
Hai hai hai Readers ku tercinta, kangen nggak sama Anya ?? pasti kangen lah ?? π€π€π€π€
Padahal yang berat rindunya Author ke kalian looo πππ
Kita spot jantung sikit-sikit yooo...
cek it out....
Lima bulan telah berlalu, Selama kurun waktu itu Briana pulang pergi Jakarta Jogja, tapi Rico selalu menempatkannya di kamar tamu.
Walaupun bekerja dari rumah, Rico selalu mengunci diri di ruang kerjanya.
Sehingga Briana tak bisa berbuat apa-apa saat malam tiba.
Tidak kehilangan akal, apabila rayuan mautnya tak mempan, Briana dengan sengaja meninggalkan Rico untuk hang out, dan belanja-belanja, mumpung lagi di Jogja.
Menurut Rico itu lebih baik daripada ia ganggu konsentrasi kerjanya.
Sekarang perut Briana sudah mulai membuncit, meski begitu ia tak mau badanya melebar, ia selalu memilih-milih makanan.
Mana yang ia sukai saja, walaupun bergizi jika ia tak suka ia tak akan makan.
Melihat itu Rico kasihan juga dengan perkembangan anaknya di kandungan Briana.
Sore ini, Rico mengajak Briana untuk periksa kandungan.
" Ana, sore ini aku antar kamu ke dokter kandungan, aku pingin liat kondisi bayimu".
" Bayi kita sayang, bayi kita, yang bikin kan kita berdua, masa cuma anakku".
Ada terselip rasa menyesal dan kasihan di hati Rico mengucapkan kalimat tersebut.
" Ya terserah..., nanti jam setengah lima kita berangkat".
" Nggak usah sayang kamu kan sibuk, biar aku sendiri, nggak pa pa kok".
Rico memandang Briana keheranan, biasanya dia ganjen pingin ditemani bila pergi kemana-mana, tapi ini tumben.
" Tapi kalau Mas Rico mau anter aku beli perlengkapan bayi dan daster aku mau, anterin ya pliss". Ucap Briana dengan wajah mengharap.
Rico kasihan juga melihat ekspresi Briana, yang terlihat memohon.
Selama ini, sebagai suami ia memang tak pernah mempedulikan Briana.
Yang ada dalam fikirannya hanya bekerja.
Sedangkan Anya.... aaah dia sudah berusaha untuk melupakannya.
Dalam kurun waktu enam bulan ini, tak ada sedikitpun kabar dari Anya.
Beberapa kali Rico ke Belanda ataupun sekedar telepon, ibu Anya selalu tidak mau memberitahu dimana Anya berada.
Sedih berkepanjangan tidak meluruhkan perasaan cintanya pada Anya menghilang.
Justru cintanya semakin menggunung.
Melihat kenyataan bahwa Anya tidak menggugat cerai dirinya, itu menunjukkan bahwa Anya pun masih mencintainya.
Dia berkhayal bila kelak bisa berjumpa dengan Anya, ia akan bersikap lebih manis dan romantis. Rico sadar, bahwa ia seperti lelaki kebanyakan, yang tidak begitu bisa bersikap romantis.
__ADS_1
Bukan karena tidak mencintai pasangan, tapi memang Rico sulit mengekspresikan bentuk cinta dalam kata-kata.
Ia lebih memilih aksi nyatanya, walaupun kadang itu kurang mewakili hatinya.
Dia bukan tipikal laki-laki yang ribet memikirkan segala macam hal-hal romantis, dia pekerja keras. Dan Anya tahu dan memaklumi itu.
Di saat ia melamunkan Anya, ada tepukan lembut di bahunya.
" Ayo sayang kita jalan, aku mau beli keperluan baby kita".
" Tapi nanti kita mampir ke dokter kandungam, kalau cuma sekedar belanja kami bisa minta diantar Pak Karwo".
" Apaan si sayaaang, aku kan istri kamu, bukan istri Pak Karwo, aku juga pingin diperhatikan, aku lagi hamil anakmu, anak kita, bisa-bisanya kamu ngomong begitu, papa macam apa kamu yang nggak peduli dengan calon anaknya ".
Ditutup dengan tangisan sesenggukan Briana. Ia betul-betul kecewa dengan sikap Rico yang sama sekali tidak mempedulikannya.
