Anyelir

Anyelir
Lily of The Nile


__ADS_3

Fyi "Lily of The Nile memiliki arti Surat Cinta"


***


“Hazel,” suara teriakan tersebut mengganggu tidur Hazel. Hingga gadis tersebut membuka matanya dan mendapati kedua sahabatnya kini sudah duduk di sampingnya dengan senyuman mereka yang mengembang. Melihat hal tersebut Hazel memutar bola matanya malah.


“Ganggu orang tidur aja,” ucap Hazel yang malah membuat kedua sahabatnya tersebut terkekeh mendengarnya.


“Kita tuh pengertian Zel. Denger kamu patah hati sampai sakit akhirnya kita dateng,” ucap Nira mewakili yang Lyly balas dengan anggukan.


Kedua sahabatnya tersebut mengetahui jika Hazel sakit dan di khianati oleh Akasa dari ibu Hazel. Mendengar hal itu mereka segera datang karena ingin menemani Hazel dan menghibur sahabatnya.


“Btw tadi kita lewat rumah Akasa emang rame sih. Jam berapa sih acaranya?” tanya Nir yang mlah membahas tentang Akasa yang jelas menjadi alasan Hazel terluka.


“Kamu mending pulang deh kalau malah mau bahas itu,” ucap Hazel dengan kesal yang sontak membuat Nira menyengir mendengarnya.


“Emang dasar nih. Lagian ya Hazel mana tau acara nya jam berapa,” kesal Lyly sambil memutar bola matanya malas mendengar ucapan sahabatnya yang ada-ada saja  pertanyaannya.


“Kamu ngerasa gak sih kalau sebenarnya kamu hanya dijadikan tameng untuk Akasa juga Selin. Dia sengaja buat selalu ngejaga kamu biar hubungan dia sama Selin gak keliatan,” ucap Lyly yang tak ada bedanya dari Nira. Kesan pertemuan mereka kali ini bukanlah menghibur namun saling bercerita dan menarik kesimpulan dari hubungan empat tahun Hazel dan Akasa yang hanya sebuah bayangan dan tameng dari hubungan yang sebenarnya.


Hazel terdiam memikirkan ucapan Lily yang memang ada benernya juga. Selama ini Akasa dan Selin bersama. Hazel baru menyadari jika ia hanyalah tameng dari hubungan tak direstui itu.


“Tapi lucu gak sih. Kayak Akasa yang ngejar dua perempuan dengan tujuan yang berbeda. Hazel dan Selin yang udah saling sikut. Tapi ujungnya malah bukan di antara Selin atau Hazel yang jadi tunangannya. Tapi orang lain.” Nira kini menatap satu persatu sahabatnya meminta persetujuan akan ucapannya yang dibalas dengan anggukan setuju oleh Hazel juga Lily.


“Tapi emang luka yang dia kasih rasanya lebih sakit dari yang kemarin sih,” ucap Hazel dengan kekehannya yang malah terdengar begitu sendu.

__ADS_1


“Mungkin emang bukan dia yang terbaik buat kamu,” ucap Nira menasehati yang Hazel balas dengan anggukan. Karena Mamanya pun berkata demikian.


Mamanya memang benar-benar menjadi penguat kali ini. Memeluk Hazel dan merengkuhnya yang tengah di balut luka. Dulu saat Argo melukainya, ada Akasa yang menjadi moodbooster nya dan kini saat laki-laki itu melukainya ia merasa tak lagi memiliki rumah. Ya, Hazel memang sudah menganggapnya sebagai rumah. Karena selama ini Akasa lah yang ada di sisi nya dan mengetahui semua keluhannya. Kini semua hanya tinggal kenangan. kenangan indah namun menyakitkan, dan Hazel begitu ingin melupakannya.


***


Satu minggu berjalan dengan begitu cepat. Kesedihan Hazel perlahan menghilang. Kesehatannya juga sudah membaik. Dan kini ia mendapatkan satu fakta yang membuat heran juga terkejut. Yang ternyata Selin juga Akasa masih menjalin hubungan hingga sekarang.


Padahal Selin pun sudah mengetahui jika Akasa sudah bertunangan. Namun wanita tersebut seperti acuh dan mementingkan kebahagiaannya. Sedangkan Akasa. Hazel merasa laki-laki itu begitu tega pada tunangannya. Dan bagaimana Akasa yang beberapa hari ini mencoba untuk berbicara pada Hazel seolah ia ingin kembali padahal ia sudah memiliki Selin juga tunangannya. Bukankah Akasa begitu serakah dengan menginginkan semuanya.


