Anyelir

Anyelir
Peppermint


__ADS_3

Fyi "Peppermint memiliki arti kehangatan perasaan"


***


“Makasih untuk hari ini,” ucap Hazel dengan senyumannya yang mengembang pada laki-laki yang kini duduk di sebelahnya.


“Justru aku yang harusnya bilang makasih ke kamu. Makasih udah mau nemenin aku jalan dan masih mau ketemu sama aku,” ucap Argo dengan senyumannya. Hazel melebarkan senyumnya walau hatinya kini sedikit terluka mendengar ucapan laki-laki tersebut.


Argo dan Akasa, kedua laki-laki tersebut bagai memiliki posisi sendiri untuk Hazel. Hazel menginginkan mereka terlepas dari apapun yang telah mereka lakukan pada Hazel. Namun Hazel kini cukup sadar diri jika Argo adalah suami orang lain dan ia tak ingin merusak hubungan rumah tangga Argo.


“Aku pengen kita baik-baik aja. Meskipun kita udah gak bisa buat bersama sebagai pasangan kekasih, aku mau kita kita bersama sebagai seorang teman,” ucap Hazel dengan tulus. Walaupun ia juga masih tak tahu, bisakah ia bersahabat dengan laki-laki yang dicintainya? Apakah ia akan baik-baik saja nantinya? Bahkan setelah lama tak berhubungan dan tidak pernah bertemu luka, rindu, dan cinta itu masih ada meskipun hanya tersisa sedikit.


“Ya. Kita bisa jadi teman. Sampai sekarang kamu masih jadi tempat cerita ternyaman aku. Meskipun aku sama dia udah nikah tapi aku ngerasa kurang nyaman buat cerita ke dia kayak aku cerita ke kamu. Kamu adalah bahu ternyaman juga telinga terbaik sebagai pendengar, juga penasihat terbaik sebagai guru,” ucap Argo yang kini mampu membuat Hazel merasa terbang mendengar ucapan Argo tersebut namun saat sudah di atas ia terbayang pernikahan laki-laki tersebut yang seolah menamparnya dan mengembalikan ia lagi ke daratan.


“Makasih buat semuanya. Mungkin ini udah jalan dan takdir kita,” ucap Hazel menatap dalam pada Argo yang kini menundukkan kepalanya sambil menganggukkan kepalanya.


“Makasih udah maafin kesalahan aku. Kamu emang bener-bener orang yang baik Zel,” ucap Argo tulus. Bahkan jika bisa ia ingin memiliki gadis tersebut lagi namun takdir dan semesta seolah menentangnya.


“Pelukan perpisahan? Besok aku udah harus balik ke Kanada,” ucap Argo yang membuat Hazel terkekeh lalu memeluk laki-laki tersebut begitu erat. Pelukan nyaman yang dulu selalu ia dapatkan. Tak lama Hazel melepaskan pelukan mereka.


“Kalau gitu aku masuk dulu,” pamit Hazel pada Argo yang menjawabnya dengan anggukan.


“Kamu yakin gak mau masuk?” tanya Hazel pada Argo yang menggelengkan kepalanya.


“Aku masih malu sama mama kamu. Masuk sana, udah sore. Nanti dikira aku nyulik kamu lagi gak di kembali-kembaliin,” ucap Argo dengan candaannya untuk mencairkan suasana. Hazel hanya terkekeh lalu segera membuka seat blitz nya dan segera keluar dari mobil Hazel.


Argo membuka jendela mobil nya. Membuat Hazel mendekat ke arah laki-laki tersebut. Argo mengerutkan keningnya bingung melihat hal tersebut.


“Mau aku anter ke Bandara besok?” tawar Hazel pada Argo yang dibalas dengan gelengan oleh laki-laki tersebut.


“Aku berangkat subuh. Jadi gak usah diantar. Lain kali aku datang lagi kamu harus jemput di bandara,” ucap Argo yang membuat Hazel terkekeh mendengarnya sambil menganggukkan kepalanya dan mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


“Kalau gitu aku pergi dulu ya,” ucap Argo yang Hazel balas dengan anggukan sambil melambaikan tangannya.


“Hati-hati,” ucap Hazel. Setelahnya Argo segera melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Hazel.


Sepeninggalan Argo. Hazel segera masuk ke rumahnya. Namun saat sampai di depan rumahnya Hazel cukup dibuat terkejut dengan keberadaan Akasa yang kini sudah duduk di kursi depan terasnya. Laki-laki tersebut kini sudah menyilangkan kakinya sambil bersedekap dada.


