Anyelir

Anyelir
Rahasia terungkap tanpa disengaja


__ADS_3

Malam ini Rico, pulang jauh lebih malam dibanding malam-malam sebelumnya.


Jalannya sempoyongan, dia berada dalam kondisi psikis yang tidak sehat.


Hari-hari terakhir ini, Rico semakin menenggelamkan diri dalam pekerjaan.


Ia sengaja menghabiskan banyak waktu di kantor, untuk membunuh waktu yang banyak disita untuk memikirkan Anya jika di rumah.


Hari ini ia sampai di rumah pukul sebelas malam.


Fisiknya sudah lelah, ia ingin segera tidur jika sampai di rumah.


Saat membuka pintu, Rico sangat terkejut.


Di temaramnya lampu kamar, ia lihat Anya duduk disana.


Duduk di pinggiran tempat tidur.


Dengan mengenakan lingerie warna merah, pendek di atas lutut yang sangat sexy dan disukai oleh Rico. dilengkapi aroma parfume yang biasa digunakan Anya sebelum mereka tidur.


Parfume oleh-oleh dari Rico saat ia pulang dari Paris Perancis.


Parfume yang membangkitkan birahi kelelakiaanya.


Rico gelap mata, dengan cepat dia menghampiri sosok yang duduk di pinggiran tempat tidur.


Ia lupa menghidupkan lampu kamar, saking semangatnya melihat orang yang sangat dirindukanya duduk menunggu dirinya du dalam kamar.


Rico memeluk tubuh Anya dengan erat.


" Sayaaang, akhirnya kamu pulang, aku sangat merindukanmu, kamu dimana saja, sudah hampir dua bulan kamu meninggalkan aku".


Anya memeluk erat Rico, ia tidak membiarkan Rico untuk melepas pelukannya.


Tapi ia juga tak bersuara.


Di saat Rico masih memeluknya kesempatan itu dilakukan oleh si baju merah untuk melepas celana yan dikenakan oleh Rico, secara tidak sabaran.


Rico benar-benar blank, dia madih mengira orang yang berada dihadapannya adalah Anya, ia bantu melepas celanya, dan dibuang serampangan.


Sementara Rico membantu Anya membuka lingerienya.


Ia segera merebahlan tubuh Anya ke tempat tidur.


Sorot lampu dari dalam kamar mandi yang memang selalu dibiarkan menyala, mengenai langsung wajah wanita dihadapannya. Briana.


Menyadari itu, Rico yang sudah dalam kondisi tanpa busana, segera mendongak dengan kaget.


Tapi Briana segera meraih tubuh Rico, tidak ia biarkan Rico menjauh darinya.


Tapi tentu saja walaupun dalam kondisi kelelahan tenaga Rico tetap lebih kuat dibandingkan Briana.


Ia mendorong tubuh Briana jatuh lagi ke tempat tidur.


" Keluar kamu !!" Dengan tegas, dan sedikit menekan suaranya agar tak terdengar sampai keluar.


Tapi Briana membandel ia tetap berada di atas tempat tidur dengan posisi yang menantang.


" Nggak, aku nggak mau keluar!"


" Kalau kamu nggak keluar, aku yang akan keluar".


" Sayaaaang, kamu kok gitu sih ? aku kan istri kamu juga".


" Ya kamu memang istriku tapi aku tidak mencintaimu, puas !!"


" Oke kamu tidak mencintaiku, tapi kenapa tidak kita coba dulu sayang, kamu pasti akan merasakan cinta untukku cepat atau lambat, jika kamu mau mencobanya".

__ADS_1


" Mencoba apa maksudmu ?"


" Cobalah beri aku kesempatan, aku akan membuat kamu mencintaiku, malam ini, aku akan memuaskan kamu, percayalah".


Entah kenapa Rico merasa tak nyaman mendengar apa yang dikatakan Briana.


" Keluar kamu sekarang, dan jangan berani lagi menggenakan pakaian Anya, pakaian apapun itu".


" Kamu ingin aku keluar bugil seperti ini ?"


Rico berjalan ke kamar mandi, ia mengambil bathrobe yang memang belum pernah dipakai.


" Pakailah itu, dan ingat lagi jangan pernah menggunakan parfume Anya juga".


" Kenapa ? kamu takut tergoda ?"


Rico diam saja tak menjawab.


"Keluar !"


" Oke, aku keluar, tapi ingat, aku istrimu juga, kamu juga berkewajiban memenuhi batinku, dan, aku tak akan menyerah, suatu saat kamu pasti akan bertekuk lutut dihadapanku".


Briana berbicara sambil mendekap tangan di dada, dan berjalan menuju keluar.


Rico segera mengunci pintu kamar dengan cepat, ia bergegas mandi dengan air hangat.


Kerinduannya pada Anya semakin besar, Ia tak akan bisa menghapuskan sosok Anya dari hatinya.


Sepertinya aku memang tidak bisa berlama-lama di rumah ini, aku akan ke Jogja saja, atau Lombok, mengendalikan perusahaan dari sana.


 


Pagi ini, Rico segera berkemas, ia sudah menghubungi adiknya yang di Surabaya untuk menemani orang tua mereka tinggal di Jakarta.