Seperti kali ini. Hazel baru saja keluar dari kelasnya namun Akasa kini sudah berdiri di depan kelasnya. Hazel yang melihatnya hanya memutar bola matanya malas.


“Zel please. Mau ya bicara sama aku, sebentar aja,” mohon Akasa pada Hazel yang kali ini terdiam.


“Lima menit,” ucap Hazel tegas yang akhirnya menyetujui ajakan Akasa. Karena ia tahu Akasa tak akan menyerah sebelum dia mendapatkan apa yang ia inginkan.


Akasa terdiam cukup lama sebelum akhirnya ia memulai ucapannya lagi.


“Aku mau minta maaf sama kamu Zel,” ucap Akasa pada Hazel sambil menundukkan kepalanya.


“Aku udah maafin kamu,” ucap Hazel singkat. Mungkin jalan terbaik dari mengikhlaskan adalah dengan cara memaafkan. Jika ditanya apa Hazel sudah merasa baik-baik saja hingga memaafkan Akasa? Jawabannya hanya tidak. Ia hanya berusaha berdamai dengan masa lalu agar bisa cepat melupakannya.


Dalam keadaan seperti ini yang begitu dominan adalah luka, kecewa, dan amarah hingga rasanya akan sulit untuk melupakan. Yang awalnya sulit melupakan kesalahannya akhirnya malah berujung juga sulit melupakan orangnya oleh karena itu Hazel mereka jika ia harus berdamai.


“Apa kita bisa seperti dulu?” tanya Akasa dengan tatapan harapnya yang Hazel balas dengan gelengan.

__ADS_1


“Aku capek kalau harus terus saja temeng antara hubungan kamu sama Selin. Aku udah bersabar ngadepin mantan kamu itu. Aku pikir kamu ada di pihak aku karena terus membela aku dan menjelek-jelekan Selin di depan aku dan keluarga kamu. Tapi ternyata aku salah, kamu ada di pihak Selin. Jadi selama ini aku bercerita pada pihak lawan?” tanya Selin dengan senyuman getirnya.


“Maksud kamu apa?” tanya Akasa dengan menaikkan sebelah alisnya.


“Kamu masih jalan sama Selin? Selama ini kamu masih jadian sama Selin? Sa, kalau kamu emang masih sayang sama dia perjuangin dia. Kalau kamu emang berniat mengakhiri tunangan kamu. Kejar Selin. Berjuang buat restu keluarga, jangan jelek-jelekin Selin di depan keluarga kamu hanya agar keluarga kamu berpikir kamu membenci dia tapi nyatanya kamu masih sayang sama dia,” jelas Hazel dengan panjang lebar pada Akasa yang kini hanya terdiam. Membeku di tempatnya.


“Harusnya kamu baik-baikin dia di depan keluarga kamu. Kamu kasih tau keluarga kamu kebaikan dia bukan keburukan dia. Jangan menjadikan orang lain sebagai tameng lagi Sa. Setiap perempuan punya perasaan. Kamu punya kakak perempuan, ibumu juga perempuan. Harusnya kamu bisa berpikir untuk berbuat baik sama perempuan, pikirin aja Sa, gimana kalau sama kedua perempuan yang kamu sayang itu yang di sakiti oleh laki-laki?” tanya Hazel melanjutkan ucapannya dan Akasa hanya diam mendengarkan.


“Makasih untuk waktunya selama empat tahun ini Akasa. Jaga diri baik-baik dan selalu bahagia, kamu orang baik tapi kamu terlalu serakah dan kurang tegas dengan perasaan kamu. Jangan lakukan kesalahan yang sama di kemudian hari,” ucap Hazel dengan senyumannya sambil menepuk pundak Akasa. Setelahnya Hazel segera pergi dari sana. Meninggalkan Akasa yang masih termangu di tempatnya.


Hazel hanya bisa berharap jika keputusan yang diambilnya untuk melepaskan Akasa adalah hal yang tepat. Meskipun sulit namun perlahan ia akan mencobanya.


Mengikhlaskan dan menerima keadan. Kini bukan lagi orang baru yang ia butuhkan, melainkan waktu.


***


Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.


Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.


Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath


See you next chapter guys.


Thank for Reading.

__ADS_1


Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.


Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita temen aku ini ya. Tapi jangan lupa balik lagi ya.


__ADS_2