
Seperti janji Rico semalam bahwa ia akan bicara dengan papa dan mamanya pagi ini.
" Aku mau bicara dengan kalian berdua, ini penting, mama dan papa tidak mau ada yang ditutup-tutupi, habis sarapan kalian berdua papa tunggu di ruang kerja".
" Baik Pa", jawab Rico dan Anya bersamaan.
Anya tampak gelisah, melihat itu. Rico menggenggam tangan Anya untuk diberi kekuatan. Ia terus memandangi istri tercintanya sambil tersenyum.
Selesai sarapan Rico dan Anya menuju ke ruang kerja Papa Broto. Mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan.
Apa yang ingin papa dan mama bicarakan, sampai menginginkan kami berdua ada disana, batin Rico.
Rico mengetuk pintu, tanpa menunggu jawaban dari dalam Rico membuka pintu dan masuk.
Mereka duduk di sofa yang berada di tengah ruang, berhadapan dengan Mama, disusul oleh papa Broto yang sebelumnya duduk di meja kerja.
"Anya dan Rico, sebelumnya Papa minta maaf karena terpaksa meminta hal ini pada kalian, tapi ini bukan keputusan final, papa perlu mengajak ngobrol kalian dari hati ke hati, papa dan mama maunya apa, begitu juga sebaliknya, kalian maunya apa, kita cari jalan tengah, supaya permasalahan ini ketemu jalan keluarnya".
Papa Broto menarik nafas dalam, agaknya ia merasa berat menyampaikan apa yang ada dalam hatinya.
"Kalian menikah hampir empat tahun, tentu saja papa dan mama berharap kalian memberikan cucu pada papa dan mama, tapi sampai dengan saat ini belum ada tanda-tanda Anya hamil, empat tahun bukan waktu yang singkat dari harapan orang tua yang menginnginkan cucu dari anaknya, kamu Rico, tidak bisa tidak kamu harus punya anak. Kamu pewaris Broto corp. kalian tidak bisa terus seperti ini, papa dan mama sudah berusia enam puluh tahun lebih, tak ada jaminan papa dan mama bisa hidup setahun lagi. Jadi sebelum papa dan mama pergi, papa dan mama pingin menggendong cucu dari kalian berdua".
Mendengarkan apa yang disampaikan oleh papa mertua, hati Anya menjadi trenyuh, dia merasa sedih karena tidak bisa memberi cucu pada kedua mertuanya.
Tanpa disadari air mata Anya luruh jatuh ke pipinya, beberapa kali ia harus mengusap airmata dengan punggung tanganya, sampai Rico sadar Anya menangis dan mengambilkan tisyu untuk istrinya.
Saat Rico akan menjawab, Anya melarangnya. Dia sendirilah yang ingin bicara.
"Papa dan mama, sebelumnya saya mohon maaf, sebab sampai dengan saat ini, belum bisa memberikan cucu untuk papa dan mama, saya sadar kelemahan saya pa, ma ( Anya mengusap airmatanya lagi), saya paham perasaan papa dan mama, untuk itu, saya menyerahkan sepenuhnya kepada papa dan mama, apa keinginan papa dan mama supaya segera punya cucu".
" Sebentar, maaf pa ma, kalau aku pribadi, tolong beri kami waktu satu tahun lagi,nggak ....setengah tahun lagi, kami akan berusaha dengan berbagai cara supaya Anya bisa hamil, sebetulnya sudah lama Anya ngajak aku konsultasi, tapi aku selalu menolak, jadi ini bukan kesalahan sepenuhnya Anya".
Ada ketidak puasan di hati Pak Broto,
" Empat bulan Ric, itu cukup, kalau kalian berdua sehat pasti bisa, dalam waktu segitu, kalau perlu, biar perusahaan papa tackle sementara, kalian papa beri waktu untuk bulan madu kedua".
__ADS_1
" Hari ini juga kalian harus ke dokter spesialis kandungan, jangan ditunda-tunda, sahut mama".
" Baik Ma". Jawab Anya.
Sore ini dalam perjalanan ke dokter spesialis kandungan, Anya diam tak bicara, biasanya mereka tak pernah berhenti ngobrol bila dalam mobil.
