
Pak Broto masih mendapatkan perawatan, hari ini adik Rico si Lila yang langsung terbang dari Surabaya, tiba di Jakarta langsung menuju ke Rumah Sakit.
Lila sangat sedih, mendengar papanya yang nggak pernah sakit, harus dirawat karena tekanan.
Saat datang, Lila langsung marah pada Rico.
" Gimana si Kak ? kok papa bisa anfal gitu, memang masalahnya apa, aku dengar kalian bertengkar kan? apa kakak nggak bisa ngalah gitu !?", sambil menangis sesenggukan.
Rico memaklumi kekesalan adiknya, dia hanya diam sambil menunggu adiknya tenang, baru akan ia jelaskan.
" Makanya papa bener kan Kak Anya ?" lanjut Lila.
" Masalah makan, mama yang urus La, Kakakmu cuma bantu-bantu, bukan karena Anya nggak mau, itu mau mama urus papamu selama pensiun, sudah deeeh, jangan melebarkan masalah, kakak-kakak kamu udah bener ngerawat kami".
Sambil memeluk anak kesayanganya yang baru datang.
"Kita berdoa saja, supaya papa nggak apa-apa".
"Biar papa aku yang tungguin, kakak pulang saja istirahat, maaf kalau tadi aku emosi, habis sedih lihat papa tiduran kayak gitu, biasanya cakep dan gagah", ujar Lila ditimpali dengan tangisannya.
Rico dan Anya memeluk Lila.
" Nggak pa pa, kami tahu kamu emosi". jawab Anya.
" Aldo dan keponakan mana ? nggak ikut?.
" Mas Aldo nyusul besok sama anak-anak, aku nggak tenang, jadi aku berangkat duluan".
kami pulang dulu, mama mau ikut pulang ma?"
" Nggak kalian saja, mama nggak tenang ninggalin papa".
" Ya udah kalau gitu, kami pulang dulu".
" Besok gantian sama aku La", ucap Anya.
" Kakak kesini aja, aku mau nungguin papa, aku nggak mau pulang"
" Ya udah terserah kamu", jawab Rico.
__ADS_1
Β
Sampai di rumah karena kecapekan semalaman karena kurang tidur akhirnya mereka tiduran di kamar.
" Sayaaang, aku tahu pembicaraan kalian semalam, yang menyebabkan papa drop".
Rico memandang Anya, diwajahnya tampak terlihat keheranan, siapa yang memberitahu, pikirnya.
Dia meraih tubuh Anya,
" Jangan khawatir, aku nggak akan menuruti maunya papa"
" Papa sakit sayang, sedangkan aku, aku nggak tahu kapan bisa hamil".
" Heeeei, kenapa kamu sepesimis ini ?, kamu pasti bisa".
" Ya tapi kapan, sepuluh tahun lagi ? lima belas tahun lagi".
" Sayang jangan bicara seperti itu !" Ujar Rico agak membentak, karena dia frustasi, kemauan papanya menurutnya tidak masuk akal. Pembicaraan Anya juga lebih tidak masuk akal lagi.
Melihat Anya menyurutkan badan, dan ada air mengambang di mata Anya, Rico merendahkan suaranya.
" Oke, menurutmu apa yang sebaiknya aku lakukan ?".
Seketika suasana hening, baik Rico maupun Anya untuk beberapa saat tak bersuara.
" Menikahlah, seperti kehendak papa" Secara bersamaan air mata mengalir deras di pipi Anya, laksana air yang dibuka dari bendunganya. Sampai pundaknya sedikit berguncang.
" Kamu sadar apa yang kamu katakan Nya, kamu sadar ?!, kenapa kamu menjadi tidak masuk akal seperti ini ?, aku sudah cukup frustasi menghadapi papa, sekarang kamu ikut-ikutan papa, apa-apaan kamu ?"
" Aku menyadari kekuranganku, aku wanita mandul, aku sadar diri, aku tidak mau papa dan mama sedih karena aku. Aku mencintai mereka seperti mereka orang tuaku sendiri".
" Sadar sayang, kamu masih bisa punya anak, dokter-kan sudah bilang".
" Ya, tapi kapan ? aku tidak mau papa membenciku karena ini, aku tidak mau hubungan kami jadi renggang, aku ikhlas sayang aku ikhlas, tolong bantulah aku, supaya rasa tak nyaman di hatiku menjadi berkurang".
Rico meraih tubuh Anya lagi, Rico pun ikut bersedih, sedih yang teramat sangat.
" Entahlah.... terbuat dari apa hatimu sayang, bagaimana kamu mau mengorbankan perasaanmu sejauh ini, untuk orang lain".
__ADS_1
" Bukan untuk orang lain, tapi untuk orang-orang yang aku sayangi".
" Berat sayang, poligami itu berat, mungkin sekarang kamu bisa membujuk aku, tapi bagaimana perasaanmu melihat aku bermesraan dengan wanita lain, siapkah kamu ?"
" Aku harus siap, justru aku tidak siap bila setahun yang akan datang aku tidak juga hamil, sementara mama dan papa semakin tua, plis bantu aku, mengurangi rasa tidak nyamanku di rumah ini".
Walaupun Anya bicara dengan lancar, sejatinya hatinya sangat sakit. Tapi kekuranganyalah yang menyebabkan dia berani berbicara seperti itu pada suaminya.
Rico turut hanyut dengan apa yang dikatakan Anya, Ia tahu betul, walaupun Anya lancar berbicara tapi hatinya sama perih dengan dirinya.
Rico memaklumi apa yang dirasakan oleh Anya, begitupun dengan apa yang dirasakan oleh papanya.
-------------------
Siang ini mereka menjenguk papanya ke rumah sakit. Lila mengabari bahwa papa ingin bicara pada mereka berdua.
Ada perasaan was-was di hati mereka berdua. Bayangan yang tidak baik berseliweran di hati mereka.
Sampai di ruang papa-nya, mereka berdua melihat papa tampak terlihat lemah dan sepuluh tahun lebih tua.
Mata papa sudah terbuka, beliau memanggil Rico dan Anya dengan lambaian tangan yang lemah.
Rico dan Anya mendekat
" Maafka papa Anya Rico, jika papa tak bisa..." Suara papa tersendat-sendat dan berhenti, nafasnya mulai tersengal-sengal.
" Sudah papa. jangan bicara lagi, aku dan Rico sudah menyetujui keinginan papa".
Seketika air mata Anya dan Pak Broto luruh, ada rasa bahagia sekaligus sedih di hati sanubari Pak Broto.
Dia bersyukur memiliki menantu yang baik dan pengertian, di sisi lain hatinya merasa sedih, karena beliau merasa mendzolimi menantunya yan baik ini.
Pak Broto memanggil Anya, beliau mendekap tubuh Anya dalam pelukanya.
" Maafkan papa Nak, maafkan papa, hanya ini satu-satunya jalan"
Mereka yang ada di ruangan ikut larut dalam kesedihan.
Hanya Lila, adik Rico yang bingung melihat ruang yang tiba-tiba penuh tangisan.
__ADS_1
πππππππππππππππ
Jangan lupa tinggalkan jejak kakak, like, koment n vote, makasih ππππ