Anyelir

Anyelir
Kenyataan yang dibantah


__ADS_3

Rico melajukan mobilnya ke arah pinggiran Jakarta.


Briana senang sekali, dia berfikir akan dibawa Rico ke puncak, sebab jalan itu mengarah ke puncak.


Bayangan dipeluk dan dicium Rico, membuat tubuhnya bergairah, di jalan ia berusaha mencium Rico.


" Jangan macam-macam aku sedang menyetir, musti konsentrasi".


" Cium pipi aja nggak boleh ?", tanyanya manja.


Rico tak menjawab, justru ia membelokkan mobilnya ke praktik dokter kandungan, dan Briana tidak menyadari dia berada dimana, sampai tak sengaja ia membaca plang di atas bertuliskan,


PRAKTIK DOKTER KANDUNGAN, Dr. Ellyana Fernanda.


Seketika wajah Briana pucat pasi, ia tiba-tiba gagu.


" Kita turun yuk, maaf kalau selama ini aku nggak pernah perhatian pada bayimu".


Tak ada jawaban bayi kita yang biasa diucapkan Briana jika menyangkal ucapan Rico.


Tapi ia berkutat dengan fikiranya sendiri, takut jika Rico tahu kondisinya yang sebenarnya.


" Tapi sayaaang, aku kira tadi kamu ajak aku makan, kita makan yuk, aku lapar".


" Ya nanti setelah dari sini kita cari makan di Puncak" Rico sengaja mengejek Briana.


Tapi, saking paniknya ejekan Rico tak masuk dalam fikiranya.


" Tapi sayang, aku takut dengan jarum suntik".


" Loh, siapa yang akan menyuntik kamu, kita kan hanya mau lihat kandungan kamu, sehatkah bayinya, berapa minggu lagi kamu melahirkan, jadi kita bisa mempersiapkan diri".


" Tapi aku sehat, aku nggak perlu ke dokter".


"Ibu hamil kan musti kontrol ke dokter, walaupun nggak sakit, udah ayo, kalau ada apa-apa, nanti ketahuan semua di dalam".


Rico sengaja menekan kalimat, nanti ketahuan semua di dalam.


Biar saja Briana makin kelihatan stress. Pikiran nakal Rico. Dia tersenyum dalam hati.


Rico sengaja menggandeng mesra Briana.


Tangan Briana dirasakan Rico sangat dingin dan sedikit gemetar.


" Ayo jangan ragu, aku pingin liat perkembangan bayi kita".


Mereka tidak antri, sebab memang tak ada pasien yang terlihat antri selain mereka.


Rico mengetuk pintu,


" Silahkan masuk", terdengar sahutan dari dalam ruang.


Rico dan Ana masuk, di dalam terlihat peralatan kedokteran sangat lengkap dan terkesan eksklusif.


Tidak kalah dengan tempat praktir dokter kebidanan yang ada di perkotaan.


" Mari silahkan duduk Bapak Ibu, bagaimana ada yang bisa kami bantu".

__ADS_1


Briana tak bisa mengucapkan satu patah kata pun, wajahnya makin pucat.


"Kita akan memeriksakan kandungan istri saya dokter, saya ingin pemeriksaan menyeluruh, dari kondisi bayi, sampai dengan usia kehamilan, dan perkiraan kelahiran bayi".


" Baik Bapak, mari Ibu kita ke sebelah sini".


Dokter memakai sarung tangan karet, sementara perawat membantu Briana mengganti pakaiannya.


Dokter memeriksa secara menyeluruh, kondisi Briana.


Satu jam kemudian pemeriksaan selesai.


" Bagaimana dokter ? kondisinya baik".


Dokter tersenyum dan mempersilahkan mereka duduk,


" Begini ibu bapak, kondisi bayi sangat luar biasa baik, syukurlah lengkap, tak ada gangguan kesehatan baik bayi maupun ibunya, tapi ada sedikit yang harus diatasi, calon ibu tak boleh stress".


" Syukurlah dokter lalu berapa usia kandungan istri saya dan perkiraan kelahiranya?"


" Oh ya nanti dari hasil USG akan nampak berapa minggu usia bayi, dan perkiraan kelahiran, sekaligus jenis kelaminya, sebentar suster tadi hasil USG nya mana?"


" Ini Dok" jawab suster sambil menyerahkan foto hasil USG.


Wajah Briana semakin pucat, apa yang sudah ia rencanakan jauh hari akan berantakan hari ini.


Lamunan Briana dikejutkan oleh suara dokter,


" Pingin berita yang mana dulu ini, jenis kelamin atau kelahiran, kalau jenis kelamin sudah bisa dilihat langsung, sebab ini 4D".


