
Sampai di Jakarta, Rico membawa Anya ke rumahnya. Bu Anggraeni dan Pak Bowo pun diajak ikut serta ke rumah.
Untuk sementara mereka tinggal di rumah Rico, sebab tak aman bila Anya dan keluarga pulang ke rumah.
Ada security dan beberapa penjaga tambahan yang menjaga rumah tersebut.
Mama Rico menyambut mereka dengan haru. Beliau sangat bahagia sebab ternyata yang dicintai oleh anaknya adalah Anya, anak baik yang sangat sopan dengan orang tua.
Sebelum Anya dan keluarga datang, terlebih dahulu Pak Broto menceritakan penculikan Anya dan untuk sementara Anya tinggal di rumah tersebut.
Mama Rico tentu sangat bahagia, mereka ditempatkan di kamar tamu.
Anya izin masuk kamar terlebih dahulu ditemani oleh ibunya.
Sementara Pak Broto, Rico dan Pak Bowo ngobrol.
" Bagaimana cerita Anya ditemukan?" Tanya Pak Broto pada Rico.
"Ada pasukan khusus yang akan menyusup ke villa tersebut, tapi mereka malah ketemu Anya sedang melarikan diri".
"Sukurlah bila Anya sehat, tapi dia harus didampingi psikiater, itu kejadian traumatis, kamu telpon Om Hendro, besok suruh kesini".
"Baik pa".
"Untuk sementara Pak Bowo dan keluarga tinggal disini, disini lebih aman".
" Terima kasih banyak Pak Broto, atas bantuanya, tanpa keluarga bapak dan nak Rico kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada Anya".
" Anya anak saya juga pak, jangan sungkan".
Sementara mama Rico, sedang mempersiapkan makan malam dengan para asistenya. Kemudian Ibu Anya mulai menyusul untuk membantu, sebab ia lihat Anya mulai tenang dan sedang istirahat.
"Maaf pa, om saya mau lihat Anya sebentar"
" Oh ya nak Rico, silahkan" Jawab Pak Bowo.
Rico menuju ke belakang, dimana letak kamar tamu yang ditempati oleh Anya langsung menghadap ke kolam renang.
Rico mengetuk pintu, tok tok tok
"Masuk", ada jawaban dari dalam rumah.
Rico membuka pintu, dan tersenyum hangat pada Anya. Ia duduk di tepi tempat tidur yang dipakai Anya. Sambil mengelus rambut Anya, Rico berujar.
" Jangan tidur dulu, kamu harus makan yang banyak, lima hari kamu pergi, badanmu sudah sangat kurus".
__ADS_1
Anya tidak menjawab, dia memeluk Rico.
"Aku takut Pak Rico, aku takut mereka datang lagi".
Dengan lembut Rico mengelus rambut Anya.
" Nggak pa pa, besok ada Om Hendro psikiater keluarga yang akan membantu trauma kamu, semua akan baik-baik saja".
"Bagaimana jalau penculik itu mencariku lagi, aku tahu rahasia yang tersimpan di rumah itu".
Rico melepaskan pelukanya pada Anya, serta memegang pundak Anya dengan lembut.
"Maksudmu ?"
"Aku lihat mereka punya ruang rahasia, semacam bunker, disitu ada banyak berbagai emas murni sepertinya, dan sekitar dua puluh tujuh lukisan terkenal".
" Tadi, sudah kamu ceritakan pada polisi ?"
" Belum, aku tidak sempat, aku kalut, aku jadi nggak ingat apa-apa".
Rico membawa lagi Anya dalam pelukanya, dan menenangkan dengan mengelus pundaknya.
" Baik, biar nanti malam aku temani kamu tidur disini, supaya kamu tidak ketakutan".
Anya memeluk Rico semakin erat.
" Masuk".
Asisten rumah tangga mengabarkan bahwa makan malam sudah siap.
" Yuk Nya, kita makan, kamu harus makan banyak ya".
Rico berdiri dan mengulurkan tangan untuk menggandeng Anya ke ruang makan.
Sementara yang lain sudah duduk di kursinya masing-masing sambil ngobrol.
" Anya lusa ayah kembali ke Belanda, kalau ibu masih ingin nemani Anya nggak pa pa ayah pulang sendiri, yang penting kamu kuat dulu".
Anya duduk disamping ibunya yang berdampingan dengan mama Rico.
"Ya biar saja Jeng Anggraeni sementara disini nemani Anya, ya jeng ?".
"Saya takut merepotkan, Bu Broto, kami berdua harus tinggal disini, maksud saya biar Anya sekalian ikut ke Belanda, biar sata nggak kepikiran".
" No no no, jangan khawatir ibunya Anya, Anya disini aman, ibu lihat kan banyak penjaga di depan ?"
__ADS_1
" Sudah berdebatnya nanti saja, sekarang kita makan dulu". Ujar Bu Broto.
Mereka tersenyum berbarengan dan mulai sibuk dengan pilihan menunya masing-masing.
Setelah makan, mereka ngobrol lagi di pinggir kolam renang, tampak mereka sangat akrab.
" Anya nanti tidur, ibu temani".
Langsung dijawab oleh Rico.
" Biar saya yang temani tante, nggak pa pa". Pipi Anya langsung memerah, sementara semua mata tertuju pada Rico, menuntut penjelasan.
" Maksud saya, saya temani Anya tidur di kamar, nanti saya tidur di sofa, dia masih ketakutan", bicara seperti itu Rico tampak salah tingkah.
" Yaaaa, tapi jangan macam-macam Ric", sahut papa Rico.
"Siap pa, tenang aja."
Hari sudah semakin malam satu persatu mereka pamit untuk istirahat.
Rico membawa Anya ke kamarnya, dia ingin lebih leluasa melindungi Anya.
Mereka menaiki tangga, Rico membuka pintu dan mempersilahkan Anya masuk.
"Tidurlan Nya, kamu harus istirahat, aku tidur di sofa".
Berkata seperti itu, sambil menyelimuti Anya, saat akan pergi, Anya memegang pergelangan tangan Rico.
"Pak Rico disini saja".
Sebetulnya dari tadi dada Rico sudah berdegub kencang, tapi Rico tahu bila Anya hanya merasa ketakutan.
" Baiklah".
Rico berjalan menuju sisi lain tempat tidur. Sekarang Anya yang menyelimuti kaki Rico.
Anya tidur menghadap Rico. Rico memeluknya.
"Tidurlah".
Anya memejamkan mata sambil memeluk pinggang Rico.
Mereka dalam posisi seoerti itu sampai Anya tertidur sangat pulas.
Rico memperhatikan wajah Anya, Dia mencium pipi dan kening Anya berkali-kali.
__ADS_1
Ia merasa bersukur sekarang Anya dalam pelukanya. Ia tak tahu apa yang akan terjadi padanya, bila Anya belum ditemukan.
Semakin larut semakin kantuk menyergap Rico, akhirnya ia pun tertidur dengan memeluk Anya.