
Fyi "Cornflower memiliki arti kelezatan/kehalusan, beradab budi pekerti"
***
Hazel baru saja keluar dari kelasnya saat tangannya sudah lebih dulu di tarik. Dengan sopan gadis tersebut melihat ke arah pelaku yang ternyata adalah Akasa. Hazel menghela nafasnya kasar karena terlalu kaget.
“Dasar, ngagetin aja. Kamu ngapain disini?” tanya Hazel sambil menaikkan sebelah alisnya bingung melihat Akasa yang sudah berada di depan kelasnya.
“Bolos ya,” ucap Hazel dengan begitu hebohnya sambi menatap tajam pada Akasa yang sontak menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Evelyn tersebut.
“Aku jam siang,” ucap Akasa membela dirinya. Awalnya Hazel masih memicingkan matanya curiga namun akhirnya ia menganggukkan kepalanya melihat ke sungguhan di wajah Akasa yang terlihat sama sekali tidak berbohong.
“Kamu tadi berangkat sama siapa? Aku awalnya mau ke rumah kamu buat jemput kamu tapi di jalan aku liat kamu udah berangkat sama cowok,” ucap Akasa dengan tatapan yang begitu sulit diartikan, seperti tengah cemburu namun ia tutupi dengan wajah penasarannya.
“Oh itu, abang aku. Bang Tara,” ucap Hazel menjelaskan agar Akasa tidak salah paham dengan nya. Meskipun mereka tidak menjalin hubungan namun Hazel merasa harus menjelaskannya pada Akasa mengingat mereka sudah saling menyatakan perasaan satu sama lain. Hazel hanya tak ingin Akasa menganggap ia gadis yang mau pada semua orang.
“Kamu punya Abang?” tanya Akasa dengan tatapan penuh tanya. Sebelumnya ia memang tak pernah tahu jika ternyata Hazel memiliki kakak.
Karena Tara sedari kecil memang tidak pernah pernah menetap di Surabaya. Berbeda dengan Hazel yang memang pernah bersekolah di Surabaya saat SD selama beberapa tahun juga saat SMP. Meskipun saat SMP waktu itu mereka tinggal di rumah Papa Hazel yang cukup jauh dari tempat tinggal mereka hingga saat itu Hazel dan Akasa tidak berada di sekolah yang sama.
Tara hanya akan datang ke Surabaya hanya untuk berlibur. Selalu seperti itu sedari dulu. Hazel saat SD tinggal di Surabaya bersama kakek dan neneknya sedangkan saat itu Tara tinggal bersama kedua orang tua mereka di Jakarta. Hingga saat orang tuanya berpisah Kakak dan Nenek nya pindah ke Malaysia dan Tara yang akhirnya memilih tinggal dengan mereka sedangkan Hazel tinggal bersama dengan Ayah juga neneknya, hingga ibu tirinya tersebut datang.
“Iya, aku punya abang. Abang yang baik juga ngeselin,” ucap Hazel dengan kekehannya yang membuat Akasa ikut tertawa mendengarnya. Kini mereka sudah berjalan bersama di koridor kampus dan tujuan mereka kini adalah kantin. Karen Hazel yang sudah lapar ingin memuaskan perutnya.
“Kenapa aku gak pernah tau ya?” tanya Akasa dengan kerutan keningnya.
“Hm soalnya dari kecil dia emang tinggal di Jakarta, terus setelah orang tua kita cerai dia tinggal di Malay. Dia juga cuma dateng waktu liburan, itu pun gak lama,” ucap Hazel menjelaskan yang membuat Akasa menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Hazel tersebut. Ia berpikir Hazel adalah anak pertama karena menurutnya meskipun terkesan manja gadis tersebut begitu mandiri dan dewasa juga begitu kuat.
“Oh iya, hp kamu kenapa gak aktif dari semalem?” tanya Akasa yang kini membuat Hazel menepuk keningnya kala mengingat jika ia lupa mengaktifkan kembali ponselnya yang semalam ia nonaktifkan karena Selin yang mengirimnya pesan beruntun.
__ADS_1
Semalam ia bahkan tertidur saat bersama dengan Tara dan sampai sekarang ia malah tidak mengaktifkan kembali ponselnya, Hazel segera merogoh tas nya untuk mengambil ponselnya dan menghidupkannya kembali.
