Anyelir

Anyelir
Briana kecewa


__ADS_3

Sampai di kamar, Anya tidak bicara apa-apa. Dia menyibukkan diri mencari baju untuk Rico, sambil menahan tangisnya supaya tidak keluar.


Sementara Rico duduk di pinggir tempat tidur. Rico tahu benar Anya dalam kondisi sedih, sedang dia sendiri juga sedih.


" Maafkan aku sayang, aku nggak bermaksud nyakiti hatimu, aku nggak tahu bagaimana semalam aku melakukan itu".


Anya diam saja, dia menyibukkan diri memilih baju untuk dikenakan Rico ke kantor.


Rico menghampiri Anya, ia memeluk Anya dari belakang.


" Maaf sayang".


Rico mendengar tangisan pilu Anya walaupun sangat pelan.


" Wajar kalau kalian tidur bersama, kalian kan suami istri, aku harus pahami itu, ya aku memang sedih, tapi seiring dengan waktu aku akan baik-baik saja".


Rico tak bisa berkata-kata, ia juga merasakan kesedihan sama seperti yang dirasakan Anya.


Mereka di dalam kamar sunyi diam tanpa kata, Anya membereskan kamar, sementara Rico mengenakan pakaianya.


" Aku berangkat sayang, kamu antar aku ya..."


" Maaf aku sedikit pusing, bisa berangkat sendiri kan?"


Sebetulnya Rico kecewa, tapi dia paham betul bagaimana suasana hati Anya saat ini.


Rico keluar dengan terlebih dulu mengecup kening Anya.


" Aku berangkat dulu, nanti aku nggak makan malam di rumah, ada metting, mungkin sampai malam".


" Ya", jawab Anya singkat tanpa menoleh ke arah Rico


Rico turun ke bawah sendiri, ada sesuatu yang kosong dan hilang dari hatinya, tidak biasanya perasaanya seperti ini.


Sampai di bawah, Ana sudah menunggunya dengan senyumnya.


" Hati-hati ya sayang"


Sambil mencium pipi Rico kanan dan kiri. Rico laksana robot, dia diam saja sambil mengangguk.


Yang ada dalam fikiran Rico hanya satu, apa yang dipikirkan Anya tentang dirinya.


Setelah keberangkatan Rico, Ana menengok ke atas, ke kamar Anya.


Ia menuju ke kamar Anya, sambil tersenyum. Ia akan menyampaikan kepada Anya, betapa luar biasanya Rico bermain dengannya semalam. Ana mengetuk pintu.


Agak lama, erdengar jawaban dari dalam,


" Masuk !"


Ana masuk ke dalam kamar, Ia lihat tempat tidur dalam kondisi berantakan.


Ana melihat sekeliling penuh keheranan, ia berharap melihat Anya sedang menangis tertelungkup di dalam kamar.


" Kakak, Kak Anya dimana ?"


" Aku di kamar mandi de', sebentar, tadi kirain mbak Siti".


Ana duduk di sofa, dia memandang sekeliling,


Kamar ini sangat besar, beda dengan kamarku, isinya lux, berkelas.


Tak lama, Anya keluar dari kamar mandi, sama dengan dirinya, rambutnya basah.


" Gimana de ?, maaf ya barusan cuci rambut".


" Kakak kan sudah mandi kok mandi lagi"


Anya hanya tersenyum penuh arti.


"Eh maaf belum sempat beresin tempat tidur".


Raut muka Ana tampak jengkel, harapannya tak sesuai dengan kenyataan.


"Memang kakak lagi ngapain, kamar berantakan banget".


" Itu Mas Rico, dasar... " Anya tidak melanjutkan, dia sengaja menggantung kalimatnya sambil tersenyum penuh arti.


Mendengar itu, wajah Ana semakin bete, dia yang ingin pamer malah dia yang dipameri.


Breng... kalian berdua, se... kalian, bisa-bisanya bilang ganti baju, malah ....


