Anyelir

Anyelir
Kesadisan Rachel


__ADS_3

Kepergian Anya dan Rico tidak terlepas dari pengamatan Rachel. Beberapa hari ini ia mendidih mendengar Anya pergi ke Belanda dan Rico menyusul ke Belanda.


Ada kesumat yang menguasai hati Rachel. Kebencianya sudah sampai di ubun-ubun. Seminggu yang lalu peringatanya ternyata tak ada gunannya.


Seolah Anya meledeknya bisa membawa Rico sampai ke Belanda. Menurut informasi yang ia dapatkan Anya akan pulang dari Belanda hari ini.


Ada banyak rencana jahat yang tersusun dalam otaknya. Orang miskin itu tidak boleh merebut miliknya. Rico itu adalah miliknya, orang lain tidak boleh menginginkannya.


Hal apa yang paling bisa ia lakukan saat ini, supaya Anya tidak mendekati Rico lagi.


Sampai di rumah Anya membagikan oleh-oleh untuk tetangganya dari ibunya, berupa stroopwafel dan coklat belanda.


Saat Anya mulai beristirahat karena dia merasa lelah perjalanan panjang, ada yabg mengetuk pintu rumahnya.


Didepan pintunya Rachel tampak berdiri sambil berkacak pinggang. Ia didampingi beberapa orang yang berbadan besar dan berwajah sangar.


Itu sudah cukup membuat Anya ketakutan. Sebab memang Anya tidak pernah berhadapan langsung dengan hal-hal yang berhubungan dengan kekerasan.


Sebelum Anya mempersilahkan masuk, Rebecha sudah masuk sambil mendorong Anya dengan tangan sebelah kirinya.


" Duduk kamu sun.... !!!" Kata-kata kasar keluar dari mulut Rachel memanggil dengan sebutan wanita nakal kepada Anya.


Anya sebenarnya takut sangat takut malah, Tapi Ia menutupi dengan keberanian yang tersisa.


" Mau apa kamu kesini ?"


" Dasar ...... busuk, kamu nggak merasa bersalah?!!"


" Apa maksud kamu ?"


"Dasar ..... tak tahu diri, kamu pikir aku tidak tahu Kamu dan Rico ke Belanda ?"


" Sekali lagi kamu macam-macam, aku bunuh kamu, kamu pikir aku tidak bisa nekat ?"


" Aku tidak mengajak Rico. Rico yang menyusul aku ke Belanda, kamu boleh bertanya ke Rico"


" Kamu pikir aku percaya ? ...... macam kamu biasa jual tubuh supaya bisa kaya!!"


" Jangan sembarangan panggil...... " plaaaak !!!


pukulan yang sangat keras melayang di pipi Anya sebelum Anya menyelesaikan kalimatnya.


Dan pukulan itu ia ulang sampai membabi buta membuat kedua pengawal Rachel melepaskan pukulan Rachel supaya tidak sampai membunuh Anya.


Tapi hal tersebut sudah cukup membuat Anya trauma. Dia sangat ketakutan. Seumur hidupnya baru sekali ini mengalami peristiwa setraumatis ini.

__ADS_1


" Dengar !!! kalau sampai kamu mendekati Rico lagi, aku akan bunuh kamu, aku kejar ibu kamu yang ada di Belanda, akan aku cincang-cincang tubuhnya dan kubuang biar jadi makanan anjing!!!".


Ketakutan Anya semakin menjadi-jadi. Sementara Rachel keluar dari rumah Anya dengan muka yang datar seolah tidak terjadi apa-apa. Benar-benar menakutkan menurut Anya.


Dia pasti tidak bermain-main dengan ancamannya, melihat tanpa ekspresi dia memukulinya sampai luka parah di wajah.


Anya menangis sesenggukan di lantai, sendirian, dia merasa sedih. Dia tidak mau kehilangan Rico tapi dia lebih tidak mau kehilangan Ibunya.


Ingatan akan hal itu membuat Anya semakin menangis sesenggukan. Bahkan beberapa kali Rico menelponnya tidak ia angkat.


Mulutnya terasa sakit saat ia buka, ia ingin sekali memghubungi ibunya, dan menyusulnya kesana lagi, ia tidak mau bertemu denga Rico. Ia sangat ketakutan.


Anya bangkit dari lantai untuk mengunci pintu. Ia takut wanita itu kembali lagi ke rumahnya.


Rico beberapa kali menghubungi Anya dan tidak diangkat, tapi dia maklumi mungkin Anya masih capek dan sedang istirahat.


