
Setelah papa dan mama Rico keluar kamar, rasa penasaran Anya tidak pula hilang, ia menanyakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
" Pak Rico, sebetulnya apa yang terjadi, aku yakin kalian menyimpan sesuatu dariku ?".
Rico bingung dari mana ia harus menjelaskan pada Anya, sebab hal inipun sangat berat baginya.
" Sayaaang, apapun yang terjadi aku tetap memcintaimu, apapun yang terjadi aku tidak akan berpaling darimu, itu yang harus kamu yakini"
Anya semakin kebingungan, sebetulnya apa yang terjadi.
" Ya, tapi ada apa, kenapa kalian semua sedih ?"
Rico memandang Anya lama, bahkan terlihat dia sedang menahan air matanya untuk tidak jatuh keluar, Anya melihat itu.
" Pak Rico please ". Tampak Anya memohon penjelasan pada Rico.
" Sayang .... " Rico berhenti lama, rasanya ia tak sanggup melanjutkan bicaranya, tapi melihat mata Anya yang memohon dia terpaksa harus menjelaskan.
" Kamu keguguran, kamu mengandung dua minggu, calon bayi kita meninggal".
Rico rasanya tidak bisa melanjutkan berita selanjutnya, sebab ini akan lebih melukai hati Anya.
Ia juga melihat Anya sudah menangis sesenggukan.
Rico rengkuh badan Anya, Ia harus ada disisi istrinya di saat seperti ini. Mereka kehilangan sesuatu yang mereka sama-sama harapkan.
Anya tiba-tiba melepas pelukan Rico, ia izin Rico untuk ke kamar mandi. Ia memutar shower dengan tekanan yang keras, supaya tangisanya tidak terdengar dari luar. Tapi Rico masih mendengar suara tangis Anya yang dipenuhi dengan kesedihan.
Rico menuju ke jendela kamar, hujan tampak turun, seakan turut bersedih dengan keadaan mereka.
Rico pun, memandang keluar, sambil menangis sesenggukan.
Bukan tanpa alasan, Rico memangis, selain harus kehilangan bayinya, Anya terancam tidak bisa hamil lagi, karena kondisi kandunganya yang ternyata lemah.
Rico tidak tahu, bagaimana caranya menjelaskan hal tersebut pada Anya.
Sedangkan kehilangan anak saja cukup membuatnya terpukul, apalagi bila mendengarkan bila ia tak bisa hamil lagi, dia pasti akan semakin terpukul.
Dia sangat mencintai wanitanya tersebut, apapun yang terjadi dia tidak akan meninggalkan Anya.
Anya sudah melewati saat-saat sulit kala berpacaran dengan Rico, dia tak akan begitu saja meninggalkan Anya.
__ADS_1
Rico berusaha, menguasai diri, ia segera menghentikan tangisanya, dia harus jauh lebih kuat dibanding Anya.
Ia mendekati kamar mandi.
" Sayaaaang, keluar jangan di dalam terus, aku masih disini, keluar sayang".
Terdengar suara shower dimatikan, dan gemericik air. Tak lama kemudian pintu kamar mandi dibuka.
Anya tampak keluar dengan wajah yang sembab, tapi dia kelihatan menguatkan diri.
Dengan suara bindeng karena habis menangis Anya bertanya pada Rico,
" Sayang sudah makan ?"
Rico tersenyum, ia mencium ubun-ubun Anya dan memeluknya.
" Aku seneng kamu oanggil aku sayang, jangan cuma aku saja yang romantic".
Anya tersenyum sambil memandang Rico.
" Kita makan ?"
" Oke ayuk, memang kamu kuat jalan ke bawah ? atau aku ambilkan kamu makanan aja ya?"
Tak ada yang tak sedih kehilangan anak, begitu juga dengan Anya, dia berusaha menabahkan diri dan berusaha kuat, supaya orang-orang yang menyayanginya tidak ikut merasa sedih.
Mereka turun, ternyata papa dan mama, baru selesai makan.
Mama segera menjemput anak mantunya untuk dituntun,
" Sini sayang, sama mama, mama temenin makan ya, kamu harus makan banyak supaya cepet sehat".
Sementara papa Broto hanya memperhatikan saja, sambil tersenyum.
" Kamu nggak boleh sedih Anya, Tuhan pasti punya rencana indah untyk kita, kamu nggak sendiri, kami tetap mendukungmu, papa, mama, Rico, semua mendukungmu, udah makan yang banyak"
Anya memandang papa mertuanya,
" Terima kasih pa, ma".
Pak Broto meninggalkan Anya bersama istri dan anaknya. Baliau menuju ke ruang kerjanya.
__ADS_1
Disana beliau merenung, bagaimana bila Anya tak bisa hamil lagi, sedang dia harus punya keturunan, tidak boleh tidak.
Rico sehat, dia pasti punya anak tapi kalau istrinya mandul, bagaimana Rico akan memeberikan cucu padanya.
Padahal cucu sangat penting untuk penerus hidupnya.
Mama menyusul papa yang ada di ruang kerja.
" Lagi ngapain pa ?"
" Nggak, nggak ada apa-apa".
" Bohong !!, tadi mama liat papa sempet ngasih pandangan misterius ke Anya, kenapa ?"
Papa menarik nafas dalam.
" Rico harus punya anak Ma",
Seketika ruang senyap.
" Jangan mikir itu dulu pa, kasihan mereka kan baru dapat musibah".
" Ya tapi kamu kan dengar sendiri apa kata dokter, kalau kandungan Anya lemah, bahkan bisa tidak punya anak".
" Tapi kan bukan tidak mungkin paaa, bila Tuhan berkehendak pastilah Anya bisa hamil, udah deeh jangan mikir itu dulu, mungkin ada cara lain yang bisa bikin Anya hamil, teknologi kedokteran sekarang kan sudah luar biasa".
" Yaaa, baiklah kita tunggu sampai satu tahun ke depan, kalau sampai Anya nggak bisa hamil juga setidaknya kita sudah ada rencana".
" Ya gimana nanti ajalah, sekarang yang penting Anya sehat dulu, jangan bicarain itu dulu pamali".
"Sebetulnya aku nggak mau ngomongin itu juga ma , cuma aku khawatir. Bagaimana kehidupan mereka berdua di masa tua tanpa anak, siapa yang akan merawat mereka, aku juga pungin punya cucu dari Rico ma".
" Papa !!, sudah deeh jangan gitu, nanti pasti ada jalan, ilmu kedokteran sudah canggih, kita pasti bisa mengusahakan".
" Ya semoga saja bener apa yang mama katakan", jawab Pak Broto dengan nada pesimis.
" Udah ah kita bahas yang lain saja, biarkan mereka menata hati dulu, kita harus dukung, mereka sedang sedih".
Pak Broto hanya menjawab ucapan mamanya Rico dengan menganggukkan kepala.
__ADS_1
Bantu kasih vote, like n koment kakak, biar author makin semangat nulisnya, makasiiiiih 😘😘😘