
Seperti janjinya tadi, Rico memang tidur di kamar Ana.
Saat itu Ana sudah mempersiapkan diri, ia mengenakan lengerie yang sexy, tentu saja dengan harapan suaminya akan menjamahnya.
Sampai di kamar, ia lihat Ana sudah tidur dengan menyelimuti seluruh tubuhnya.
Rencana Rico berhasil, ternyata istri keduanya sudah tidur.
Ia merebahkan dirinya di samping Ana dengan hati-hati takut membangunkan Ana.
Sementara Ana yang menanti jamahan dari suaminya, ia berharap suaminya akan membangunkanya dan mengajaknya untuk bercinta.
Tapi sekitar lima belas menit ia tunggu, bukan jamahan yang didapatkan, tapi dengkuran halus dari pria yang tidur di sebelahnya.
Briana sangat keki, ia kecewa malam inipun, tangan suaminya tidak menyentuhnya sama sekali.
Karena tidak bisa tidur semalaman, akhirnya Ana tertidur dini hari dan ia terbangun kesiangan.
Jam menunjukkan pukul sembilan siang, ia merutuk dalam hati, ia sumpahi Rico dan Anya.
Briana segera mandi, ia sengaja keramas untuk memberikan kesan pada orang rumah bahwa semalam, malam pertama telah berlangsung.
Ia keluar dengan percaya diri, suaminya sudah berangkat kerja.
Ia lihat mama papa dan Anya sedang duduk di teras belakang, Anya sedang mengoprasikan laptop sambil duduk di samping papa mertuanya.
Ia sibuk entah mengetik apa,
" Selamat pagi...." Sapanya.
Mereka serempak memandang Ana sambil menjawab.
" Pagi".
" Baru bangun sayang ?" tanya mama.
" Ia ma, semalam mas Rico ...." Ana sengaja menggantung kalimatnya, supaya yang berada disana bisa mengartikan sesuai yang diinginkan.
" Sukur deh, kalau Rico sudah sadar akan kewajibanya", jawab mama.
" Kak Anya lagi ngerjain apa?"
Anya diam saja tak menjawab pertanyaan Ana.
" Kak Anya", panggilnya sekali lagi, dan kembali Anya tidak merespon panggilan Ana, menolehpun tidak.
Dalam hati Ana sudah merasakan gembira melihat Anya marah sampai tidak menjawab pertanyaanya, tapi sebelum kebahagiaanya bertahan lama mama menimpali.
" Anya musti ditepuk punggungnya kalau lagi kerja diajak ngobrol, dia kerja sambil dengerin musik, pasti dia nggak denger".
Mama menepuk lembut punggung Anya.
" Ada apa Ma?"
" Itu, Ana tanya"
Anya melepas headseatnya.
" Ada apa de ?"
Mangkel hati Ana, melihat ternyata Anya tidak mendengar apa yang ia katakan tadi.
" Nggak jadi mba", jawabnya pendek dengan wajah jengkel.
Anya tidak mempedulikan wajah masam Ana. ia melanjutkan lagi ketikanya, dan memasang headsetnya kembali.
__ADS_1
Β
Tak terasa pernikahan Rico dan Ana sudah berjalan satu bulan lebih, dan selama itu, ada saja halangan yang membuat Rico tidak menyentuh Ana.
Malam ini adalah jatah Rico ke kamar Ana, ia sudah tak bisa lagi pulang larut seperti biasa, terlihat semacam alasan yang dibuat- buat bila Rico datang larut lagi.
Ana sengaja tidak tidur, kali ini ia mempersiapkan diri sebaik mungkin, ia sudah menyiapkan ramuan yang membuat Rico bertepuk lutut di kakinya.
Ana sudah menyiapkan diri untuk lebih agresif, ia tak peduli lagi bagaimana pandangan Rico, yang ia nginkan saat ini Rico bercinta dengannya.
Saat ini Rico pulang jam lima sore, seperti biasa mereka bercengkerama di teras belakang, sambil menunggu makan malam.
Mama, Anya dan para asisten menyiapkan makan malam, sementara Rico, papa dan Ana di teras belakang.
Ana sengaja duduk menempel pada Rico, ia memakai parfume termahal yang ia punya, supaya Rico mencium aroma wanginya dan terbayang terus pada Ana.
Rico membiarkan sikap kekanakan Ana, yang jelas sekarang ia memang sudah tak bisa menghindar lagi.
Rico sudah pasrah, yang terjadi, terjadilah.
Saat makan malam selesai, Ana segera menggamit lengan Rico, ia tak peduli dengan tatapan sinis para assisten pribadinya, yang ia pedulikan sekarang ialah ia harus segera bisa mengabarkan kehamilanya.
Sementara Anya hanya bisa menunduk melihat kelakuan Ana, ialah yang meminta Rico untuk menikah, ia harus menerima konsekuensinya.
Tapi Anya tak menyadari, keputusannya menyuruh suaminya menikah, membawa perasaannya sakit berkepanjangan.
Rico duduk di sofa yang tersedia di setiap kamar, sementara Briana, menyediakan minuman yang memang sengaja akan ia suguhkan pada Rico.