" Kalau seperti itu perkiraan usia kelahiran dokter, sehingga kami siap saat kelahiran".


Briana semakin pucat, Rico memandangnya dengan banyak tanya, walaupun sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.


Rico memang sengaja demikian, supaya Briana semakin tertekan.


Jahat ??memang!! tapi memghadapi wanita sejahat Briana dia tak mau menggunakan cara lembut lagi.


Saat keluar Rico sudah tak mau menggandeng tangan Briana lagi.


Ia berjalan di depan sementara Briana mengikuti dari belakang dengan terus menundukkan air mata, tanganya terus menghapusnair matanya yang keluar deras.


Sampai di mobil baik Rico maupun Briana diam tak bicara.


" Ada yang akan kamu jelaskan ?? bagaimana mungkin kita menikah baru delapan bulan dan kamu akan melahirkan tiga minggu lagi, sementara yang katamu kita berhubungan, baru berjalan tujuh bulan yang lalu kan?"


Briana bingung akan menjawab apa, sehingga dia hanya bisa diam saja.


" Jawab !!, atau aku akan tinggalkan kamu di pinggir jalan ?!"


" Aku.... aku nggak tahu Mas, aku hanya melakukan hubungan dengan Mas Rico setelah kita menikah".


" Lalu menurutmu dokter itu yang salah ?? atau mesin USG- nya ??"


" Aku nggak tahu, tapi bila periksa ke dokterku bener mas kehamilanku tujuh bulan".


" Oke, sekarang kita akan meluncur ke doktermu, akan kita buktikan dua dokter itu mana yang tepat, setelahnya kita uji ke dokter pembanding, dokter ketiga".

__ADS_1


" Mas Rico !!, mas Rico jahat, bagaimana mungkin Mas Rico bisa tak percaya padaku, aku bicara apa adanya". Briana menangis ber urai air mata.


" Aku nggak akan banyak bicara, tunjukkan jalan kemana dokternu praktik !!"


" Aku nggak mau, Mas Rico jahat, aku mau pulang berhenti nggak !!, kalau nggak berhenti aku akan melompat dari mobil !!"


Rico meredakan emosinya, dia memang sengaja akan mengeluarkan video Briana sebagai kartu terakhir sekaligus menghadirkan zein sebagai saksi.


Rico hanya ingin Briana jujur untuk mengurangi rasa malu yang nanti dirasakan oleh Briana, cukup Rico dan Zein saja yang tahu. Tapi bila Briana ngeyel terus, ia akan membuka bukti terakhir di hadapan mama dan papa-nya.


" Oke, aku tunggu kamu jujur bicara, aku tunggu sampai dua hari ke depan, bila tidak, aku akan memberikan hasil USG ini ke papa dan mama".


Brian masih sesenggukan, Ia sedih membayangkan tak bisa bersatu dengan Rico, dan juga ia bingung bagaimana menghadapi papa dan mama mertuanya, ia sudah terlanjur nyaman tinggal dengan mereka.


Rico membawa mobilnya pulang.


Ia mengendarai dengan santai.


Rico sangat lega, pikiran bahwa ia tak pernah menyentuh Briana membuat hatinya gembira.


Ia tinggal menemukan Anya dimanapun ia berada.


Rico semakin optimis dan semangat, kalau perlu ia akan menyewa detektif untuk menemukan istri tercintanya tersebut.


Mobil sudah sampai di halaman rumah, Rico memakirkan mobilnya di tempat parkir.


Sementara Briana masih sesenggukan di pojok kiri.


" Mau turun ? atau tidur di mobil?"


Briana memandang Rico dengan mata marah, sebenarnya untuk siasat saja untuk menutupi rasa bersalahnya.


" Terserah kalau mau tidur di mobil".


Rico turun dari mobil, disusul oleh Briana, Ia berlari meninggalkan Rico.


Sebenarnya Briana berharap dikejar oleh Rico.


Tapi Rico santai saja berjalan di belakangnya.


Jam menunjukkan pukul sembilan malam, Rico langsung masuk ke kamarnya dengan senyum dikulum.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Readersku tercinta, bikin cerita itu tidak segampang nonton sinetron indo...


kumenangiiiiiis membayangkan


Jadi kalau dalam satu episode ceritanya cuma dikit, pastikan bahwa ada berbagai kendala.


Salah satunya ialah, author tidak hanya punya dunia maya, tapi juga memiliki dunia nyata.


Maaf ya readersku sayaang, bila belum memenuhi keinginan.


Author berusaha setiap hari setidaknya up satu episode,.bila cuma sedikit harap dimaklumi.


Apapun Author lope-lope kalian full

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak, like, koment n vote tambah terus jangan kasi kendor


Sarang 😘😘😘😘


__ADS_2