Ana merutuk dalam hati.

__ADS_1


Anya melirik ke arah Ana yang duduk di sampingnya.


Maaf de' aku musti bohongi kamu, supaya kamu tak terbiasa suka melihat orang menderita.


" Aku turun dulu kak".


" Eh tadi kamu mau ngapain kesini, kirain mau ngobrol ".


" Nggak jadi kak, nanti aja, aku lupa ada janji sama teman".


" Ooo ya udah, nanti aja kita lanjutkan lagi".


Ana keluar dari kamar Anya dengan wajah yang nggak enak dilihat.


" Mbak Ana ..." sapa mbak Romlah.


Tapi Ana diam saja tak menjawab, justru dia melotot ke mbak Romlah.


Di belakang Anya mengikutinya.


" Kenapa si mbak, itu mbak Ana kok wajahnya manyun?"


Anya tersenyum.


" Dapat pelajaran hidup kali mbak Romlah"


" Oh ya sukur deh kalo gitu".


HP Anya berbunyi, ada telpon dari Rico


" Sayang nanti malam bisa keluar suruh Pak Salim antar ke kantor?"


Anya masih malas berhubungan dengan Rico, masih ada rasa tak rela karena melihat Rico dan Ana berbasah-basahan berdua.


" Jangan nanti malam , aku lagi malas".


Rico menyadari perasaan Anya, sebetulnya dia ingin mengajak Anya jalan-jalan ke luar kota sebentar supaya pikiran fresh, tapi nampaknya Anya belum mood.


" Aku pingin ngajak kamu jalan sayang, kita berdua saja".


" Tapi nggak enak sama de' Ana".


" Nggak enak kenapa ? hari ini kan kita time, kenapa musti mikirin orang lain, Ayolah sayang, makan aja boleh, nonton juga boleh".


Anya kasihan juga melihat Rico memohon seperti itu, bila nggak dengannya, Rico nggak akan seperti itu.


" Oke, aku tunggu, eh jangan bilang kamu janjian sama aku, aku nggak mau diganggu siapapun".


Anya paham apa maksud Rico.


" Baiklah".


Di balik pintu, Ana berusaha mendengarkan percakapan Anya, tapi sampai pipinya nempel di kaca, dia nggak dengar apa-apa.


Akhirnya dia berbalik, secara bersamaan mama mertuanya sedang berjalan menuju ke arahnya, mereka bertabrakan, dan cangkir yang berisi susu coklat panas untuk papa, tumpah ke baju Ana, dan panasnya masuk ke tubuh Ana.


" Aaaaaa panas ma, panas !!auw auw panas"


Mama segera berteriak ke mbak Romlah untuk diambilkan lap, dengan cepat semua sibuk.


Anya yang mendengar suara gelas pecah dan teriakan segera masuk.ke dalam.


" Ada apa Ma?"


" Ini Briana kena tumpahan susu panas papa".


Mama dan asisten perempuan membantu Anya membersihkan kulit terbakar Briana. Dengan sigap Anya mengganti kaos Briana.


Kaos ketat nan sexy terpaksa Anya gunting sebab sulit saat akan dibuka.


Setelah selesai Anya menyuruh Briana untuk istirahat.


Anya keluar dari kamar Briana, ia menelpon Rico.


" Sayang kayaknya kita malam ini nggak bisa keluar".


" Kenapa memang ?"


" Dada Briana terbakar, kena tumpahan susu coklat panas papa".


" Ada-ada saja, sudah kasih obat ?"


" Sudah aku oles salep tadi".

__ADS_1


" Ya udah, nggak ada masalah kan?"


" Tapi aku nggak enak mau keluar, seperti kurang memperhatikan".


"Nanti aku telpon dokter Aldo, biar lihat gimana luka Ana, kamu tetap harus keluar sama aku".


" Tapi ...."


