
Fyi "Achillea millefolia memiliki arti perang"
***
“Wah, ini bagus banget Bang,” ucap Hazel dengan matanya yang berbinar menatap dua bangunan kembar yang menjulang tinggi dengan begitu indahnya.
"Hazel suka?" Tanya Tara yang Hazel balas dengan anggukan. Senyuman gadis tersebut mengembang dengan begitu sempurna seolah tak ada beban yang tengah ia rasakan.
"Mau foto-foto dulu?" Ajak Tara yang Hazel balas dengan anggukan. Akhirnya mereka saling berfoto di menara kembar tersebut. Bahkan juga ada photographer khusus yang biasa bekerja di sana juga memotret mereka. Banyak gaya mereka ber swafoto dan Hazel begitu menikmati waktunya saat ini.
"Nanti di atas kalau kita naik di tawarin tuh beli foto nya sama mereka," ucap Tara menjelaskan tentang photographer tersebut uang Hazel balas dengan anggukan mengerti.
"Emang kita boleh naik Bang?" Tanya Hazel dengan antusiasnya. Ia memang ingin menikmati keindahan kota dari atas sana.
“Boleh dong, ayo kita naik,” ajak Tara yang segera dibalas dengan anggukan semangat oleh Hazel. Tara mengacak rambut adiknya tersebut sayang lalu segera menarik adiknya tersebut ,menuju ke arah salah satu menara kembar yang berada di sana.
Antriannya pembelian tiket kini cukup panjang padahal kini bukan hari libur. Tidak bisa semua orang yang membeli tiket bisa masuk langsung setiap pengunjung di bagi menjadi beberapa rombongan. Satu rombongan terdiri dari 20-25 orang. Sebelum naik menara ini mereka kembali difoto di lantai dasar, dan foto tersebut akan di jual di lantai atas nanti.
“Abang gak beli tiket?” tanya Hazel pada kakaknya tersebut yang bukannya membeli tiket tapi malah melihat-lihat tempat di sana.
“Abang udah beli online, tau pasti ramai soalnya,” ucap Tara yang membuat Hazel terkekeh mendengar ucapan kakaknya tersebut.
“Pasti Abang sering dateng kesini sama pacar abang ya, ayo ngaku,” ucap Hazel sambil memicingkan matanya curiga menatap kakaknya tersebut yang kini hanya memutar bola matanya malas sambil menatap datar pada Hazel.
“Gak usah ngaco deh, bahkan sampai sekarang perempuan yang abang sayang dan pengen selalu abang jaga cuma Hazel dan Mama tapi terutama Hazel sih,” ucap Tara yang membuat Hazel mendelik mendengarnya. Bukannya bahagia dan terharu mendengar ucapan kakaknya tersebut pikiran Hazel kini malah melayang ke mana-mana.
__ADS_1
“Jangan bilang Abang gak suka cewek? Atau Abang sister complex?” tanya Hazel dengan tatapan curiga pada kakaknya tersebut yang kini malah memutar bola matanya malas mendengar ucapan adiknya tersebut. Dengan kesal Tara menyentil kening adiknya tersebut yang pikirannya begitu jauh.
“Gak usah aneh-aneh deh, Abang masih suka cewek ya. Dan Hazel itu adik abang satu-satunya jadi wajar dong kalau abang pengen terus ngelindungin Hazel dan terus mencintai Hazel sebagai adik abang,” ucap Tara menjelaskan. Hazel hanya mengerucut bibirnya mendengar ucapan dari kakaknya tersebut yang juga menyentik keningnya. Hazel mengusap keningnya yang bahkan tak terasa sakit.
“Udah ayo masuk, ini udah giliran kita,” ucap Tara saat rombongan yang baru datang dari atas sudah keluar dari lift. Mereka segera masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke gedung tertinggi dari gedung ini.
Mereka kini naik ke menara Petronas salah satu dari menara kembar tersebut. Hazel begitu tak sabar untuk segera menuju atas gedung tersebut. Selama di dalam lift Tara menjaga adiknya tersebut dengan begitu posesif. Membiarkan adiknya berdiri di bagian pojok lalu merangkul adiknya dengan begitu erat seolah tak membiarkan siapapun untuk menyentuh adiknya tersebut.