Rico tahu keresahan Anya, ia pegang tangan istri tercintanya, tampak tangan Anya dingin.
Rico mencium tangan Anya. Anya menoleh ke arah Rico sambil tersenyum, dia meyakinkan suaminya bahwa dia tidak apa-apa melalui sorot mata dan senyum manisnya.
Sampai di dokter kandungan ada berbagai tes yang mereka lakukan, untuk memgetahui hasilnya seminggu lagi mereka harus datang lagi.
Hal tersebut mereka lakukan sampai dengan empat bulan, tapi tanpa hasil.
Dokter menyatakan tidak ada masalah, tapi memang harus lebih sabar.
Dan ternyata itu menyebabkan kesabaran Papa Rico habis.
" Rico, kamu pulang lebih awal, papa mau bicara".
Sampai di rumah, Rico langsung menuju ke ruang kerja, papanya sudah menunggu disana.
" Ini papa langsung aja ya, udah jalan empat bulan Ric tak ada hasil apa-apa, papa dan mama semakin tua, maaf, tapi ini papa menyampaiakanya terpaksa, sangat terpaksa, tapi sepertinya tak ada jalan keluar".
Rico menarik nafas dalam, dia berada dalam dilema, Anya istri yang sangat dicintainya, di sisi lain, papa dan mamanya memang sudah kelihatan tua dan rapuh.
" Baik Pa, sekarang mau papa, Rico sama Anya gimana ?"
" Kamu tahu Om Farhan, teman papa waktu kuliah ?"
" Nggak paham pa. memang apa hubunganya dengan kehamilan Anya ?".
" Dia mau menikahkan anaknya dengan kamu ".
Rico kaget, papanya menyampaikan hal itu, seolah bukan sesuatu yang berat. dia tidak menyangka pikiran papanya sejauh itu.
__ADS_1
" Papa, papa sadar apa yang papa ucapkan ?"
" Sadar, sadar sesadar-sadarnya, nggak ada pilihan lain, papa semakin tua, papa ingin menggendong cucu dari kamu, sedangkan tak ada kepastian Anya kapan hamil".
Rico tampak menyimpan kemarahan pada papanya, tapi dia juga tak bisa berbuat banyak.
" Papa nggak boleh bilang begitu lagi, kasihan Anya dia makin menderita ".
" Kamu pikir mama papa nggak menderita, di usia kami yang semakin tua, bahkan cucupun kami nggak punya !!, adapun tapi jarang banget ketemu, kamu pikir papa nggak sedih !!, papa pingin momong cucu Rico, sesederhana itu. itupun kamu marahi !!"
Tampak kekanak-kanakkan.
" Papa kayak anak kecil, kurang pantas papa ngomong kaya gitu".
" Lihat saja besok kalau kamu sudah seusia papa, di rumah nggak ngapa-ngapain, pasti kamu akan merasakan apa yang papa rasakan".
" Papa fikir dulu deh, jangan membicarakan hal yang nggak masuk akal lagi, aku nggak mau, Aku mencintai Anya, aku nggak akan menggantikan Anya dengan siapapun".
" Siapa yang nyuruh kamu ninggalin Anya, kamu tetap dengan Anya, tapi kamu nikah lagi, nikah sama orang yang nggak mandul, yang bisa kasih papa cucu !!"
Pak Broto tidak sadar, suaranya sangat keras bahkan terdengar sampai keluar.
Anya dan mama mertuanyapun juga kaget mendengar Papa Broto bicara dengan keras.
Saat itu mereka menata meja makan, untuk makan malam.
Mendengar itu Anya jatuh terduduk, mukanya pucat. Mama mertuanya segera membawa Anya keluar ke teras belakang, disana mereka tidak akan mendengar suara papa dan Rico bertengkar.
Mama segera mengambilkan air putih untuk Anya supaya tenang.
Tanpa sadar air mata luruh, jatuh di pipi mulus Anya.
Gara-gara dia keluarga yang harmonis ini jadi ada pertengkaran, gara-gara dia keluarga ini menjadi sedih.
Anya tidak akan memaafkan dirinya sendiri, apabila terjadi sesuatu pada keluarga ini.
__ADS_1