
Rico mencari Anya, dia masih belum terbiasa ada yang lain di rumah ini.
Tapi dicari di seputar rumah Anya tidak kelihatan, sehinggga ia mencari di kamar mereka.
Dia kaget justru yang ada disana adalah Ana, yang sedang merapikan tempat tidurnya beradu semalam dengan Anya.
Tampak Ana tersenyum manis padanya saat Rico membuka pintu.
" Maaf Mas Rico, tadi kakak menyuruh aku membereskan tempat tidur".
Rico mengernyitkan dahinya. Tidak biasanya Anya berlaku demikian, saat turun, biasanya kamar sudah dalam kondisi rapi.
Rico tidak menjawab kalimat Ana. Justru dia yang balik bertanya.
" Anya kemana ?"
" Kakak bilang tadi katanya pingin belanja di tukang sayur depan rumah, makanya kamar dia perintahkan untuk dibereskan".
Ini aneh lagi Anya nggak mungkin melakukan hal yang tidak biasa ia lakukan. Tapi Rico tidak mau memikirkan sesuatu yang kurang penting, ia segera pamit pada Ana.
" Aku mau berangkat kerja".
" Oh ya mas, aku antar ke depan ya ?"
Rico hanya menganggukkan kepalanya dengan canggung.
Sampai depan rumah, Ana tiba-tiba mencium pipi Rico kanan dan kiri.
Rico terpaku, dia tidak menyangka Ana akan mencium pipinya dengan santainya, dengan disaksikan oleh beberapa asisten rumah tangga yang menyaksikan dengan sebal.
Menyadari itu Rico segera mendorong Ana dengan pelan.
" Aku berangkat dulu".
" Ya Mas, hati-hati ya, oh ya mba Anya tadi pagi cerita ke aku, katanya mas Rico semalam tidur di kamar atas", tampak matanya terlihat sedih.
Rico menoleh ke arah Ana lagi. Dia kaget dengan ucapan Ana. Mungkinkah Anya melakukan itu karena cemburu. pikir Rico
" Ya maaf, aku belum biasa Na, nanti malam aku ke kamar kamu".
Wajah Ana yang menunduk langsung mendongak dengan wajah berseri.
" Ya mas, terima kasih, aku tunggu".
Pembicaraan mereka tidak luput dari pandangan Anya yang menyaksikan dari jauh, apa pembicaraan mereka tidak terdengar oleh Anya, tapi sikap Ana yang berani tadi, tidak luput dari pandangan Anya.
Mbak Lastri, asisten rumah tangga keluarga mengelus bahu Anya.
" Sabar mbak"
Anya segera menghapus air yang mengalir di pipinya, dan mengubah ekspresi sedihnya dengan senyum.
" Nggak pa pa Mbak Lastri, yuk ah kita lanjutkan kerjaan di belakang, aku mau bikinin bolu pisang buat papa".
" Ayo Mba Anya aku bantu".
Sementara Ana berjalan menuju ke kamarnya dengan senyum mengembang. Ada rasa puas karena bisa menarik simpati Rico.
Ia celingukan mencari madu- nya, senyumnya muncul lagi, gertakanya tadi pagi, cukup membuat nyali Anya ciut.
Selanjutnya mas Rico akan menjadi milikku seutuhnya. Senyum manis muncul lagi dari mulut Ana.
Di sore hari, seperti biasa keluarga berkumpul di teras belakang rumah.
__ADS_1
Ada mama, papa, Rico. Anya sedang memotong bolu pisangnya saat Briana masuk ke dalam dapur.
" Kakak bikin apa ?"
" Bolu pisang kesukaan papa".
" Sini aku yang nganter ke teras samping"
" Bawa aja".
Sementara mba Lastri dan mba siti sebal memandang Briana.
Itu disadari oleh Anya. Anya menepuk pundak mereka berdua.
" Nggak pa pa mbak, biar saja".
" Nanti pasti dia bilang tuuuh bikinanya"
Anya tersenyum saja.
" Sudah ah, biarkan saja".
Bukan tidak ada alasan semua pesuruh dan asisten rumah tangga, kurang menyukai Briana. Sikap manis Briana ternyata hanya di awal-awal saja, setelah keinginanya terpenuhi, Briana menunjukkan watak aslinya yang munafik.
Benar saja, Briana menyuguhkan bolu kesukaan papa mertuanya sambil berucap,
" Ini pa, tadi aku coba bikin kue kesukaan papa, aku belum nyoba pa, tapi kita makan bareng yuk",
ia menyodorkan bolu tersebut pada papa mertuanya, dan khusus untuk Rico yang dari tadi hanya diam sambil mengutak atik ponselnya.
" Terima kasih", jawab Rico singkat.
" Waaah enak ini, persis bikinan Anya, kamu dapat resep dari Anya?"
" Aku baca di internet pa, mungkin resep yang aku baca sama dengan resep yang dibaca kak Anya".