Semakin lama tangisnya semakin menjadi-jadi, seperti anak kecil yang minta dibelikan lolipop tapi nggak diizinkan orang tua.
" Sudah hapus air matamu, kita berangkat".
Briana melihat Rico tidak percaya, tumben suaminya mau pergi jalan dengannya.
Ada secercah harapan yang membuncah di hatinya,
Betul kata Alin, aku harus pepet terus suamiku. Aku tak mau kehilangan dia, aku telah jatuh cinta padanya.
" Ayo, kenapa jadi bengong ?"
Mereka jalan menuju ke Mall terbesar yang ada di Jogja.
Dari tempat parkir, tangan Briana tak melepas gayutan manja di lengan suaminya.
Rico tampak lebih fresh, mungkin karena selama ini, ia selalu berkutat dalam pekerjaan, sehingga lupa bagaimana suasana dunia luar.
Briana membeli apapun yang ia mau, Rico tampak seperti suami yang sangat mencintai istrinya.
Beberapa wanita dan emak-emak, kagum memandang ketampanan Rico yang paripurna, bahkan bebrapa ada yang memandang iri pada Briana, memiliki suami yang setia mendampinginya.
Beberapa paper bag yang berisi baju bayi dan perlangkapan bayi lainnya, diletakkan di trolly. Ada dua trolly besar yang didorong oleh Rico dan Briana.
Briana tampak menikmati pandangan iri perempuan-perempuan di sekitarnya.
Dia laksana aktris dalam panggung, dan dialah pemeran utamanya.
" Kita makan dulu, mulai sekarang kamu harus perhatikan makanan kamu, yang butuh asupan makanan bukan cuma kamu tapi bayimu juga".
" Bayi kita !!"
" Ya terserah..."
Briana tampak berbunga-bunga,
Sebentar lagi, aku akan mendapatkanmu Mas Rico.
Hatinya patut bahagia, sebab suami yang memang mulai dicintainya, akhirnya bersedia berbagi kebahagiaan dengannya.
Mereka menuju tempat parkir di bassement, dan meletakkan seluruh barang bawaan di bagasi mobil.
Masuk ke mobil, ada kegembiraan yang tak bisa disembunyikan di hati Briana.
__ADS_1
Baru saja Rico selesai.memasang sabuk pengaman, ada kecupan yang mendarat di pipinya.
" Makasih ya Mas, hari ini aku bahagia banget, mas mau nemenin aku".
Rico diam tak menjawab, tanpa ekspresi.
" Kita mampir makan dulu kan?"
" Heem" jawaban pendek Rico, cukup membuat Briana terbang melayang-layang di udara.
Jangan balik-balik lagi Anya, awas aja kalau kamu sampai balik, Mas Rico sudah jadi milikku sekarang.
Tangan kiri Rico yang bebas memegang setir, diambil oleh Briana.
Rico membiarkannya.
Membuat hati Briana semakin tak karuan.
Melihat gelagatnya, kelihatanya Mas Rico nanti mau tidur denganku, buktinya, aku apa-apakan dia pasrah aja.
Briana menyandarkan kepalanya di pundak Rico.
Rico diam saja, sampai ia iba di rumah makan tujuan, dan mencari-cari tempat parkir.
Mereka duduk berhadapan di salah satu sudut rumah makan, sehingga pandanganya bisa melihat sekitar rumah makan.
Makanan pesanan sudah datang.
" Makan yang banyak, jangan sampai bayimu kekurangan gizi".
" Bayi kita".
Rico diam saja, sambil melahap makananya.
Sementara Briana makan dengan lahap, dia mendapatkan harapan bisa meraih hati Rico.
π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€
Marah nih, pasti marah sama author.....
Jangan ambegan, nanti cepet tua
Sabaaaaar nanti kulitnya cepet keriput kalau marah-marah mulu ππππ
calm calm calmπππ
apa ya Rico mulai membuka diri pada Briana?
Kalau nggak, kok Rico bersikap manis??
Kalau Ya, gimana dong dengan Anya??
Baca lagi yuuk episode selanjutnya.
Sebentar lagi author up deeh...
Sabar ya.... jangan marah-marah padaku...
Jangan lupa like, koment n vote-nya, yang banyak.
__ADS_1
Saranghaeyo πππ