
Fyi "Elder memiliki arti antusias"
“Loh kalian pulang bareng?” tanya Tari saat melihat kedua anaknya yang pulang bersama. Hazel menampilkan senyumnya sambil menganggukkan kepalanya. Lihatlah padahal baru tadi ia merasa sedih namun kini ia sudah bisa untuk mengubah ekspresinya lagi.
Tara juga Hazel menyalami tangan Tari secara bergantiannya. Wajah Tara masih dengan wajah datarnya. Memang semenjak perceraian kedua orang tuanya laki-laki tersebut seperti lupa cara berekspresi kecuali bersama dengan Hazel.
“Roy lagi main apa dek?” tanya Hazel pada Roy yang kini tengah bermain bongkar pasang miliknya. Gadis tersebut yang sudah duduk di samping Roy. Berbeda dengan Tara yang langsung naik ke atas kamar nya tanpa mau repot-repot untuk menyapa adik laki-laki nya tersebut. Tidak, bahkan bagi Tara adik nya hanyalah Hazel.
“Entah kapan kakak kamu bisa berubah kayak dulu lagi,” ucap Tari dengan helaan nafasnya. Ia merindukan anak laki-laki nya yang dulu. Saat keluarga mereka masih utuh.
Hazel hanya terdiam. Ia mengerti mengapa sikap kakaknya seperti itu. Namun dengan menyalahkan adik-adik mereka juga merupakan hal yang salah karena mereka tak mengetahui apapun.
Bagi Tari kini semua anaknya berbeda. Hazel yang dulu saat kecil begitu bawel dan begitu banyak bicara kini sudah berubah, tak lagi banyak bicara seperti dulu. Tara yang paling penyayang malah berubah acuh tak acuh pada keluarganya sendiri.
“Mbak mandi dulu ya, nanti mbak temenin main lagi,” ucap Hazel pada adik laki-laki nya tersebut yang dibalas dengan anggukan dan senyuman oleh Roy. Hazel memang sangat dekat dengan adiknya tersebut. Bahkan menurutnya Roy adalah yang paling ia sayangi. Terlepas dari apa yang dilakukan ayah adiknya tersebut.
Mengingat tentang pelecehan yang pernah ia dapatkan rasanya Hazel sangat marah namun ia menahannya hanya untuk adik-adiknya juga Mama nya. Ia tak ingin Adik nya merasakan apa yang ia rasakan. Kini yang bisa Hazel lakukan hanya menjaga jarak dan tak terlibat di satu ruangan hanya berdua dengan ayah tirinya tersebut. Sebenarnya saat Hazel lulus SMA dan tinggal di sana, ayah tirinya tersebut masih sering mencari kesempatan namun ia beruntung karena kini Roy dapat melindunginya walaupun bocah tersebut masih kecil.
Hazel tak pernah memberitahu kakaknya tentang ini dan ia berharap kakaknya tersebut tak akan tahu, atau kakaknya tersebut akan membuat kehebohan. Hazel sebenarnya ingin untuk pindah ke Jakarta lagi mengingat hubungannya dengan ibu tirinya sudah membaik. Atau dia akan tinggal di apartemennya. Namun ia sudah terlanjur kuliah di Surabaya, dan ia tak ingin membuat ibunya curiga serta ia masih belum memiliki alasan yang tepat untuk ia berikan pada ibunya.
Hazel segera berjalan ke arah kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket. Pikirannya tersebut kini begitu kacau, apalagi ditambah dengan masalah yang Akasa buat.
Setelah selesai dengan kegiatannya. Hazel segera berjalan ke arah kamar kakaknya yang berada di samping kamarnya. Hazel mengetuk pintu lebih dulu. Setelah dipersilahkan masuk Hazel segera masuk dan menghampiri kakaknya yang tengah sibuk dengan laptopnya.
“Kenapa dek?” tanya Tara sambil menatap adiknya tersebut dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
Hazel kini duduk di sofa yang berada di kamar kakaknya tersebut sambil memakan cemilan yang berada di sana. Tara segera menghampiri adiknya tersebut lalu duduk di samping Hazel.
“Bang, Hazel sama Akasa cuma temenan,” ucap Hazel tiba-tiba yang membuat Tara berdecak mendengar ucapan adiknya tersebut. Seolah tahu kemana akhirnya pembicaraan tersebut.