" Tapi mama lihat Anya nggak pernah baca resep lo kalau bikin bolu pisang," celetuk mama tanpa beban. Memang mama mertua Anya bicara apa adanya tanpa maksud membela Anya.
Terlihat kilatan kebencian di mata Ana saat melirik mama mertuanya, sekilas tapi Rico sempat melihatnya.
Tapi Rico menepis perasaan buruknya, aku pasti salah melihat. Pikir Rico.
Anya datang belakangan dengan dres warna kuning kesukaan Rico. Saat hanya berdua dengan Rico, Rico biasanya akan selalu menerkam Anya bila melihat Anya menggunakan dres tersebut.
Dres sederhana sebatas lutut tanpa lengan pemberian Rico.
Tapi di mata Rico, jika Anya mengenakan dress itu, tampak pas dan sexy.
Rico memandang istri pertamanya dengan tatapan kagum, selalu seperti itu, bila Anya menggunakan dres tersebut.
Briana melihat kekaguman yang terpancar di mata Rico.
Ia sangat sebal dengan pandangan itu.
" Anya ... sini Nak, cobain bolu bikinan Ana, mirip banget buatan kamu" panggil papa sambil menjelaskan.
Anya keheranan sambil.memandang Ana, ia mendekat pada papa mertuanya. Seleranya untuk makan bolu bikinanya, tiba-tiba lenyap.
Sementara Ana berpura-pura sibuk membetulkan letak bantal kursi ayunan yang ia duduki.
" Sini Nak, duduk dekat mama".
Briana merasa sebal melihat perlakuan keluarga ini pada Anya.
__ADS_1
Dasar perempuan mandul. pikirnya secara jahat.
Pandanganya penuh kebencian, tapi tak ada satupun keluarga yang melihatnya.
Justru dia berlaku sebaliknya, manis di depan semua orang.
" Sini kak, duduk bareng aku di ayunan", senyumnya laksana madu.
Tapi Anya yang mulai mengetahui sifat Ana dia memilih untuk duduk dengan ibu mertuannya.
"Aku nemenin mama aja de'", jawab Anya.
" Sayang, nanti ada yang ingin aku bicarakan".
" Ya ada apa mas?", jawab Briana kegeer-an".
" Maaf Na, aku bicara pada Anya, ada kerjaan yang harus aku konsultasikan dengan Anya, boleh kami permisi ?"
" Tentu saja boleh". Jawab papa dan mama serentak.
Papa dan mama sudah hafal dengan anak dan menantunya, mereka sangat kompak apabila mencari jalan keluar atas permasalahan pekerjaan
Rico berdiri dengan mengajak Anya.
" Yuk sayang, kita bicara di ruang kerja".
Rico hendak menggandeng tangan istri tercintanya, tapi Anya menolak, bukan takut pada Ana seperti perkiraan Ana, tapi ia merasa tak enak saja, dengan mereka semua.
Sampai di ruang kerja, bukan pekerjaan yang dibicarakan Rico dia justru memepet Anya di pintu, sambil menguncinya.
" Ada apa sayang ? katanya ngomongin ker...."
Belum selesai Anya bicara, mulutnya sudah di..... oleh Rico, awalnya lembut, tapi lama kelamaan Rico semakin bernafsu pada istrinya.
Anyapun juga terbuai dan mulai terpancing dengan ciuman Rico, ia kalungkan tanganya si belakang leher Rico.
Dengan tak sabaran Rico melepas, semua yang melekat pada tubuh Anya. terlihat tubuh polos istrinya yang sexy seakan menantang untuk dijamah.
Rico segera mengangkat tubuh istrinya di meja kerjanya.
Mereka menuntaskan kerinduan itu disana.
Tanpa mereka ketahui, ada sepasang mata yang mengintip mereka dari balik jendela luar, mata tersebut memandang mereka penuh kilatan kebencian.
Sepasang mata Briana.
Setelah semua selesai, Anya duduk di sofa, sedangkan Rico meletakkan kepalanya di pangkuan Anya.
Mereka nyatanya memang membicarakan mengenai pekerjaan, Rico meminta pendapat Anya mengenai suatu hal, biasanya bila Anya menyampaikan pendapatnya akhirnya proyek akan gol.
Menurut Rico Anya selain wanita yang ia cintai, sekaligus pembawa hoky bagi perusahaanya.
ππππππππππππ
Sepenuh cinta author sampaikan kepada para pembaca.
Terima kasih atas masukan untuk cerita selanjutnya, hal itu selalu menjadi pertimbangan author.
Dan mohon maaf atas munculnya masalah yang membuat hati teraduk-aduk. Sakit dan teriris-iris bikin baper.
Setiap ada hujan sesudahnya selalu muncul pelangi.
Kapan munculnya pelangi itu, bersabarlah zheyeeenk, ikutin terus cerita Anyelir, dan jangan lupa koment, like n vote-nya. Terima kasih πππ
__ADS_1