
Fyi "Pansy memiliki arti pemikiran, cinta"
***
Perkatan Nira kini terus saja terbayang-bayan di kepala Hazel. Bak kaset rusak ucapan tersebut terus saja terdengar dengan berulang di telinganya.
Merasa butuh udara segar untuk menenangkan pikirannya. Kini Hazel memilih untuk mencari udara segar di luar rumahnya. Sekedar menenangkan pikirannya yang tengah kacau. Kini jam baru menunjukkan pukul 19.45 dan Hazel memilih untuk keluar dari rumahnya.
Gadis tersebut kini hanya memakai pakaian tidurnya yang dilapisi oleh jaket nya. Berjalan tak tentu harus kemana. Kini tujuannya seolah semu. Hanya berjalan tanpa arah. Apa kali ini ia akan kembali ditinggal menikah lagi?
“Ah sial. Apa emang takdir gue ditinggal nikah mulu?” tanya Hazel bermonolog pada dirinya sendiri. Memikirkan tentang apa yang dialaminya.
Setelah Argo yang menikah apa sekarang Akasa juga akan meninggalkannya untuk menikah dengan perempuan lain? Kisah nya seperti begitu menyedihkan. Namun kini ia masih terus berpikir positif jika berita tersebut hanya berita lama saja.
Hazel memutuskan untuk membeli minuman di supermarket depan kompleks nya yang memang tak terlalu jauh. Setelah membeli minuman dan makanan ringan. Hazel memutuskan untuk duduk di depan supermarket tersebut sambil melihat ramainya kendaraan dan orang yang berlalu lalang di depannya.
“Hazel?” suara tersebut sontak membuat Hazel menoleh dan mendapati seorang wanita yang sedari tadi memenuhi pikirannya kini berdiri di sampingnya. Tanpa meminta izin wanita tersebut malah langsung duduk di samping Hazel. Namun Hazel hanya memilih diam sambil memakan makannya.
“Udah lama ya kita gak ketemu, gimana kabar kamu?” tanya wanita tersebut yang tak lain adalah Selin. Hazel menaikkan sebelah alisnya saat melihat Selin yang kini begitu berbeda padanya. Biasanya jika bertemu gadis tersebut akan langsung menanyakan kabar Akasa atau hubungannya dengan Akasa.
“Baik,” jawab Hazel singkat. Pikirannya kini sudah tak menentu. Seolah tak bisa diajak untuk berpikir dengan positif melihat tingkah Selin tersebut. Apa benar jika akhirnya Akasa akan bersama dengan Selin? Lalu dirinya? Sebagai apa sebenarnya ia di drama kehidupan Akasa? Apa hanya akan berakhir sebagai seorang sahabat?
“Gak nanya kabar Akasa lagi?” tanya Hazel menoleh ke arah Selin sambil menyuap makanannya. Mendengar pertanyaan Hazel, wanita tersebut malah tertawa yang membuat Hazel mengerutkan keningnya bingung.
“Aku sama Akasa udah balikan. Kamu belum tahu? Akasa gak cerita?” tanya Selin yang berhasil membuat Hazel terkejut mendengarnya. Apa benar juga jika mereka akan bertunangan?
__ADS_1
Hazel masih terdiam, ia tak menyangka jika akhirnya Akasa yang ia pikir sudah berubah justru kini kembali menyakitinya. Senyuman getir terlihat di wajah tersebut sebelum senyuman lebar yang menggantikannya.
“Serius? Akasa gak ada cerita sih,” ucap Hazel berusaha menutupi rasa sakit yang ia rasakan. Apa selama ini ia hanyalah sebuah permainan dalam kisah laki-laki tersebut? Apa ia hanya cinta sendiri dan hanya dirinya yang terjebak dalam permainan ini?
“Iya, udah sekitar dua bulan lalu,” ucap Selin dengan senyuman lebarnya. Hati Hazel benar-benar terluka mendengar pernyataan tersebut. Ternyata selama ini ia hanyalah gadis bodoh yang hanya bisa menerima segala kesalahan yang Akasa lakukan. Memaafkannya berulang kali namun setelahnya kembali dihancurkan.
“Kalian juga mau tunangan?” tanya Hazel memberanikan dirinya untuk bertanya hal tersebut pada Selin. Hazel seolah sudah siap mendengar jawaban wanita tersebut.
