
Rachel berfikir keras bagaimana supaya ia bisa dapat suami. Hanya cukup status menikah, tapi tidak berhubungan atau berkomunikasi layaknya suami istri.
Tak menunggu lama ia memencet nomor yang tak tersimpan di ponselnya.
" Hallo, kita bisa ketemu di cafe RB, ada yang perlu kita bicarakan".
" Oke sayaang, jam berapa mau kamu ?"
" Jam satu siang ini".
" Oke siap, aku tunggu kamu disana".
Jam menunjukkan pukul dua belas siang, Rachel membawa mobilnya menuju ke arah cafe tempat dimana ia janjian tadi.
Jam satu kurang sepuluh menit Rachel tiba di cafe, ia langsung memarkirkan mobilnya.
Rachel tidak tahu, seperti apa orang yang ia ajak janjian, ia mencari saja tempat yang kosong, kalau dia hafal dia pasti mendekatiku, pikir Rachel.
Benar saja, tak lama kemudian ada seorang lelaki yang mendekatinya. Lelaki perlente dengan kaos ketat mencetak bentuk tubuhnya yang six pack.
" Hai... " Memandang Rachel dengan mata nakal dan genit.
" Kamu yang memghubungi aku kemarin ?"
" Ya "
" Kamu butuh berapa duit dari aku ?"
"Nggak banyak tiga ratus juta saja, semua foto akan aku serahkan padamu".
Rachel memandang sinis lelaki di depanya. Tapi dia agak kaget, lelaki di depanya tampak bersih dan wangi, walaupun tidak terlalu cakep. Tapi menarik dan lihatlah badanya.
Rachel tanpa sadar menggelengkan kepalanya, sekelebat tadi dia membayangkan sedang bergumul dengan pria di depanya.
" Kamu mau dapat uang lebih banyak ?"
" Maksudmu ?"
" Aku akan memberikan uang lebih dari yang kamu minta, kalau kamu mau menikahi aku".
__ADS_1
Lelaki di depan Rachel memandang Rachel dengan tidak habis fikir.
" Maksud kamu apa ?"
" Aku sedang hamil, aku butuh lelaki untuk menikahiku, but no sex, hanya kawin kontrak, nanti saat anakku lahir kita cerai".
Lelaki di depanya tersenyum penuh kemenangan.
" Yang jelas itu bukan anakku kan?, berapa bulan kamu hamil?"
" Itu bukan urusanmu !!" Jawab Rachel ketus.
" Aku perlu tahu, aku kan calon suamimu", sambil tersenyum mengejek Rachel.
Rachel tidak peduli dengan senyuman lelaki di depanya tersebut, ia lebih antusias dengan kalimatnya.
" Oke kalau kamu deal, aku akan segera membuat surat kontraknya, dan kita harus segera mungkin menikah".
Rachel berdiri dan akan segera berlalu, tapi ia ingat ada yang belum diketahui.
" Oh ya siapa nama kamu ?"
Rachel menatap pria dihadapannya dengan sedikit jengkel.
" Aku akan menulis surat kontrak, bagaimana kalau aku nggak tahu namamu ?!"
"Davie, namaku De a ve i e "
" Ok Davie nanti aku hubungi".
Rachel meninggalkan Davie di cafe itu, dengan segelas capucino hangat dan pastry cream di meja.
Sementara, Davie tersenyum penuh kemenangan sesaat Rachel pergi meninggalkanya.
Davie adalah lelaki panggilan tante-tante kesepian. Dia sangat disukai oleh tante-tante. karena badanya yang berotot dan wajahnya yang menarik, cukup membuat para tante klepek-klepek dibuatnya.
Kalau betul ia akan jadi menantu orang kaya, ia tak perlu lagi jadi lelaki panggilan. Toh apapun keinginanya bakalan terwujud.
Davie bukanlah berasal dari keluarga tak mampu, dia berasal dari keluarga di desa yang memiliki sawah yang luas, kedua orang tuanya mengantarkanya ke kota untuk kuliah.
__ADS_1
Tapi sampai di kota pergaulanya salah, kehidupan kota mengubahnya menjadi lelaki metropolis yang menganut pergaulan bebas.
Setiap bulan orang tuanya hanya memberi jatah cukup untuk kehidupanya sehari-hari, tapi itu sudah tidak cukup lagi bagi Davie.
Setelah lulus kuliah dua tahun yang lalu, ia memilih hidup bebas nan enak, jadilah ia simpanan banyak tante.
Sampai ia punya rumah dan kendaraan sendiri. Walaupun rumahnya minimalis, tapi untuk tinggal sendiri itu tidak jadi masalah untuk Davie.
Segala macam terpenuhi, tampilan, makanan, bahkan sex, ia dapat dengan gratis malah dapat upah.
Setiap orang tuanya menghubungi untuk disuruh kembali ke desa untuk dinikahkan dengan wanita pilihan orang tuanya ia selalu menolak.
Jadilah ia sekarang pria bebas yang kaya.
Dan ada tawaran yang menarik, dari wanita cantik bukan tante-tante kepadanya. Kenapa ditolak ??, toh tujuanya hampir sampai.
Sekali lagi Davie tersenyum membayangkan hal-hal yang akan ia dapatkan bila menikahi Rachel.
Ia menyeruput capucinonya, dia tidak bingung memikirkan masa depannya.
Masa depan sudah terlihat jelas indah di matanya.
Wanita cantik dengan bergelimang harta, akan menjadi kehidupanya di depan.
Dan sebentar lagi ia akan jadi bos, bos sebuah perusahaan.
Bila nanti istrinya tidak mau mengelola perusahaan orang tuanya, dialah nanti yang akan menggantikan. Istri cukup di rumah, tak perlu bekerja.
Meskipun nanti ia harus merawat entah anak siapa, ia nggak peduli, toh ia sendiri juga menanam banyak benih di kandungan banyak wanita.
Sekali lagi Davie tersenyum, kalau tidak boleh dikatakan menyeringai, dia akan menang banyak.
Korbanya kali ini kelas kakap. Gadis cantik, sexy dan kaya.
Tiba-tiba ponselnya berdering, terdengar suara wanita dari seberang.
" Sayang aku kangen, aku tunggu kamu di hotel biasa, cepat ya, aku nggak mau nunggu kamu terlalu lama".
"Ok sayang, lima belas menit lagi aku sampai di hotel".
__ADS_1
Davie beranjak dari tempatnya duduk, ia berjalan sambil bersenandung, kelihatannya moodnya lagi bagus.