Hingga tak lama mereka sampai di lantai 41. Pintu lift terbuka. Setelah semua orang keluar barulah Tara mengajak Hazel untuk segera keluar dari lift. Saat keluar dari lift Hazel langsung berhambur meninggalkan Tara yang berjalan di belakangnya. Gadis tersebut segera menuju jembatan yang menghubungkan kedua menara tersebut. Hazel menatap ke bawah melihat pemandangan indah dari kota di bawahnya. Baru di lantai 41 namun pemandangannya sudah begitu bagus.
“Kita disini cuma dua puluh menit. Kalau mau foto-foto ayo sini Abang fotoin,” ucap Tara saat sudah menghampiri adiknya tersebut yang menganggukkan kepalanya setuju. Setelahnya ia mulai berpose dengan berbagai gaya dan Tara yang menjadi photographer untuk Hazel. Mereka juga meminta bantuan pada pengunjung lain untuk memotret mereka.
Setelah waktu 20 menit yang diberikan habis akhirnya mereka menuju ke arah lift kembali untuk menuju lantai 86. Lantai yang tertinggi yang boleh dikunjungi. Karena lantai 88 adalah lantai pemeliharaan. Sikap posesif Tara kembali muncul saat di dalam lift. Ia seolah menjadi benteng untuk adiknya tersebut.
Tak hanya dapat melihat keindahan kota dari atas menara kembar. Namun di lantai atas ini kita juga dapat menikmati miniatur dari menara kembar, foto dari tokoh terkenal Malaysia, juga berbagai oleh-oleh yang dapat kita beli di sana. Bahkan juga ada yang menjual foto kita yang tadi sudah mereka cetak dengan harga yang begitu mahal.
“Setelah ini mau ke mana kak?” tanya Hazel pada kakaknya tersebut. Setelah waktu mereka sudah habis karena akan diganti dengan pengunjung lainnya.
“Disini juga ada mall juga taman, bagaimana jika kita ke sana?” tawar Tara yang tentu saja langsung di jawab dengan anggukan semangat oleh Hazel. Tentu ia tak akan menyia-nyiakan waktu liburannya itu hanya dengan berada di rumah saja.
***
“Udah bisa dihubungi?” tanya Bimo pada Akasa yang kini tengah serius meminum minuman beralkohol nya. Suara dentuman musik yang begitu keras menjadi teman dalam suasana hati Akasa yang tengah hancur tersebut.
“Salah kamu sendiri sih, udah ada yang baik dan setia malah di sia-sia in,” ucap Bimo sambil menggelengkan kepalanya. Akasa hanya bisa menghela nafasnya kasar.
__ADS_1
“Aku cuma takut kehilangan dia karena aku juga masih belum tahu sama perasaan aku sendiri, aku cuma gak mau nyakitin dia,” ucap Akasa dengan helaan nafasnya. Bimo yang mendengar ucapan sahabatnya tersebut.
“Dengan sikap kamu yang seperti ini justru kamu buat dia sakit,” ucap Bimo dengan tegas. Ia benar-benar gemas dengan sahabat nya yang satu ini.
“Kamu harus memilih dan tanya ke hati kamu sendiri, siapa yang kamu mau. Jangan menyesatkan perasaan kamu sendiri terlalu jauh karena yang terluka bukan cuma kamu tapi mereka,” ucap Bimo berusaha untuk membantu temannya tersebut agar bisa tegas pada pilihannya sendiri dan tidak plin plan lagi. Bimo cukup merasa kasihan pada Hazel yang malah harus di pertemukan dan mencintai laki-laki seperti Akasa.
Akasa hanya menghela nafasnya karena masih tak tahu dengan perasaannya sendiri.
***
Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.
Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.
Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath
See you next chapter guys.
Thank for Reading.
Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.
Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita temen aku ini ya. Tapi jangan lupa balik lagi ya.
__ADS_1