
Tak lama, terdengar suara Rico keluar dari ruang kerjanya dengan tergesa-gesa
" Pak Saliiim, siapkan mobil, papa pingsan, segera kita bawa ke Rumah Sakit!!"
Pak Salim segera berlari ke luar, sementara pesuruh dan asisten yang lain, segera menuju ke ruang kerja untuk menggotong Pak Broto bersama-sama.
Mama mertua Anya menangis sesenggukan didampingi oleh Anya, mereka bersama-sama mengantar Pak Broto ke rumah sakit.
Pak Broto tampak lemas, dalam perjalanan Bu Broto memanggil-manggil nama suaminya, tapi tak ada respon.
" Mama tenang ya, sabar ", hibur Anya, walaupun hatinya sendiri tambah sakit.
"Papa memang sakit Nya, tapi selama ini nggak pernah kumat, baru kali ini".
Deg. Sekali lagi, hati Anya terasa perih, periiiih sekali.
Anya akan ikut sepenuhnya dengan kemauan papa mertuannya apapun itu, walaupun tadi tidak mendengarkan sepenuhnya apa pembicaraan mereka, tapi Anya yakin itu ada hubungan denganya yang nggak hamil-hamil.
Pak Broto langsung ditangani, sementara yang lain menunggu di luar dengan cemas.
Sekitar lima belas menit, dokter keluar dari ruang VVIP yang ditempati oleh Pak Broto.
" Bagaimana dokter kondisi papa ?"
" Ya Dok, bagaimana keadaan suami saya?"
" Beliau shok Mas Rico, jadi mempercepat kerja jantungnya, sehingga nafasnya juga ikut tersendat, tapi sudah saya pasang ventilator, kita tunggu saja, sekarang sudah stabil".
Dokter menepuk punggung Rico.
" Silahkan kalau mau lihat kondisi Pak Broto".
" Ya dokter, terima kasih".
Mereka masuk ke dalam ruangan, mama Rico menangis, beliau takut apabila terjadi apa-apa pada suaminya.
Beliau duduk di samping tempat tidur.
Senentara Rico merangkul Anya yang menangis sambil memegangi pundak mama mertuanya.
Dengan lirih Anya berucap,
" Maafkan Anya Pa, maafkan Anya".
__ADS_1
Tangisnya semakin deras, Rico memeluk Anya, dia tidak mau istri tercintanya bertambah sedih.
Hanya pelukan seperti inilah yang bisa menenangkanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Mama masih duduk di samping papa sambil terkantuk-kantuk.
Anya mendekati ibu mertuanya
" Mama, maaa".
" Eh iya Nya, ada apa ?"
" Mama tidur di tempat tidur aja, biar Anya yang nungguin papa".
" Nggak usah Nya nanti kamu capek".
" Anya sudah tidur tadi Ma "
Mama menoleh ke kanan kiri, mencari-cari sesuatu.
" Rico mana Nya?"
" Pulang sebentar Ma, mau ambil baju sama beli makan buat kita, tadi mama belum makan malam kan?"
" Nanti kalau mama sakit siapa yang nungguin papa, udah mama istirahat saja dulu, biar Anya yang nungguin papa".
Mama bisa tidur di saat jam menunjukkan pukul satu dinihari, itupun sebentar-sebentar beliau bangun.
Bersamaan dengan itu, papa terlihat mulai membuka mata, Anya kaget hendak memanggil dokter jaga, ia tak mau pakai telepon yang ada di ruang takut mengganggu mama mertuanya yang sedang tidur.
Saat Anya akan berdiri, tanganya dipegang oleh papa Broto.
Anya berhenti, ia melihat ke arah papa mertuanya.
" Anya sini Nak, papa mau bicara"
Karena masih sangat lemah sehingga suara yang dikeluarkanpun juga masih belum begitu terdengar.
Anya mendekatkan diri ke papa mertuanya.
" Nya, papa mohon maaf akan meminta sesuatu yang berat pada Anya", bicaranya terhenti terlihat beliau sangat kepayahan.
" Sudah kita bicara besok saja Pa, sekarang papa istirahat dulu".
__ADS_1
Pak Broto menggelengkan kepalanya.
" Nggak.... aku harus bicara sekarang".
Berhenti sebentar.
" Anya, izinkan Rico untuk menikah lagi, papa ingin sebelum meninggal, melihat cucu dari Rico", nafasnya mulai berat.
Sementara airmata Anya mulai berjatuhan, ia sedih, kenapa nasibnya menjadi seperti ini.
" Tolong papa Nya, setujulah ... Papa minta tolong Nya, papa juga sedih harus ngomong seperti ini, tapi papa pingin menimang cucu, di saat-saat terakhir papa".
Luar biasa apa yang dikatakan papa mertuanya bagaikan palu godam yang bertubi memukul kepalanya dari arah kanan dan kiri secara bergantian.
Anya terduduk di kursi penunggu.
" Anya, tolong jangan bilang ke Rico papa yang nyuruh kamu, papa mohon Nya"
Tampak Pak Broto juga mulai meneteskan air mata. Semakin lama semakin deras.
Anya trenyuh melihat itu, ia mengambil tisyu dan membasuh airmata mertuanya
" Maafkan papa Nya, maaf ".
Anya tersenyum perih memandang mertuanya.
" Sekarang papa istirahat saja, papa bisa tenang, papa nggak usah mikirin apa-apa, Anya panggil dokter dulu ya ?"
Papa mertuanya hanya mengangguk lemah.
Sejatinya, Anya dan Rico sudah mengikuti program bayi tabung, tapi karena dinding rahim Anya tipis, sehingga tidak responsif terhadap perawatan.
Ketika embrio dipindahkan dan dinding rahim tidak memadai, embrio biasanya gagal melakukan implantasi.
Walaupun dengan embrio tipis, Anya masih bisa hamil, baik dengan alamiah maupun dengan proses bayi tabung. Tapi memang harus memiliki kesabaran yang ekstra.
Hal ini tidak mereka bicarakan kepada mama dan papa Rico, mereka takut kedua orang tua itu menjadi kecewa.
Tapi pada kenyataanya sabar adalah faktor utama disini.
Dan Anya sudah memiliki satu tekad untuk hal ini.
πππππππππππππππππ
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kaka like, koment, vote. Biar author makin semangat nulisnya, makasiiih ππππ