Anyelir

Anyelir
Garlic


__ADS_3

Fyi "Garlic memiliki arti kekuatan, kegagahan"


***


“Nanti kalau udah pulang langsung telpon Abang, biar abang jemput,” ucap Tara berpesan kepada adiknya tersebut sebelum Hazel benar-benar pergi menuju kampus. Hazel tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


“Iya Abang,” ucap Hazel patuh.


“Ya udah sana masuk,” ucap Tara yang membuat Hazel mengangguk. Setelahnya Hazel segera berjalan menuju kampusnya. Tujuannya kali ini adalah langsung menuju kelas sejarah karena hari ini ia memiliki kelas sejarah jadi ia segera menuju kelas utama.


Terlalu fokus dengan ponsel yang dipegangnya membuat Hazel tak menyadari saat seseorang menarik tangannya di belokan koridor kampus. Hazel terkejut karena ada yang menariknya tersebut. Saat melihat siapa yang menariknya mata gadis tersebut memelotot tajam.


“Lo ya, bikin kaget aja,” decak Hazel kesal saat melihat yang menariknya adalah laki-laki yang sudah beberapa hari sudah tak di lihatnya tersebut.


“Maaf,” ucap laki-laki tersebut menatap Hazel dengan tatapan seriusnya. Tatapan kerinduan juga sesal? Benarkah tatapan tersebut yang ia dapatkan?


“Gue ada kelas pagi? Kenapa Sa?” tanya Hazel pada laki-laki yang tak lain adalah Akasa tersebut.


Mendengar perkataan Hazel yang kini sudah memanggilnya lo-gue membuat Akasa semakin merasa bersalah dan kecewa pada dirinya sendiri. Hazel yang sudah perlahan bisa menerimanya kini malah kembali berubah dan memberi batasan sendiri untuknya lagi.


Karena kesalahannya sendiri kini Akasa harus memulai semuanya dari awal, memperjuangkan Hazel dari awal lagi. Hanya saja, apa ia masih memiliki kesempatan untuk melakukannya? Atau Hazel malah sudah menutup kesempatan itu untuknya.


Mengingat saat bersama dengannya Hazel terlalu banyak menghadapi masalah, terutama karena Selin yang masih menjadi bayang-bayangnya. Namun ia bukannya mendukung dan menemani Hazel justru mengecewakan gadis tersebut dengan menjalin hubungan dengan wanita lain.


“Aku mau bicara sama kamu bisa?” tanya Akasa dengan tatapan memohonnya pada Hazel. Hazel melihat jam tangannya yang melingkar sempurna di tangan gadis tersebut.


“Duh sorry ya Sa, bukannya gak mau cuma gue sekarang ada kelas sejarah dan ini waktunya udah mepet. Lain kali ya,” ucap Hazel yang setelahnya melambaikan tangan pada Akasa dengan senyumannya sambil menjauh dari laki-laki tersebut yang kini hanya bisa menghela nafasnya sambil menatap punggung Akasa dengan tatapan nanar.


“Bahkan cuma bicara sama aku aja kamu gak mau ya sekarang. Tapi aku akan berusaha untuk membuat kamu kembali,” ucap Akasa dengan begitu tegasnya. Mendekati Hazel bagai sebuah tantangan untuknya karena sikap Hazel yang begitu sulit untuk dijinakkan.


Setelah kepergian Hazel akhirnya Akasa memutuskan untuk segera kembali ke kelasnya dan ia akan datang lagi untuk menemui Hazel dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ia tak ingin jika Hazel terus menjauhinya.

__ADS_1


***


Saat istirahat Akasa kini sudah berada di depan kelas Hazel untuk menemui gadis tersebut. Jangan salahkan sikap Akasa tersebut. Ia hanya tak ingin kehilangan Hazel dan ia juga tak bisa menemui gadis tersebut ke rumah nya. Sudah beberapa kali Akasa datang ke rumah gadis tersebut namun kakak Hazel terus saja mengusirnya.


“Hazel,” panggil Akasa saat penglihatannya dapat melihat Hazel yang baru saja keluar dari kelasnya bersama dengan teman satu jurusannya.


Mendengar namanya dipanggil Hazel seger menoleh ke asal suara hingga senyuman terlihat di wajah gadis tersebut.