" Minum sayaaang, aku bikin sendiri lo, hargai bikinan istri ya?"
Rico menganggukkan kepala, ia minum, minuman yang dibuat Ana dengan cepat, sampai habis.
Senyum Ana mengembang penuh kemenangan.
Ana langsung duduk di samping Rico, ia mendekatkan badanya dan melingkarkan tanganya ke tangan Rico, sambil merebahkan kepala di punggung Rico.
Tinggal pakaian dalam yang Ana kenakan.
Selebihnya Rico tak ingat apa-apa lagi. Ia tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Yang ia tahu, ia bangun dalam kondisi tanpa pakaian dan tertutup selimut, sementara Ana keluar dari kamar mandi dengan senyum manisnya yang mengembang.
Rico mencium aroma shampo, dan dilihatnya Ana membasahi rambutnya yang hitam. sesaat Rico syok.
Jadi semalam kami ...?Apa yang aku lakukan ...? aku tak ingat apapun.
Secepat kilat Ana mendatangi Rico, dia mengecup bibir Rico, walaupun Rico tidak membalas.
" Terima kasih sayang, semalam kamu luar biasa", sekali lagi Ana mengecup bibir Rico.
" Aku mau lagi ...."
Sebelum Ana selesai bicara, Rico segera berdiri dengan tubuh polosnya, ia memungut pakaiannya yang tercecer di lantai.
" Sudah siang, aku harus kerja, maaf Na, aku harus mandi".
Secepat kilat Rico menuju ke kamar mandi.
Ana memandang Rico dengan kecewa, ia ingin sekali melanjutkan yang semalam.
Di dalam kamar mandi, Rico mengumpat dirinya sendiri, sambil membasahi rambutnya di bawah shower.
Bagaimana mungkin, ia bisa lupa semalam. Bagaimana nanti ia menghadapi Anya. Ia merasa telah mengkhianati Anya.
Maafkan aku Nya, maaf, aku sudah lupa diri semalam.
__ADS_1
Rico keluar dari kamar mandi ditunggu oleh Ana.
" Kita keluar bareng ya sayang", Ana segera menggamit tangan Rico.
Sampai di luar disambut senyum seluruh penghuni rumah di ruang makan.
Rico biasa duduk didepan papanya, dan biasanya di sampingnya adalah Anya. Tapi kali ini Ana dengan enteng menyuruh Anya untuk duduk di samping mama mertua, padahal Anya sudah duduk lebih dulu.
" Maaf Kak Anya duduk sebelah mama ya, aku mau duduk di sini bareng Mas Rico", kalimatnya halus dan begitu manis. Sambil menyibakkan rambutnya beberapa kali, untuk menunjukkan kepada Anya, bahwa semalam telah terjadi
sesuatu antara dia dan Rico.
Anya manut saja, ia pindah ke tempat lain di samping mama.
Ana meladeni Rico, dia menunjukkan pada semua yang ada di ruang, bahwa ia dan Rico dalam kondisi bahagia.
Padahal terlihat jelas bahwa Rico tidak mempedulikanya.
Tapi tentu saja lain di hati Anya.
Hanya dengan melihat kedua orang dihadapinya berambut basah, cukup membuat hatinya pilu.
Betul apa yang pernah dikatakan Rico dulu, ia pasti akan sakit melihat kemesraan Rico dan istri keduanya. Tapi Anya tak menyangka akan sesakit ini.
Rico dan Anya terlihat sama-sama memaksakan makananya masuk ke dalam mulut.
Anya terlihat hanya membolak-balikkan makananya saja.
Melihat itu, Ana tersenyum sinis.
Tahu diri kau mandul, bentar lagi kamu yang akan keluar dari rumah ini, dan akulah Nyonya satu-satunya di rumah ini.
Setelah selesai sarapan pagi, seperti biasa Anya membereskan peralatan makan.
Saat Rico akan ke kamar atas, tangan Ana segera mencekalnya.
" Mas Rico mau kemana ?"
" Mau ke atas, ganti baju kerja".
" Biar aku aja yang ambilkan Mas, Mas Rico tunggu di kamar kita".
" Ngga usah, aku bisa sendiri".
" Ya udah kalau gitu kita bareng aja, Mba Anya maaf aku ngga bantuin ya?".
Anya memandang mereka sambil mengangguk dengan mata sedih.
Tapi Rico kembali dan menggandeng tangan Anya.
" Maaf Na, aku masih belum terbiasa sama kamu, aku sama Anya aja".
Semua mata menuju kepada mereka, Rico yang menggandeng tangan Anya naik ke tangga.
Papa tampak pura- pura tidak melihat, begitu juga dengan mama.
Lain halnya dengan para asissten, mereka gembira melihat Rico tak mempedulikan Ana.
Sukurin loooo, perempuan muna. Bisik mbak Siti ke mbak Romlah. Mereka cekikikan bersama.
πππππππππππππππ
Waaah besok ceritanya makin seru lo kak, rugi kalau nggak baca.
Jadi begini....
__ADS_1
ah besok saja ya....
Jangan lupa tinggalkan jejak like, koment n vote-nya ya kaaa selamat bapeeer untuk besok ππππ