Anyelir

Anyelir
Bayangan Anyelir


__ADS_3

pagi ini Rico berangkat ke kantor dengan semangat, sampai di kantor ia mulai membuka email, ada beberapa email yang masuk.


Ia melihat kembali notif yang beberapa bulan yang lalu ia simpan, ia telusuri satu persatu, ada satu notif yang membuatnya tertarik.


Beberapa bulan yang lalu Rico sudah menyimpan pemberitahuan ini.


Salah satu perusahaan di Tangerang akan melepaskan empat puluh persen sahamnya, disitu juga tertulis juga nomor teleponya.


" Pak Hasan, tolong hubungi perusahaan yang ada di Tangerang ini nomor telepon sudah ada, kita ikut lelang dijualnya empat puluh persen saham, nanti nomornya Pak Hasan ambil ke ruang saya".


" Baik Pak saya segera ke ruang bapak".


Pak Hasan datang ke ruang Rico, seperti biasa beliau mengetuk pintu.


" Masuk Pak Hasan, Silahkan duduk ".


" Bagaimana Pak Rico?"


" Tolong Pak Hasan hubungi nomor ini, kita akan ikut beli saham, kalau bisa kita ambil semuanya empat puluh persen, ini nomor teleponya...


Oh ya satu lagi, kita jangan mengatas namakan Asmoro, kita gunakan usaha kerajinan gerabah yang ada di Jogja saja, 'Griya Anyelir'".


" Baik Pak".


Sore ini, Rico sengaja pulang agak sorean, ia sengaja ingin menghirup udara di luar kota Jakarta.


Mobil ia jalankan pelan menuju ke arah pinggiran, sampai tak sadar Rico menujunke arah Tangerang, dia mengendarai mobil dengan santai sambil mendengarkan musik dan ikut bersenandung.


Saat sampai di jalan satu arah dan apesnya nggak boleh berhenti, Rico melihat sekelompok wanita yabg kelihatanya pulang kerja, memang jam ditangannya menunjukkan hampir pukul empat.


Rico memandang sekilas, sampai tiba- tiba pandangannya terpaku pada salah satu wanita tercantik diantara kumpulan perempuan yang sedang berjalan.


Rambutnya yang terurai dan berkibar ditiup angin, dengan perut menonjol dan sedikit berisi. Senyumnya tampak lepas dan bertambah cantik.


"Anya", tanpa sadar Rico memanggil wanita yang sangat ia cintai dan rindukan.


Rico sedang mencari tempat untuk memarkir mobilnya, tapi ini satu jalur dan tak ada tempat untuknya bisa parkir, Rico hampir putus asa, sampai ia menemukan perempatan jalan, yang bisa membuat mobilnya membelok ke arah Anya berada.


Rico segera membalikkan mobilnya, matanya mencari- cari sosok wanita cantik yang sangat dirindukannya.


Dengan perut sedikit membuncit. Perut membuncit ? Anya ? Anyaku sedang hamil. Yang di dalam perut Anya pasti anakku


Rico menemukan kumpulan perempuan yang sedang berjalan, tapi ia tak menemukan sosok Anya.


Rico segera memarkirkan mobilnya di bahu jalan.


Biar saja ditilang atau diderek mobilnya, ia tak.peduli, yang penting ia menemukan Anya.


Rico menyeberang ke jalan sebelah dan menerobos taman di sepanjang jalan sebagai pembatas dua jalur.

__ADS_1


Tapi wanita yang dicarinya sudah menghilang, sementara sekumpulan perempuan yang bareng dengan Anya tadi sudah tak ada.


Rico bagai orang linglung, ia mencari bolak balik di sekitaran jalan dimana tadi Anya sedang berjalan, tapi yang ia temukan hanya orang-orang yang tak dikenalnya.


Rico terduduk lemas di trotoar jalan, ia hampir menangis karena tak bisa menemukan Anya.


Rico dalam kondisi seperti itu sampai malam menjelang, sepertinya hari ini dia memang tidak bisa menemukan Anya, tapi ia berjanji besok akan kembali ke sini lagi di pagi hari.


Rico menyeberang jalan lagi dengan lunglai. Untunglah mobilnya masih aman disana. Tidak ditilang ataupun diderek.


Di perjalanan Rico mendapatkan telepon dari Pak Hasan, penandatanganan serah terima saham akan dilaksanakan besok, dan Griya Anyelir mendapatkan keseluruhan saham yang dijual, yaitu empat puluh persen.


