
Fyi "Mimosa memiliki arti sensitif"
***
Keadaan mobil antara dua orang yang dulu pernah menjalin hubungan dan sudah lama tak bertemu itu tak ada rasa canggung. Keadaan masa sama. Masih seperti sebelum terjadi luka di antara mereka.
“Istri kamu gimana kabarnya?” tanya Hazel menoleh ke arah Argo dengan menaikkan sebelah alisnya. Ia penasaran sebenarnya apa yang terjadi pada Argo dan istrinya, entah apa yang sebenarnya kakaknya lakukan pada laki-laki tersebut.
“Gak tau,” ucap Argo santai yang malah membuat Hazel melongo mendengarnya. Bagaimana bisa seorang suami tak mengetahui tentang istrinya sendiri.
“Lah gimana bisa gak tau?” tanya Hazel menaikkan sebelah alisnya bingung.
“Setelah aku keluar dari rumah sakit, aku milih buat kuliah di luar negeri sekalian ngurus perusahaan yang ada di sana,” ucap Argo menjelaskan membuat Hazel terkejut dan mengingat ucapan kakaknya yang mengatakan jika kakaknya tersebut membuat Argo masuk ke rumah sakit.
“Istri kamu gimana?” tanya Hazel dengan penasaran. Hazel berharap kakaknya tersebut tak melakukan hal yang begitu serius pada istri Argo.
“Dia lumpuh setelah mengalami kecelakaan. Dan karena kurang pede akhirnya dia gak lanjut kuliah lagi dan hanya mengurus butik di Jakarta,” ucap Argo yang tentu membuat Hazel terkejut mendengarnya. Ia tak tahu jika kakaknya sampai membuat istri Argo lumpuh. Ia tak tahu jika kakaknya sampai melakukan hal senekat itu. Ia sepertinya harus berbicara pada kakaknya tersebut tentang masalah ini. Menurut Hazel kakaknya sudah begitu keterlaluan.
“Aku turut berduka,” ucap Hazel merasa iba. Walau kedua orang tersebut sudah menyakitinya namun Hazel juga tak akan tega jika mereka harus berada di posisi ini.
“Belum meninggal juga kok Zel,” ucap Argo yang sontak membuat Hazel memelotot sambil menggelengkan kepalanya.
“Eh maksud aku bukan kita, maksud aku tuh….” ucapan Hazel terpotong karena Argo yang lebih dulu memotong ucapannya dengan tawa laki-laki tersebut.
“Iya iya, aku ngerti. Santai aja, aku cuma bercanda,” ucap Argo dengan tawanya yang membuat Hazel menghela nafasnya lega. Ia berpikir Argo akan salah paham dengan ucapannya tersebut.
“Oh iya, tentang abang aku. Maaf ya,” ucap Hazel dengan penuh rasa bersalahnya pada Argo juga istri laki-laki tersebut.
Argo yang mendengarnya hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya mengerti.
“Sans aja. Aku juga kalau di posisi abang kamu pasti bakalan marah kalau ada yang nyakitin adik kesayangannya. Aku pantes ngedapetin itu,” ucap Argo dengan senyumannya. Menoleh sekilas ke arah Hazel saat lampu menunjukkan warna merah.
“Makasih ya, pengertiannya,” ucap Hazel lagi.
__ADS_1
“Udah ada tujuan?” tanya Hazel menaikkan sebelah alisnya. Biasanya jika ia pergi bersama Argo laki-laki tersebut tak pernah memiliki tujuan apalagi di Surabaya yang notabennya Argo tak mengetahui lingkungan ini.
“Cafe, yang dulu sering kita dateng pas aku ke sini masih ada?” tanya Argo karena takut jika terjadi perubahan.
“Masih kok, sekarang malah tambah bagus. Aku masih sering ke sana, sama temen-temen aku,” ucap Hazel dengan senyumannya sambil menoleh ke arah Argo yang menganggukkan kepalanya.
Hingga tak lama mereka akhirnya sampai di cafe yang biasanya mereka kunjungi. Hazel segera keluar dari mobil begitupun Argo. Hingga mereka berjalan bersama memasuki cafe tersebut. Argo lebih dulu memesan makanan untuk mereka sedangkan Hazel mencari meja.