“Gak boleh, Abang tahu Hazel suka dia. Abang gak mau Hazel jatuh lebih dalam lagi, abang cuma lagi bantu untuk membuat benteng,” ucap Tara yang membuat Hazel berdecak dan mendengar mendengarnya.
“Bang, Hazel gak mau kalau Akasa malah mikir yang enggak-enggak kalau tiba-tiba Hazel ngejauh padahal status kita juga cuma teman,” ucap Hazel pada kakaknya tersebut.
Tara menarik nafasnya dalam, “Abang kasih kamu waktu untuk menjauh sama dia,” ucap Tara akhirnya yang membuat Hazel tersebut senang mendengarnya.
Hazel merebahkan tubuhnya di sofa dengan paha Tara sebagai bantalannya. Tara tersenyum melihat adiknya tersebut lalu mengeus puncak kepala Hazel sayang.
“Makasih udah jadi penguat untuk Abang,” ucap Tara dengan begitu tulusnya.
“Abang juga penguat untuk Hazel, abang yang tau semua tentang Hazel. Hazel benar-benar bersyukur diberikan kakak seperti abang,” ucap Hazel dengan senyumannya. Mereka adalah penguat satu sama lain. Tara yang memang begitu menyayangi adiknya selalu bisa menjadi orang yang Hazel andalkan. Saat ia tak bisa percaya pada siapapun namun Tara, adalah satu-satunya orang yang bisa ia percaya.
Tara adalah pundak yang selalu menjadi tempatnya bersandar, telinga untuknya bercerita, juga tangan yang menghapus air matanya. Tara bukan hanya sosok kakak untuk Hazel. Namun juga orang tua, bahkan Tara lebih baik dari pada orang tuanya untuk menjaga nya.
“Dia gak pernah nyentuh-nyentuh Hazel lagi,” tanya Tara sambil mengelus puncak kepala adiknya tersebut sayang. Hazel tersenyum menenangkan sambil menggelengkan kepalanya. Hazel tentu tahu siapa yang Tara maksud.
“Kalau di kamar jangan lupa kunci pintu, kalau lagi berdua sama Roy jangan di tempat tersembunyi. abang udah masang CCTV tersembunyi tanpa sepengetahuan yang lain. Kalau sampai dia menyentuh adik abang lagi jangan cegah abang untuk tidak bertindak,” ucap Tara dengan begitu tegasnya. Ia tak ingin jika mental Hazel kembali di hancurkan. Hazel memang begitu kuat setelah banyak nya orang yang terus datang untuk menghancurkan mentalnya ia masih bisa bersikap baik -baik saja. Bahkan pada ayah tirinya ia masih bisa bersikap seolah tak ada apapun.
“Roy sekarang udah bisa jagain Hazel juga Bang, abang gak perlu khawatir. Apa lagi sekarang Abang juga ada di sini sekarang buat jagain Hazel,” ucap Hazel dengan senyumannya yang di balas dengan senyuman dan anggukan oleh kakaknya tersebut. Namun dapat Hazel lihat jika kakaknya tersebut menampilkan raut sedihnya.
“Abang udah dapet pacar?” tanya Hazel dengan tatapan menggodanya pada Tara yang justru terkekeh mendengarnya.
__ADS_1
“Gak usah aneh-aneh, Abang mau fokus sama Hazel dulu,” ucap Tara yang sontak membuat Hazel memelotot mendengarnya lalu segera menegakkan tubuhnya. Kakaknya tersebut tak pernah terdengar info datingnya ia malah jadi khawatir jika kakaknya tersebut malah belok.
“Abang, jangan sampai ya nanti Hazel ngelangkahin Abang,” ucap Hazel dengan tatapan tak suka pada abangnya tersebut. Sepertinya ia harus bertindak untuk mencarikan kekasih untuk abang nya tersebut.
“Emang itu yang abang pengen. Abang baru bisa tenang setelah abang nyerahin Hazel sama orang yang tepat,” ucap Tara dengan senyumannya yang membuat Hazel berdecak kesal.
“Gak. Abang harus lebih dulu dari Hazel,” ucap Hazel tegas dan tak menerima bantahan. Tara hanya terkekeh mendengarnya.
“Kita lihat saja.”
***
Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.
Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.
Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath
See you next chapter guys.
Thank for Reading.
Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.
Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita aku yang baru. Masih anget nih.
__ADS_1