Dia berfikir biarlah Anya beristirahat, besok ia akan menjemput Anya untuk berangkat kerja bersama, walaupun ia tak yakin Anya akan mau bareng ke kantor denganya.


Mengingat itu Rico tersenyum tipis sambil memeriksa berkas-berkas yang harus dia tanda tangani.


Sementara di rumah, dengan sisa-sisa tenaganya, dia berusaha menghubungi ayah tirinya Pak Bowo.


Beberapa lama mereka ngobrol dan dengan susah payah Anya bicara, akhirnya tuntas juga apa yang ingin ia sampaikan pada ayah tirinya.


Sampai di rumah Anya dia mengetuk pintu berkali-kali, seperti tak ada kehidupan dari dalam rumah.


Dia bertanya pada tetangga Anya, jawabanya sama, tidak tahu, kemaren baru bagi-bagi oleh-oleh dari Belanda.


Rico berusaha menghubungi ponsel Anya, tidak aktif. Ia lakukan itu berulang-ulang dan memang nomor Anya sudah tak aktif lagi.


Rico memutuskan untuk berangkat ke kantor. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih. Ia tak habis fikir kenapa Anya sulit dihubungi, atau mungkin Anya sudah ada di kantor.


Sampai di kantor Rico melihat ke meja kerja Anya masih kosong. Dia menghubungi lagi Anya lewat ponselnya, dan masih sama, tidak aktif.


Pak Hasan mengetuk pintu, Rico mempersilahkan masuk.


"Silahkan duduk Pak Hasan"


" Maaf Pak Rico, saya mengantar surat pengunduran diri Mbak Anya, tadi pagi lewat email"


Rico kaget, dia segera membuka surat yang diserahkan Pak Hasan.


Betul saja, dalam surat terbaca Anya mengundurkan diri. Rico langsung terdududuk lemas.


Ada apa ini?, kenapa tiba-tiba Anya meninggalkannya lagi.

__ADS_1


" Pak Rico tidak apa-apa?" Pak Hasan mendekat ke arah Rico.


Pertanyaan Pak Hasan tidak dijawab oleh Rico, justru Rico yang bertanya balik


"Jam berapa email dikirim Pak Hasan?"


"Waktunya semalam pak, dari nomor ponsel Mbak Anya"


" Baik Pak Hasan terima kasih"


Apa lagi ini Anya, kemaren kita baru mereguk kemesraan bersama, sekarang kenapa jadi begini. Justru sekarang kamu menghilang, dan tak tahu akan kembali atau tidak.


Rico segera mengambil jas yang ia letakkan di kursinya, segera memakai dan berlari ke arah keluar . Kali ini dia benar-benar panik. Dia tidak hiraukan bagaimana semua mata di kantor melihat kelakuanya.


Tak ada selamat tinggal. Tak tahu kenapa. Dan tak tahu kemana.


Sekali lagi Rico mengetuk pintu rumah Anya. Lengang, tak ada sahutan. Rico menghubungi nomor Anya lagi, tetap tidak aktif.


Rico kalut, ia hampir frustasi. Ia berusaha menenangkan diri. Dan selanjutnya menghubungi Dimas.


"Dim, Anya ada di Belanda?" Tanpa basa basi dia langsung bertanya pada Dimas.


" Loh, bukannya dia sudah balik ke Indonesia?"


Mendengar dari nada bicaranya Dimas kelihatanya memang tidak tahu apa-apa.


"Oke Dim, thanks gue kira dia belum balik"


Aneh. pikir Dimas. Bukanya Anya sudah pulang ke Indonesia.


Dimas langsung menghubungi ayahnya.


"Hallo Dim, ada apa?" Tanya ayah.


" Yah, barusan Rico menghubungi aku, menanyakan Anya, memang Anya masih di Amsterdam".


" Dia sudah pulang ke Indonesia Dim, tapi ada sesuatu yang ingin ayah obrolin sama kamu, kamu ada waktu kapan?"


" Nanti aku jam 12 siang cek lokasi, setelahnya free, aku ke Amsterdam boleh kalau cek lokasi sudah selesai"


"Oke Dim, kita ketemu di di RM Sampurna, nanti aku reservasi jam tiga"


"Baik yah".


Pak Bowo dan Dimas ngobrol serius di sudut rumah makan sampurna. Terlihat jelas, kegeraman di wajah Dimas, beberapa kali Pak Bowo harus menenangkan Dimas.

__ADS_1


__ADS_2