“Tunangan? Bahkan sampai sekarang kita belum direstuin sama keluarga Akasa. Kita masih kayak dulu yang hubungannya di sembunyikan. Hubungan kita udah terlalu jauh, kita udah kayak suami istri. Dia yang datang ke aku kalau lagi butuh tapi untuk kedepannya kita juga gak tau,” ucap Selin dengan senyuman getirnya.
“Butuh?” tanya Hazel dengan menaikkan sebelah alisnya. Jujur saja kini Hazel sedikit lega karena ternyata mereka tak akan bertunangan. Jika mereka hanya balikan Hazel masih bisa bersikap seolah ia tak mengetahui apapun dan mengambil Akasa dari Selin. Katakan saja Hazel begitu bodoh namun Hazel tak bisa jika ia hanya dimanfaatkan oleh Akasa tanpa diberi sebuah kepastian.
“Ya, dia sering dateng ke aku kalau lagi butuh uang ataupun butuh pemuas nafsu. Jujur aja, aku iri sama kamu Zel. Kamu selalu dijaga sedangkan aku hanya diambil butuhnya, bagi kamu mungkin Akasa orang yang loyal sedangkan bagi aku dia hanya tau menghabiskan uang ku, dia orang yang kasar kalau sama aku. Tapi aku gak bisa lepasin dia gitu aja Zel, karena aku udah cinta banget sama dia,” ucap Selin dengan senyuman getirnya. Hazel tentu saja terkejut mendengar ucapan Selin tentang Akasa. Ia tak menyangka jika Akasa adalah orang seperti itu. Tapi entah mengapa ia malah senang mendengarnya. Mendengar jiak cara Akasa memperlakukannya lebih baik dari laki-laki itu memperlakukan Selin. Salahkan Hazel jika harus berbahagia di atas penderitaan Selin?
Selin melihat jam yang melingkar di tangannya dan ternyata jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih.
“Sorry ya, gue duluan. Udah malem,” ucap Hazel yang setelahnya segera pergi sambil membawa sisa makanan dan minumannya. Hazel berjalan di trotoar sambil memakan makannya. Namun saat sampai di gang kompleks perumahannya kini Hazel malah berbelok ke gang yang bukan gang rumahnya melainkan gang rumah Akasa.
Ya, tujuannya kali ini adalah rumah Akasa. Ia ingin menemui Akasa dan mencari tahu kebenarannya. Namun saat sampai di depan rumah Akasa. Hazel mengerutkan keningnya bingung melihat jika rumah tersebut masih ramai.
Hazel segera berjalan ke arah pos satpam yang ternyata kosong. Akhirnya Hazel memilih untuk memakan makanannya di sana sambil menghabiskan makannya baru setelahnya ia berniat untuk masuk.
“Non Hazel, ngapain di sini non?” tanya seorang satpam yang kini berdiri di depan Hazel.
“Mau ke Akasa Pak. Tapi mau abisin ini dulu,” ucap Hazel dengan cengirannya. Satpam tersebut kini malah menatap Hazel dengan tatapan iba dan itu membuat Hazel bingung. Apa kini penampilannya sudah seperti pengemis hingga satpam saja menatapnya dengan kasihan.
__ADS_1
“Kenapa sih pak?” tanya Hazel yang sudah mulai risih dengan tatapan satpam tersebut.
“Nah itu ada Non Rima. Tanya ke Non Rima aja Non,” ucap satpam tersebut yang membuat Hazel kini semakin penasaran. Melihat Rima yang akhirnya keluar dengan membawa sebuah buket untuk di letakkan di dalam mobil. Hazel dengan segera menghampirinya. Dan ternyata dapat Hazel lihat di dalam mobil tersebut sudah terdapat begitu banyak hantaran pertunangan. Pikiran Hazel kini mulai kacau melihat hal tersebut.
“Siapa yang lamaran Mbak?” tanya Hazel dengan susah payah untuk menampilkan senyumnya. Melihat kehadiran Hazel Rima sedikit terkejut dan terlihat panik.
“Akasa, Dek,” jawab Rima yang kali ini benar-benar membuat Hazel membeku mendengarnya. Hatinya kini seolah siap untuk menangis namun ia masih berusaha menahannya dan menggantinya dengan sebuah senyuman.
***
Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.
Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.
Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath
See you next chapter guys.
Thank for Reading.
Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.
Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita temen aku ini ya. Tapi jangan lupa balik lagi ya.
__ADS_1