Anyelir

Anyelir
Phlox


__ADS_3

Fyi "Phlox memiliki arti persetujuan, mimpi indah"


***


“Aku gak nyangka bakal ngerasain jalan-jalan begini, aku kira yang begini cuma akan jadi hayalanku baya Novel aja,” ucap Hazel dengan mengeraskan suara nya agar Akasa mendengarnya. Kini mereka tengah berada di jalan. Sesuai dengan yang telah mereka rencanakan. Kini mereka tengah menuju ke Malang dengan banyaknya motor sport yang mengikuti di belakang mereka.


Akasa kini memimpin di depan mereka. Sedangkan di barisan paling belakang adalah Angga. Sang wakil dari Achlys, geng motor yang di kutai oleh Akasa. Biasanya akasa yang berada di belakang namun karena kini ia membawa Hazel jadi ia memutuskan untuk berada di depan.


“Lain kali aku ajak yang lebih jauh lagi, Bali mungkin,” ucap Akasa dengan senyumannya di balik helm full face nya tersebut.


“Gak boleh jauh-jauh. Gak mungkin di boleh sama Papa, belum halal,” ucap Hazel yang membuat Akasa terkekeh mendengar ucapan dari gadis tersebut.


“Nanti kita tunangan dulu kalau gitu, selesai jalan-jalan kita udahan,” ucap Akasa dengan candaannya yang membuat


Hazel tertawa mendengarnya. Meskipun terdengar begitu menyakitkan seolah Akasa tak ingin untuk serius dengan hubungan mereka. Namun akhirnya Hazel hanya diam saja.


“Suka ngaco kalo ngomong,” ucap Hazel sambil memukul pinggang Akasa yang membuat laki-laki tersebut hanya tertawa karenanya.


Selama di perjalanan mereka tak kehabisan topik untuk berbicara, Akasa memang selalu bisa untuk mencairkan  suasana. Segala hal laki-laki tersebut ceritakan seolah cerita hidupnya begitu banyak dan begitu berwarna.


“Aku dulu juga pernah ngajak Ira untuk sunmori ke Lembah Dieng yang ada di Malang,” ucap Akasa yang membuat Hazel berdecak di dalam hatinya. Ia begitu kesal dengan Akasa yang bisa-bisanya mengatakan hal tersebut pada Hazel. Tak tahukan laki-laki tersebut jika Hazel cemburu? Meskipun Ira hanya sahabat Akasa tetap saja ia merasa cemburu.


Ira memang adalah sahabat Akasa yang juga cukup dekat dengan Akasa. Ini lah yang membuat Hazel cukup kesal dengan Akasa. Laki-laki tersebut banyak dikelilingi oleh perempuan. Sahabatnya banyak yang perempuan, lalu bagaimana Hazel tidak kesal dan cemburu?


Hazel mengetahui tentang Ira, dari Selin. Wanita tersebut memang masih sering mengganggu Akasa ataupun Hazel. Wanita tersebut seolah menjadi mata-mata yang tak di gaji dan tak suruh. Karena Hazel tak pernah memintanya untuk memberitahu Hazel tentang apa yang tak ia ketahui tentang Akasa. Namun Selin selalu datang dengan info terbarunya tentang Akasa.


“Cemburu?” tanya Akasa saat Hazel hanya diam tanpa menjawab perkataannya tersebut. Ingin sekali Hazel merutuki laki-laki tersebut tepat di depan muka nya. Sudah tahu Hazel cemburu kenapa masih saja bertanya?


“Masih nanya lagi,” batin Hazel yang jelas tak dapat ia ucapkan karena gengsi nya yang terlalu tinggi. Ia juga tak ingin Akasa berbesar kepala dan akan semena-mena padanya jika tahu Hazel cemburu padanya.

__ADS_1


“Ngapain cemburu?” tanya Hazel acuh. Akasa hanya tertawa mendengar pertanyaan dari gadis di belakangnya tersebut.


“Iya iya yang gak cemburu,” ucap Akasa masih dengan tawanya yang membuat Hazel menatap datar pada Akasa dari kaca spionnya.


“Kita mau kemana? Aku gak mau ya ke sana. Tapi aku mau ke gunung,” ucap Hazel dengan tegasnya pada Akasa yang kini menaikkan sebelah alisnya.


“Lembah Dieng itu gunung kok,” ucap Akasa yang masih saja suka menggoda Hazel.