“Itung-itung sarapan,” ucap Argo yang membuat Hazel malah tertawa mendengarnya. Bersama Argo masih saja sama seperti dulu. Selalu bisa membuatnya tertawa.
“Abang kamu lagi di sini?” tanya Argo dengan takut-takut. Ia takut jika Tara akan datang dan mengejarnya lagi. Tak pernah Argo duga jika Hazel memiliki kakak yang begitu menakutkan.
“Kenapa? Takut ya?” selidik Hazel dengan kekehannya yang membuat Argo menggaruk tengkuk bagian belakangnya sambil tersenyum canggung.
“Tenang aja, Bang Tara udah balik ke Malaysia,” ucap Hazel menjelaskan yang membuat Argo tanpa sadar menghela nafasnya lega. Hingga saat tersadar apa yang ia lakukan ia menjadi salah tingkah sedangkan Hazel malah tertawa karena nya.
“Jadi abang kamu selama ini ada di Malaysia?” tanya Argo yang Hazel balas dengan sebuah anggukan.
“Ya, dia emang jarang pulang,” ucap Hazel menjelaskan. Argo mengangguk mengerti jadi ini lah mengapa sebelumnya ia tak pernah bertemu dengan Tara.
“Baik. Ya meskipun sering berantem,” ucap Hazel dengan cerngirannya. Entah bagaimana namun pembicaraan ini begitu canggung untuk Hazel.
“Kalian udah jadian?” tanya Argo dengan hati-hati yang Hazel balas dengan gelangan juga sebuah senyuman.
“Aku udah bilang kan, kita cuma sahabat,” ucap Hazel dengan serius. Dan kini rasanya Argo begitu menyesal telah melukai gadis sebaik Hazel. Argo berpikir jika Hazel adalah gadis baik yang begitu setia. Bahkan setelah hampir satu tahun berlalu Hazel masih bersahabat saja dengan Akasa.
“Maaf ya,” ucap Argo yang membuat Hazel terkekeh mendengarnya.
“Udah lah. Nanti malah jadi canggung,” ucap Hazel dengan kekehannya yang membuat Argo ikut terkekeh mendengarnya.
Tak lama makanan mereka akhirnya datang. Mereka memilih memakan makanan mereka lebih dulu. Makan tanpa ada yang bersuara. Hingga setelah selesai dengan makanan mereka. Barulah Argo memulai pembicaraan.
“Temenin aku jalan mau?” tawar Argo yang membuat Hazel berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman. Hitung-hitung mengenang masa lalu bukan?
__ADS_1
“Udah bolos ini, jadi sekalian aja,” ucap Hazel dengan tawanya yang membuat Argo juga ikut tertawa mendengarnya.
“Yuk, berangkat,” ucap Argo yang Hazel balas dengan anggukan. Hingga akhirnya mereka berjalan keluar bersama. Hingga saat baru keluar dari cafe tersebut Hazel tak sengaja berpapasan dengan Fernando yang terkejut melihat Hazel.
“Hazel, kebetulan ya,” ucap Fernando yang Hazel balas dengan anggukan.
“Iya kebetulan,” ucap Hazel. Argo kini menaikkan sebelah alisnya bingung karena tak mengenal laki-laki tersebut. Sepertinya banyak yang Argo lewatkan selama ini.
“Ehm aku duluan ya Fer,” ucap Hazel lalu segera pergi meninggalkan Fernando yang begitu penasaran dengan laki-laki yang bersama dengan Hazel.
Argo membukakan pintu mobil untuk Hazel dan semua itu tak luput dari tatapan Fernando yang masih menatap mereka dengan tatapan penasarannya.
“Someone like you?” tanya Argo dengan senyumannya yang malah membuat Hazel terkekeh sambil menganggukkan kepalanya.
“Gak heran sih. Udah cantik, baik lagi. Siapa yang gak suka,” ucap Argo yang malah membuat Hazel tertawa mendengar ucapan laki-laki tersebut.
Setelahnya Argo malah mengajak Hazel menuju taman yang pernah mereka datangi dulu. Benar-benar perjalanan mengenang masa lalu.
***
Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.
Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.
Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath
See you next chapter guys.
Thank for Reading.
Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.
Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita temen aku ini ya. Tapi jangan lupa balik lagi ya.
__ADS_1