Hazel meneguk salivanya susah payah. Kini ia seperti orang yang tertangkap basah tengah berselingkuh oleh mantan kekasihnya.


“Jalan sama siapa? Mantan?” tanya Akasa dengan begitu sinis nya pada Hazel. Hazel menghembuskan nafasnya kasar lalu segera duduk di samping Akasa yang kini sepertinya tengah marah padanya tersebut.


“Iya. Sama Argo,” ucap Hazel jujur. Gadis tersebut bahkan kini terdengar begitu santai mengatakannya.


“Pantes ponselnya sampai di matiin,” ucap Akasa yang sontak membuat Hazel memelotot lalu segera memeriksa ponselnya dan benar saja ternyata ponselnya mati.


“Mati Sa, kayaknya emang batrenya abis,” ucap Hazel menjelaskan yang membuat Akasa mengalihkan tatapan ke arah lain.


“Aku cuma nemenin Argo aja. Tadi pagi dia ke kampus dan jemput aku. Dia lagi ada kerjaan di sini jadi ya sekalian aja aku temenin,” ucap Hazel menjelaskan yang membuat Akasa kini sontak menoleh ke arah Hazel dengan wajah datarnya.


“Kemana aja sama dia?” tanya Akasa pada Hazel yang kini malah menatap Akasa dengan tatapan menggodanya.


“Mengenang masa lalu,” ucap Hazel dengan tawanya yang malah membuat Akasa kini menatap datar pada Hazel yang masih saja meledakkan tawanya. Apalagi melihat ekspresi Akasa yang menurut Hazel begitu lucu saat marah. Sebuah hiburan tersendiri untuk Hazel.


“Kenapa gak sekalian balikan aja?” tanya Akasa dengan begitu sinisnya yang membuat Hazel malah tertawa mendengarnya.


“Nanti kamu nangis lagi kalau aku jadian sama Argo,” ucap Hazel menggoda Akasa yang kini hanya menampilkan wajah datarnya pada Hazel.


“Udah jangan ngambek lagi. Ambekan banget sih,” ucap Hazel sambil menarik pipi tirus Akasa yang malah membuat Akasa mengalihkan tatapannya.


“Maaf ya aku lupa ngehubungin kamu dulu,” ucap Hazel lagi karena Akasa masih saja tak membuka suaranya. Akasa menghembuskan nafasnya kasar lalu menatap Hazel serius.


“Lain kali jangan di ulangi lagi,” ucap Akasa yang Hazel balas dengan anggukan.

__ADS_1


“Tentang Argo dan Istrinya kayaknya aku harus ngomong sama Bang Tara,” ucap Hazel dengan helaan nafasnya kala mengingat tentang Argo juga istri laki-laki tersebut. Akasa yang tak mengerti mengerutkan keningnya bingung.


“Emang Bang Tara kenapa?” tanya Akasa dengan seriusnya pada Hazel. Kini Hazel mengubah posisinya agar saling berhadapan dengan Akasa.


“Bang Tara buat Argo sampai masuk rumah sakit. Dan juga buat istri Argo sampai lumpuh dan sekarang gak kuliah lagi. Aku bener-bener gak nyangka Bang Tara bisa bertindak sejauh itu,” ucap Hazel yang mampu membuat Akasa terkejut mendengarnya.


Akasa tak menyangka jika Tara adalah orang yang begitu sadis dan tidak pandang bulu dalam memberikan perhitungan pada orang lain.


“Aku tak tau Bang Tara sekejam itu,” ucap Akasa takjub. Ia merasa memiliki partner sekarang.


“Mangkanya jangan macem-macem. Dia sindikat pembunuh bayaran,” ucap Hazel yang tentu saja hanya bercanda namun Hazel mengatakannya dengan begitu serius.


“Serius?” tanya Akasa  yang sudah akan percaya dengan ucapan tersebut.


“Ya bercanda lah,” ucap Hazel yang setelahnya langsung meledakkan tawanya sedangkan Akasa hanya bisa menggeleng mendengar jawaban dari gadis di sampingnya tersebut.


***


Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.


Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.


Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath


See you next chapter guys.


Thank for Reading.


Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.


Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita temen aku ini ya. Tapi jangan lupa balik lagi ya.

__ADS_1



__ADS_2