
Maaf pembaca, karena Rico dan Anya sedang bulan madu, jadi ceritanya pasti seputar bikin anak ya.... jadi kita fokus ke Rachel aja yang berusaha mencari papa untuk anaknya.
Jangan lupa bantu author, tinggalkan jejak di setiap episode-nya, like, koment, vote.
makasih.... Ya 😘
 --------------------------------------
Davie harus segera ke hotel, Tante Ana sudah me nunggunya untuk dipuaskan dahaganya, mungkin ini kali terakhir aku puaskan tante Ana dan tante-tante yang lain.
Aku bisa pensiun jadi gundik tante-tante. Tinggal di rumah yang megah dengan istri yang cantik. Walaupun harus tinggal dengan perempuan yang tidak mencintainya tak apa. yang penting ia hidup dengan nyaman.
Davie membawa mobilnya ke hotel tempat ia biasa janjian dengan tante Ana.
Sepanjang jalan ia bersenandung mengikuti alunan musik yang ia putar.
Sampai di hotel ada telepon dari tante Ana.
" Saaaay sampai dimana ?"
"Aku sudah sampai tante, tante di kamar nomor berapa?"
"Aku di kamar nomor 207, segeralah kemari, akan aku tunjukkan sesuatu padamu".
" Sampai di depan kamar, Davie mengetuk pintu"
Ada wanita cantik yang berumur kira-kira empat puluhan tahun membukakan pintu, kelihatan sudah siap, ia sengaja mengenakan lengerie berwarna merah maroon, yang sexy.
Melihat itu Davie tersenyum dikulum, sedang wanita tersebut segera menggandeng tangan Davie.
" Sini Sayang, aku punya hadiah buat kamu".
" Memang kapan tante pulang dari Jepang, kok nggak kabar-kabar".
" Sudah dua hari yang lalu, tapi aku baru bisa keluar sekarang, suamiku baru kerja hari ini".
Si tante mengambil sesuatu dari balik tempat tidur, ia membawa paper bag berisi penuh oleh-oleh dari Jepang untuk Davie.
" Ini sayang, aku bawa oleh-oleh dari Jepang, bukalah ".
Dengan antusias Davie membuka paper bag tersebut, tante Ana membelikan jaket keren untuknya, sepatu dan CD satu box yang berbahan sangat lembut.
" Gimana? kamu suka ?" Tanya tante Ana pada Davie.
__ADS_1
" Wah ini keren tante, makasih banget"
Davie tidak hanya mengucapkan terima kasih, dia segera meraih tubuh langsing tante Ana.
Tidak menunggu lama pakaian mereka telah tanggal, dan dilanjutkan dengan pergumulan layaknya lelaki panggilan yang melayani nyonyanya.
Mereka ulangi hal tersebut dengan berpindah-pindah tempat.
hampir tiga jam pergumulan mereka baru usai.
Mereka berdua terkapar di atas tempat tidur.
" Kok tante bisa beliin begituan buat aku, memang suami tante nggak curiga".
" Nggak dooong, saat suamiku metting kerjaan aku kan shopping, suami sampai di hotel sudah aku masukkan koper gimana dia tahu, kalau pulang sudah malam dan dalam kondisi capek".
" Pinter kamu tan, aku mau mandi dulu ya tan, mau iku nggak?"
" Ikut dooong", sambil terkikik genit.
Mereka berjalan ke kamar mandi bersamaan dalam kondisi polos tanpa busana.
Sementara di rumahnya, Rachel sedang mengetik surat kontraknya untuk Davie, ia ingin segera urusan menikah segera selesai.
Saat mengetik, mama-nya mendekatinya.
" Nggak pa pa, ma, ada apa mama kemari ?"
" Kamu bagaimana, lelaki yang menghamilimu masih tidak mau tanggung jawab?"
" Mana mungkin dia mau nikahi aku ma, dia sudah beristri punya anak pula, biarkan aku kutuk kehidupan perkawinanya tidak bahagia".
Bu Wulan menarik nafas dalam, mau bagaimana lagi, anaknya sudah salah asuh dari awal, dia sudah terlanjur dibentuk seperti ini, tapi Bu Wulan tetap berusaha meluruskan anaknya.