" Nggak ada tapi, malam ini malam kita berdua, nggak perlu banyak pertimbangan, nanti aku telpon mama minta izin ke mama, kamu aku bawa pergi".


Anya menarik nafas dalam.


Jam menunjukkan pukul empat sore, Anya masih ragu untuk pergi.


Mama mendekati Anya.


" Nya tadi Rico telpon mama katanya mau ajak kamu pergi, kok belum berangkat?"


" Nggak enak Ma, Ana sakit".


" Sudah ditangani dokter, nggak pa pa kok, dokter tadi bilang nggak pa pa kan ? yang penting salepnya diolesin terus, dikasih obat dalam juga, jadi nanti lukanya cepat kering, biar nanti mama yang nungguin".


" Makasih Ma, Ya udah Ma, Anya ganti baju dulu".


" Ya sana, hati-hati".


Karena hanya akan makan malam dan nonton film, Anya mengenakan celana jeans dan kaos hitam, dilengkapi dengan sepatu kets.


Anya tampak lima tahun lebih muda.


Sampai dihadapan Rico, Rico tampak takjub melihat istrinya yang terlihat muda dan cantik. Rico menyuruh Pak Salim untuk pulang. Anya akan pulang bareng Rico.


Rico membawa istrinya ke bandara Soekarno Hatta. Anya terbengong-bengong saat Rico mengatakan akan membawanya ke Jogja.


" Tapi aku nggak bawa baju sayang, gimana dong ?"


" Kita beli disana, yuk ".


satu jam dua puluh menit kemudian mereka sampai di jogja, mobil keluarga sudah menunggu di bandara.


Keluarga Rico memang memiliki rumah di Jogja, dan ditunggui oleh sopir dan istrinya dan dua orang lain, yang memiliki tugas masing-masing.


" Bapak gimana Den Rico, sudah sehat".


" Sudah Pak Karwo terimakasih"


" Alhamdulillah sukurlah kalau sudah sehat, Aden dan Mba Anya mau jalan-jalan dulu atau pulang ke rumah ?"


" Jalan- jalan dulu boleh Pak Karwo" jawab Anya.


" Siap mbak"


Mereka menikmati suasana Malioboro yang saat itu ramai wisatawan dalam negeri, Anya dan Rico duduk di pinggir jalanan Malioboro, saat itu sudah hampir pukul setengah enam sore.


Mereka masuk ke Mall yang ada di jalan Malioboro untuk membeli pakaian ganti.


Setelahnya mereka nonton film, Rico tidak bohong saat dia mengatakan nonton film, hanya kotanya saja yang berbeda.


Pukul sepuluh malam, mereka sampai di rumah. Rumah mewah bercat putih, tertutup tembok dan pagar yang tinggi.


Rumah besar ini hanya dihuni oleh empat orang yang merupakan supir, tukang masak, pembersih rumah dan tukang kebun, keseluruhanya merangkap sebagai pengaman.


" Ini kamarku sayang..."


Seperti kamar pria lainnya, mininalis, terlihat belum ada sentuhan wanita.


Anya melepaskan baju dan pakaian dalamnya untuk menggantinya dengan yng baru. Anya terpaksa pakai baju baru tanpa dicuci, sebab dia tak ada pilihan lain.


Sebelum ia selesai memasang bra-nya Rico segera memeluknya dari belakang.


" Sini aku bantu"


Rico memang membantu, tapi ia membantu membuka kembali bra baru yang sedianya akan Anya pakai.


Anya tidak tahu bahwa Rico sudah tak memakai pakaian lagi. Sebab dari tadi ia membelakanginya.


Maka sesuatu yang memang harus terjadi, terjadilah malam itu.


Sampai mereka kecapekan dan tertidur dengan saling berpelukan.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Next ke episode selanjutnya, nanti ya kaaa, hari ini aku up dua episode...

__ADS_1


Jangan lupa tanda sayangnya buat author dong, like, koment n vote.


saranghaeyo 😍😍😍


__ADS_2