kemari?” tanya Tara dengan sorot mata tegasnya pada seorang laki-laki di depannya yang tak lain adalah orang kepercayaannya sekaligus asistennya. Martin.
__ADS_1
“Belum Tuan, karena saat Nona pulang dari kampus dia langsung pergi ke Bandara dan datang kemari. Tentang laki-laki yang bernama Akasa, di hari nona pergi dia terlihat mencari nyonya berjam-jam di fakultasnya. Namun tentang kejadian sebelum itu tak ada yang tahu Tuan karena kampus sudah sepi. Kami juga sudah mengecek beberapa CCTV yang berada di sana namun tak ada yang memperlihatkan apapun karena kebetulan ada tempat yang CCTV nya mati di kunjungi oleh Nona,” ucap Martin panjang lebar menjelaskan pada Tara yang kali ini menghela nafasnya kasar mendengar penjelasan dari laki-laki tersebut. Ia masih saja terus menyelidiki apa yang membuat adiknya tersebut hingga datang mencarinya.
Tara hanya takut terjadi hal buruk yang membuat gadis tersebut merasa terluka. Tara hanya tak ingin jika terjadi sesuatu yang buruk pada adiknya. Ia begitu menjaga adiknya tersebut hingga tak menginginkan siapapun untuk menyakitinya.
“Bagaimana dengan CCTV di rumah?” tanya Tara lagi pada bawahannya tersebut.
“Tak ada yang mencurigakan Tuan,” ucap Martin. Tara hanya menganggukkan kepalanya sambil mengetuk-ngetukkan tangannya di meja.
“Bagaimana dengan Akasa selama Hazel pergi?” tanya Tara. Bagaimanapun kini bagi Tara, Akasa lah pelaku utama yang bisa saja membuat adiknya tersebut menjadi seperti itu.
“Laki-laki itu belakangan ini terlihat hancur Tuan dan sering datang ke club. Juga hotel,” ucap Martin yang membuat Tara menaikkan sebelah alisnya.
“Hotel?” tanya Tara dengan seringainya yang Martin balas dengan anggukan. Setelahnya Martin memberikan iPad nya pada Tara yang menunjukkan sebuah rekaman CCTV.
“Siapa perempuan ini?” tanya Tara pada Martin. Martin segera menggeser layar iPad nya yang kini sudah menunjukkan data diri perempuan yang bersama Akasa waktu itu. Senyuman sinis terlihat begitu jelas di wajah laki-laki tersebut.
“Sebelumnya aku merasa, aku bisa mempertimbangkannya namun setelah melihat semua ini aku rasa aku tak akan pernah menyetujuinya,” ucap Tara datar. Martin menganggukkan kepalanya setuju. Tara tentu tak ingin jika adiknya tersebut bersama dengan laki-laki yang bahkan tak bisa untuk menghargainya.
“Apa kita harus bertindak untuk menjauhkan mereka?” tanya Martin yang Tara balas dengan gelengan.
“Biarkan dia menjaga Hazel sampai waktunya. Aku tidak bisa membiarkan Hazel tanpa pengawasan. Bagaimanapun juga aku tahu Akasa tak akan menyakiti Hazel secara sadar apalagi sampai melecehkan ataupun memukul nya,” ucap Tara, baginya mungkin tak ada salahnya jika untuk saat ini ia memanfaatkan Tara lebih dulu sampai dia bisa menjaga adiknya sendiri dan sampai dia menemukan laki-laki yang tepat untuk adiknya tersebut. Katakan saja Tara posesif namun semua ini ia lakukan untuk kebaikan adiknya juga.
“Apakah ini rencana yang baik bagi Nona, Tuan? Saya hanya takut Nona semakin terjebak dengan perasaan sendiri,” ucap Martin. Martin cukup mengerti persoalan perasaan karena ia sudah menjalani hubungan selama beberapa kali berbeda dengan Tara yang begitu kaku dan hanya mementingkan adiknya. Bagi Martin, Tara tak akan tahu hal semacam ini.
“Itu akan menjadi urusan ku. Terus awas Akasa, sekarang kau boleh peri,” ucap Tara tegas. Martin hanya bisa mengangguk pasrah dan segera keluar dari ruangan tersebut dengan berat hati.
Tara menghela nafasnya kasar merasa lelah dengan masalah adiknya tersebut yang terus saja mendapatkan masalah.
__ADS_1
***
Hazel baru saja tiba di rumahnya, dan ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur king size nya. Ia rasanya begitu lelah setelah perjalanan yang cukup panjang. Suara notifikasi masuk dari ponselnya membuat Hazel segera mengambil ponselnya hingga terlihat pesan dari kakaknya tersebut yang menanyakan apakah Hazel sudah tiba. Hazel dengan segera menjawabnya agar tidak membuat kakaknya tersebut khawatir.
Tak lama pesan kembali masuk namun kali ini, bukan dari kakaknya melainkan dari Fernando yang mengirimnya pesan. Hazel tak habis pikir dengan laki-laki itu yang begitu gencar mengejar Hazel padahal Hazel sudah menolah nya beberapa kali.
“Gak ada capek nya emang nih orang,” ucap Hazel sambil menggelengkan kepalanya. Merasa enggan untuk menjawab karena yang ditanyakan adalah Hazel tengah melakukan apa akhirnya Hazel memilih untuk mengabaikannya dan lebih memilih untuk segera tidur dan mengistirahatkan tubuhnya yang sudah terasa begitu lelah apalagi besok ia sudah harus kembali kuliah.
Namun sebelum itu Hazel lebih dulu berendam dan membersihkan tubuhnya, baru setelahnya Hazel memutuskan untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa begitu lelah.
***
Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.
Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.
Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath
See you next chapter guys.
Thank for Reading.
Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.
Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita temen aku ini ya. Tapi jangan lupa balik lagi ya.
__ADS_1