Hingga dapat ia lihat di sana begitu banyak panggilan pesan masuk juga panggilan tak terjawab dari Akasa juga nomor baru yang pasti adalah Selin.
Dan satu nama lain yang tertera di sana, Rima. Wanita tersebut juga ternyata menghubunginya semalam. Selin memang benar-benar sialan hingga membuatnya harus mematikan ponselnya.
“Sorry kemarin ada pengganggu makanya aku matiin aja,” jelas Hazel yang membuat Akasa menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan Hazel tersebut.
“Siapa yang gangguin? Cewek apa cowok? Aku akan ngasih pelajaran sama orang yang sudah ganggu kamu,” ucap Akasa yang kini sudah terlihat rahangnya yang mengeras menandakan jika ia kini tengah marah pada orang yang berani mengganggu gadisnya tersebut.
“Selin,” ucap Hazel singkat namun penuh akan rasa kesal saat menyebutkan nama wanita tersebut. Akasa yang mendengar ucapan Hazel terdiam, bahkan laki-laki tersebut menghentikan langkah nya.
Hazel ikut menghentikan langkahnya lalu melihat ke belakangnya yang kini Akasa sudah tertinggal satu langkah. Hazel tersenyum dengan sinis menatap laki-laki tersebut dengan sinis.
“Kaget? Atau kangen?” tanya Hazel begitu sinis. Hazel menipiskan bibir nya Lalu segera berjalan lebih dulu dari Akasa. Akasa yang melihat hal tersebut menghela nafasnya lalu segera mengejar Hazel lalu merangkul pundak gadis tersebut.
“Cih ngapain cemburu?” ucap Hazel dengan begitu acuhnya yang setelahnya membuat Akasa terkekeh mendengarnya karena tahu jika sebenarnya Hazel benar-benar cemburu padanya. Tentu saja ia senang melihat hal tersebut karena Hazel yang ternyata memiliki perasaan untuknya.
Selanjutnya mereka segera pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka. Setelah selesai dengan makannya Akasa segera kembali ke kelasnya. Sedangkan Hazel yang memang hanya punya satu jam kelas akhirnya memutuskan untuk pulang dan menemui Rima karena ia sudah memiliki janji dengan wanita tersebut.
Seperti saat ini Rima benar-benar menunggunya di depan kampus mereka untuk menjemput Hazel karena gadis tersebut mengatakan ia tidak membawa mobil.
“Mbak udah nemu tempat nya?” tanya Hazel pada Rima yang kini tengah menyetir mobilnya. Senyuman wanita tersebut terbit sambil menganggukkan kepalanya.
“Syukur deh, kemarin tuh aku benar-benar lupa dan malah matiin ponsel,” ucap Hazel sambil menghela nafasnya. Ia kemarin padahal sudah berniat untuk membahas rencana bersama dengan Rima namun Selin mengacaukan semuanya.
“Iya gak papa,” ucap Rima dengan senyuman memakluminya yang Hazel balas dengan senyuman juga.
“Kakak kamu dateng ya?” tanya Rima yang kini membuat Hazel sontak menoleh ke arah wanita tersebut dengan kerutan di keningnya.
__ADS_1
“Mbak tau sama Abang?” tanya Hazel penasaran yang Rima balas dengan anggukan.
“Gak sengaja pernah beberapa kali lihat, akhirnya mbak tanya ke Mama,” ucap Rima menjelaskan yang membuat Hazel menjawabnya dengan anggukan.
“Kamu sama Abang kamu jarak usia berapa tahun Zel?” tanya Rima yang lagi-lagi membuka pembicaraan karena Hazel yang hanya diam saja.
“Dua tahu. Abang tuh emang masih umur dua puluh dua. Tapi dia lebih tua dari umurnya jika sudah menyangkut Hazel,” ucap Hazel dengan kekehannya jika mengingat tentang kakaknya tersebut.
“Namanya juga kakak, pasti ingin melakukan yang terbaik untuk adiknya,” ucap Rima yang Hazel balas dengan anggukan.
Pembicaraan tersebut terus mengalir hingga mereka sampai di tempat tujuan mereka.
***
Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.
Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.
Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath
See you next chapter guys.
Thank for Reading.
Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.
Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita aku yang baru. Masih anget nih.
__ADS_1