" Wajarlah dia nggak mau menikahimu, sebab dia sudah punya keluarga, ini bisa buat pembelajaran supaya kamu tidak begitu lagi, kamu harus ingat perempuan itu harga dirinya tergantung perbuatanya".
"Apaan si ma, semua sudah selesai, aku juga sudah mempertanggungjawabkan perbuatanku , sudah deh nggak usah lebay, aku juga ada teman yang mau nolong nikahi aku kok".
" Ya maaf kalau mama salah ngomong, tapi yang mama sampaikan itu memang benar adanya, terus siapa lelaki yang mau nikahi kamu, anaknya baik kan, nggak macem-macem kan dia?"
" Dia teman SMA ku ma, udah deh jangan banyak tanya, aku pusing nih, mama keluar dulu deh".
Rachel sengaja berbohong dengan mamanya.
__ADS_1
Sementara da rasa sakit di hati Bu Wulan saat disuruh keluar ruang oleh anaknya, tapi untuk ngeyel tetap di tempat ujung-ujungnya nanti mereka malah bertengkar.
Supaya hati Bu Wulan tidak semakin terluka, ia memilih untuk mengalah dan keluar ruang.
Rachel sama sekali tidak merasa bersalah, dia memang terbiasa seperti itu.
Rachel sangat mencintai mama-nya, tapi disaat keras kepalanya keluar ia menjadi kurang ajar, pun terhadap mama-nya sendiri.
Hal itu disadari betul oleh Bu Wulan.
Bu Wulan lebih memilih untuk ke ruang keluarga yang setiap saat terasa dingin, sebab selalu ia sendiri yang menonton tivi, paling ditemani oleh para asisten, itupun bila para asisten pas tidak sibuk.
Sementara Rachel menuliskan surat perjanjian kawin kontrak dengan Davie, dia sudah menuliskan angka yang fantastis di kontrak tersebut, ia yakin Davie mau dengan tawaran uangnya.
Dasar laki-laki mata duitan, pemeras, awas aja nanti kalau dia macam-macam. Kontrak dia buat seminim mungkin Davie menuntut hal lain-lain.
Tapi sekali lagi Rachel mengingat saat bercumbu di hotel dengan Davie, dia begitu perkasa, apakah iya aku tak akan tergoda.
Ia menggelengkan kepala, ah aku pasti bisa, Davie bukan apa-apa dibandingkan dengan beberapa lelaki yang mengencaniku.
Sementara Davie sudah berpisah dengan tante Ana, ada segepok uang yang ia terima dari tante Ana.
Ia mampir ke Bank sebentar untuk menyimpan uangnya, ia tidak hitung uang dari tante Ana, ia langsung tabung uang itu dengan cara setoran tunai, ternyata berjumlah lima belas juta. Sepadan pikirnya.
Ia sudah melajukan mobilnya menuju ke rumah. Ada senyum mengembang di bibirnya.
Ia membayangkan perempuan cantik yang akan menikahinya Rachel.
Tadi Rachel bilang apa? No sex ?! ia tersenyum lagi, dia tidak akan bisa menolak pesonaku di atas ranjang.
Surat kontrak tinggalah surat, ia bisa mengubah surat kontrak itu menjadi surat yang tanpa harganya.
Bagaimana mungkin perempuan liar seperti Rachel menolak hubungan sex denganya, dia nggak akan bisa.
Sampai di rumah Davie mencoba menghubungi Rachel, dan dia tidak mendapat jawaban, mungkin saat ini Rachel sibuk.
Ia meninggalkan pesan.
' Kalau surat kontrak sudah selesai, perlihatkan dulu kepadaku, belum tentu aku setuju'.
Rachel melihat pesan yang datang tanpa membukanya, tampak dua tersenyum sinis.
' Nggak mungkin kamu menolak uang segini, dasar lelaki matre, tunggu saja kalau kamu lihat angkanya, kamu akan klepek-klepek' batin Rachel.
__ADS_1
Hari sudah sore ia janjian hang out jam tujuh malam ini dengan teman-temanha
Ia tinggalkan surat kontrak yang sudah selesai ia buat menuju kamar mandi, jam tujuh nanti ia janjian dengan teman-temannya untuk hang out.