“Aku duluan ya Zel,” pamit teman Hazel tersebut saat Hazel balas dengan anggukan. Setelahnya Hazel segera berjalan ke arah Akasa dengan gelengan kapalnya, dengan senyuman yang dipaksakan.


Hatinya kini masih sakit saat mengingat jika laki-laki tersebut adalah orang yang menyatakan cinta padanya, memberinya harapan, memperlakukannya dengan begitu baik. Namun ternyata menjalin hubungan dengan gadis lain. Hazel berusaha mempertahankan senyumannya agar Akasa tidak tahu betapa sakit hatinya karena laki-laki tersebut. Hazel tak ingin Akasa malah besar kepala.


“Bisa bicara sekarang?” tanya Akasa dengan senyumannya saat Hazel kini sudah berada di depannya. Hazel tertawa geli sebelum akhirnya menjawabnya dengan anggukan.


“Kekeh banget mau ngomong,” ucap Hazel dengan tawanya, Akasa hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Jadi bisa pergi sekarang?” tanya Akasa yang kembali Hazel balas dengan anggukan. Ia tahu pasti tak akan nyaman jika harus berbicara di koridor yang kini begitu ramai.


Saat sampai di taman tersebut mereka segera duduk di rerumputan hijau di bawah pohon besar, sambil menyelonjorkan kakinya dengan tangan mereka yang bertopang ke belakang.


“Jadi, apa yang pengen kamu omongin?” tanya Hazel dengan menaikkan sebelah alisnya bingung.


“Tentang cewek kemarin kita udah putus,” ucap Akasa yang membuat Hazel menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan bingungnya.


Untuk apa Hazel harus mengetahuinya? Sebelumnya Akasa tak mengatakan pada Hazel saat laki-laki tersebut menjalin hubungan dengan gadis lain namun kali ini kenapa Akasa sekarang malah memberitahunya saat mereka putus? Ingin sekali Hazel berteriak di depan laki-laki tersebut.


“Ya, terus?” tanya Hazel dengan senyuman sinisnya. menatap Akasa dengan tatapan penuh tanya.


“Aku pacaran sama dia hanya untuk taruhan. Aku gak bener-bener suka sama dia. Maaf Zel, udah buat kamu kecewa sama aku,” ucap Akasa sambil menundukkan kepalanya penuh penyesalan.


Hazel terdiam sambil melihat ke arah Akasa dengan tatapan serius juga kecewanya. Kini bukan lagi kecewa karena Akasa mengkhianatinya namun karena laki-laki tersebut ternyata memainkan seorang perempuan.

__ADS_1


“Kenapa minta maaf ke aku? Harusnya kamu minta maaf sama cewek itu karena kamu sudah menjadikan dia taruhan,” ucap Hazel pada Akasa dengan nada nya yang terdengar jelas jika kini gadis tersebut tengah marah dan kecewa.


“Karena kamu lebih penting buat aku Zel. Perasaan aku ke kamu serius,” ucap Akasa pada Hazel yang kini justru terkekeh mendengar ucapan Akasa tersebut.


“Aku gak ada hak buat marah dan semua kendali ada ditangan kamu, kita hanya teman jadi wajar kalau kamu sama cewek lain,” ucap Hazel dengan sinisnyanya.


“Hazel, please,” ucap Akasa dengan tatapan sendunya pada Hazel.


“Aku pengen kita kayak dulu lagi Zel,” ucap Akasa dengan tatapan memohonnya.  Hazel menarik nafasnya dalam sambil menampilkan senyumnya. Ia hanya memberikan pembatas agar tak jatuh lebih dalam lagi pada laki-laki tersebut.


“Kan emang udah kayak dulu, kita teman kan,” ucap Hazel dengan senyuman menenangkannya berbeda dengan Akasa yang kini menunduk dalam. Sepertinya ia memang harus kembali menaklukkan Hazel dan mengambil kembali hati gadis tersebut.


Meskipun benar mereka hanya sebatas teman namun Akasa mereka seperti itu dengan perhatian dan perasaan yang lebih dari sekedar teman. Meskipun akan susah namun Akasa akan tetap mencobanya. Karena baginya Hazel adalah gadis yang begitu baik.


Sangat berbeda dengan gadis yang kemarin menjadi taruhannya yang begitu liar dan nakal.


***


Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.


Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.


Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath


See you next chapter guys.


Thank for Reading.


Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.


Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita aku yang baru. Masih anget nih.

__ADS_1



__ADS_2