“Bodo Amat. Yang penting aku gak mau kesana,” tegas Hazel dengan kekesalannya. Akasa hanya terkekeh setelahnya tak ada lagi yang memulai pembicaraan. Hingga hawa dingin dari pegunungan terasa begitu menyejukkan.


“Sini, tangannya masuk ke jaket aku biar gak dingin,” ucap Akasa sambil memasukkan tangan Hazel pada saku jaketnya. Hazel hanya diam dan menurut saja.


Hingga setelah menempuh perjalanan yang begitu lama, akhirnya kini mereka sampai di sebuah tempat wisata yang kini terlihat begitu menyejukkan mata. Hazel segera turun dari motor Akasa dan Akasa dengan segera membantu Hazel untuk melepaskan Helmnya lalu merapikan rambut gadis tersebut.


Hal tersebut tak luput dari tatapan perempuan yang kemarin bersama dengan Akasa saat mereka nongkrong. Perempuan tersebut kini memang ikut dalam perjalanan mereka, dan ternyata perempuan tersebut adalah teman dari kekasih anggota geng motor Akasa.


“Udah, ayo,” ajak Akasa lalu akhirnya mereka berjalan bersama bersama dengan teman-teman Akasa yang lainnya.


“Wah patung nya ngingetin aku ke Drama Connect,” ucap Hazel dengan senyumannya sambil berjalan ke arah patung-patung tersebut.


“Bedanya ini asli patung kalau itu manusia,” ucap Hazel dengan kekehannya kala mengingat tentang drama korea bergenre drag tersebut.


Akasa dengan begitu perhatian membantu Akasa jika ada jalan naik yang hanya beralaskan rerumputan. Teman-teman Akasa yang lain sudah menyebar menuju ke arah spot foto yang mereka inginkan.


Hazel bagai tak ada lelahnya berjalan ke sana kemari mencari spot foto yang bagus ataupun tempat untuk menikmati keindahan dari tempat tersebut.


“Sini aku fotoin,” ucap Akasa yang kini sudah mengarahkan kameranya pada Hazel. Hazel segera berpose dan Akasa yang memfoto mereka.


Setelahnya mereka juga meminta bantuan pada teman Akasa yang lain untuk memfoto mereka. Akasa dan Hazel mulai berpose dengan berbagai gaya membuat tatapan seorang perempuan yang sedari tadi memperhatikan sepasang sahabat tersebut memelotot tajam.

__ADS_1


Setelah puas berkeliling Hazel memutuskan mengajak Akasa ke arah rumah pohon yang berada di sana. Akasa dengan begitu sabar membantu Hazel untuk naik menjaga nya agar tak ada yang lecet. Jika sedikit saja ada yang lecet Tara pasti akan mengamuk padanya.


“Wah indah banget dari sini,” ucap Hazel dengan senyuman mengembangnya. Hazel memejamkan matanya untuk menikmati udara segar pegunungan.


“Aku lebih suka tempat kayak gini timbang tempat wisata yang hanya sebuah bangunan tanpa hawa sejuk dari alam,” ucap Hazel dengan senyumannya.


Akasa melihat ke arah Hazel yang kini juga tengah melihat ke arahnya. Akasa mengetahui itu karena setiap Akasa mengajaknya untuk jalan-jalan Hazel selalu mengatakan jika ingin jalan-jalan ke tempat wisata yang berbau alam saja.


“Udah terlalu sering lihat bangunan di Jakarta ya?” tanya Akasa yang Hazel balas dengan anggukan.


“Aku juga pengen deh nikmatin alam malam-malam sambil ngeliat indahnya malam kota yang katanya kalo di lihat dari bukit bakalan seperti bintang,” ucap Hazel dengan begitu bersemangatnya.


“Lain kali kita dateng lagi ke tempat kayak gitu, tapi ajak keluarga kita biar mereka gak khawatir,” uap Akasa yang Hazel balas dengan anggukan semangat. Kini ia senang Akasa menjawabnya dengan benar seolah laki-laki tersebut tengah menjaga mood Hazel agar tetap baik.


“Yuk turun, kita makan dulu,” ajak Akasa karena mereka memang belum sempat makan. Hazel hanya mengangguk lalu ikut turun bersama Akasa.


***


Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.


Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.


Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath


See you next chapter guys.


Thank for Reading.


Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.

__ADS_1


Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita aku yang baru. Masih anget nih.



__ADS_2