Sampai di rumah, Rico bermaksud untuk masuk kamar, tapi dari arah teras samping, Briana menyongsongnya.


" Sayang, aku ingin bicara dengan kamu, sekaligus mama dan papa".?


" Aku capek, aku pingin istirahat besok saja".


" Tapi ini penting ".


Briana lansung menggandeng tangan Rico ke teras samping, disana mama dan papa Rico terlihat sedang bersantai.


Rico sebetulnya sudah muak sekali dengan tingkah Briana yang penuh dengan kepura-puraan, tapi ia ingin melihat, sejauh mana Briana akan membohonginya.


" Pa, Ma !" Sapa Rico


" Baru pulang Ric?"


" Itu Briana katanya mau ngomong sama kita".


Briana memandang mereka sambil tersenyum dan mengangguk-angguk.


" Begini Pa, Ma dan Mas Rico, tadi aku sudah periksa ke dokter, bayiku sehat dan nggak masalah, bayi sehat dan lengkap, kehamilanku berusia tujuh bulan, yang kemarin kita periksa di pinggiran itu, USG-nya salah sayang, ini yang benar, aku periksa dari dokter yang terkenal dengan peralatan canggih".


Rico tak bergeming, dia tetap bermain ponsel.


Sementara papa tampak gembira begitu juga dengan mama. Mereka tampak begitu bahagia.


" Selamat ya sayang, semoga semuanya baik- baik saja, dan lancar sampai kamu melahirkan, akhirnya pa, sebentar lagi kita dapat cucu dari Rico".


Rico memandang mereka, ia kasihan melihat papa dan mamanya tampak begitu bahagia, kalau ia buka bahwa bayi itu bukan bayinya mereka pasti akan bersedih.


Ia akan membawa Anya tepat dihadapan mereka berdua.


" Rico, kamu kok diam saja".


" Ya. Rico suruh ngapain Pa, kalau Rico tahu yang sebenarnya...."


" Apa maksudnya ?"

__ADS_1


Rico memandang Briana dengan muak...


" Aku ke kamar dulu pa ma, aku capek ".


" Nggak makan dulu Ric ?" Tanya mama


"Nggak Ma. dah makan tadi di luar".


Rico melangkahkan kakinya menuju ke kamar, diikuti oleh Briana.


" Mas..., Mas Rico aku ikut, aku mau bicara".


" Jangan macam-macam, kamu pikir aku budak cinta yang percaya begitu saja omongan kamu ?"


" Tapi Mas, ini kan mas tahu sendiri ada buktinya".


Rico tak mempedulikan Briana dia tetap berjalan menuju kamarnya.


Rico masuk ke kamar dan segera menutup pintunya sebelum Briana bisa ikut masuk ke dalam.


" Mas Rico..., Mas... apaan si... aku kan belum selesai bicara, Mas buka pintunya".


Suara Briana terlalu keras, sehingga terdengar sampai ke bawah.


Mama dan papa Rico saling pandang, mereka segera masuk ke dalam kamar.


Yang mereka pikirkan, bahwa Rico memang samasekali tidak mencintai Briana, sehingga mereka lihat Rico bertingkah seperti itu.


Sementara di atas Briana masih memanggil-manggil nama Rico. Dan Rico tak mempedulikannya.


Di dalam, ia senyum-senyum sendiri membayangkan Anya, yang terlihat tampak cantik, walaupun perutnya besar dan pipinya sedikit cabi.


Aku akan mencarimu besok Nya, tak peduli apapun, aku akan berangkat lebih pagi ke Tangerang, kamu tampak begitu cantik Nya, dengan perut yang membawa anak kita berdua.


kamu tunggu disana ya, aku akan menjemputmu. aaah Anya, ternyata selama ini, kita sedekat ini.


Rico tersenyum sendiri sambil berjalan ke kamar mandi, hatinya begitu terasa dipenuhi rasa kebahagiaan, tinggal sedikit lagi ia akan menemukan istri tercintanya.


Ia akan mengerahkan bebrapa orang untuk membantunya mencari Anya, sehingga dia bisa segera ditemukan.


😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚


Bisa ketemu nggak ya Rico dan Anyelir besok,


Bantuin jawabanya ya readers?


Terus Briana enaknya diapain nih?


Bantu masukanya ya read dengan koment, jangan lupa like n votenya banyakin dooong

__ADS_1


Saraaaang 😘😘


eh mau ditambah satu episode lagi nggak hari ini ?


__ADS_2