Rico sudah bertekad untuk tinggal di Jogja saja, tapi ia melarang semua keluarganya untuk memberitahu Briana.


Papa menangis saat Rico berpamitan pergi. Beliau paham betul yang salah adalah dirinya. Papa tidak berusaha untuk melarang Rico, baginya sekarang ketenangan batin anaknya itu lebih penting.


Terlambat...


Tapi setidaknya itu bisa mengurangi rasa berdosa papa, pada Rico dan Anya.


Mama-pun juga menangis sesenggukan, beliau berusaha melarang Rico pergi, tapi Rico menenangkan mama-nya bahwa ia akan baik-baik saja.


Semua pekerjaan akan di handle Rico secara virtual. Rico butuh waktu untuk menyendiri.


Kepergian Rico tidak diketahui oleh Briaña.


Hari ini Briana janjian bertemu dwngan temannya Alin, mereka ketemuan di sebuah cafe.


Turun dari mobil Briana mencari- cari tempat duduk Alin.


Setelah ketemu ia mendekat, Ada seorang pria yang tersenyum padanya.


Ih sok akrab kamu. Batin Briana


Pria tersebut duduk berpunggungan dengan Alin.


" Halloooo honeeey". Teriak Alin sambil berdiri, apa kabarmu ?, sini duduk, lama nih kita nggak kongkow".


" Ya, aku juga kangen, yang lain mana?"


" Mereka pada sibuk dwngan urusan masing-masing"


"Ooo jadi cuma kita berdua nih"


" Ya lah".

__ADS_1


" Aku mau curhat nih Lin".


Pria di belakang Alin mencuri dengar pembicaraan mereka.


" Bicara aja sayang, kenapa?"


" Suamiku nggak mau bercinta sama aku".


" Eitdah, kok bisa, katarak kali dia ya, istri cantik kek gini diangguri, eeee sebentar, lalu gimana kandungan kamu".


" Sssttt jangan keras-keras, bayi Ciko aman di perut-ku"


Walaupun pelan, tapi pria yang duduk di belakang Alin, cukup mendengar suara mereka berdua. Dia mengernyitkan dahi, dan mulai membuka ponsel.


" Gimana bisa ?"


" Dua bulanan yang lalu , aku sengaja kasih obat perangsang ke minuman suamiku, bukan terangsang, eh dia malah tidur pules banget ".


Alin tertawa, tapi buru-buru ditutup dengan tangan.


" Kok bisa gitu, harusnya dia terangsang dong?", Tanya Alin sambil menahan tawa.


" Jangan ketawa lo, aku lanjut ya, besoknya aku tanya ke Alvin, aku beli obatnya ke Alvin, nyatanya Alvin memang salah ngasih obat ke aku, bukan obat perangsang yang dikasih, tapi malah obat tidur,gila nggak ?"


Alin tidak bisa menahan tawanya lagi, dia tertaws terpingkal-pingkal, begitu juga lelaki yang memunggungi mereka turut tersenyum geli mendengar cerita perempuan dibelakangnya.


" Lanjut nggak nih ?, serous nih aku ?"


" Oke, oke lanjut ".


" Waktu suamiku pules tidurnya, aku preteli tuh baju celana, saat dia bangun aku bilang ke dia kami baru berhubungan, setidaknya aku masih ada kesempatan", Briana tersenyum penuh kemenangan.


" Jadi, suamimu nggak tahu, kamu dah hamil sebelum menikah sama dia ?"


Wajah pria di belakang mereka tiba- tiba pias.


" Nggak tahulah, cuma aku bingung nih, usia kandunganku kan sudah tiga bulan, sementara kami berhubungan pura-pura baru dua bulan, gimana dong ?"


" waduuuh, coba nanti kita tanyakan ke yang lain juga harusnya gimana, aku ngasih masukan tapi kamu denger masukan yang lain juga".


" Oke, gimana menurut kamu?"


" Lo jatuh atau apa kek, sampai bayi lo harus terpaksa dioprasi sebelum waktunya lahir".


" Good idea, bisa dicoba nih, yuk ah makan dulu, aku dah laper nih ?"


" Bentar, kabar Ciko gimana ?"


" ******** itu kayaknya dah kabur ke luar negeri, dasar laki-laki tak bertanggungjawab".


" Ya udahlah, kamu sekarang dapat yang lebih segalanya"


" Ya juga sih, cuma itu dia belum mau menyentuhku".


" Pepet terus nooon, kamu biasanya kan gitu ?"


" Aku lagi usaha nih, aku pepet terus".


" Goooood, gitu dong, pokoknya Briana nggak ade matinye, itu yang mpok sukeeee", balas Alin sambil.mengacungkan jempol


" Nggak ade matinye pale lo geyol".


Mereka tertawa bersama.


Sementara pria dibelakang mereka berdiri dan berjalan keluar dengan wajah yang shok. Dia adalah Zein, sahabat baik Rico.


Zein kenal dengan Briana, sebab dulu Zein datang di pernikahan Rico dan Briana.

__ADS_1


Tapi nampaknya Briana tak mengenali Zein.


__ADS_2