Anyelir

Anyelir
Meadowsweet


__ADS_3

Suara petikan gitar dan nyanyian yang terdengar kompak dari para remaja laki-laki yang kini tengah nongkrong di sebuah cafe menjadi penyambut saat Hazel baru saja memarkirkan motor maticnya di depan cafe tersebut tepat di samping motor-motor sport yang berada di sana.


Saat masuk ke cafe tersebut banyak yang memandang Hazel dengan bingung karena tak biasanya Hazel akan datang ke tempat nongkrong para laki-laki tersebut jika tak bersama dengan Akasa. Tak seperti biasanya, saat Hazel masuk ternyata disana banyak perempuan juga. Sepertinya teman-teman Akasa tersebut banyak yang membawa pasangan mereka.


Tatapan Hazel kini lurus ke arah laki-laki yang kini tengah bersama dengan seorang gadis dan tengah mengobrol bersama. Marah? Jelas, namun Hazel berusaha untuk menahannya karena ia sadar posisinya hanya sebatas teman. Ia tak ingin lagi mempermasalahkan hal semacam ini. Karena tak ingin terus larut dalam sakit hatinya. Hazel ingin membuat batasan untuk perasaannya.


“Wah apa bakalan ada perang dunia ketiga?” tanya teman Akasa yang lain saat melihat kedatangan Hazel. Apa lagi saat melihat Hazel yang kini sudah mengerucutkan bibirnya.


“Bakalan seru, gak ada pengganggu aja udah seru pertengkarannya apa lagi ada bahannya gini,” ucap teman Akasa yang lain yang kini sontak melihat ke arah Hazel yang berjalan dengan wajah kesalnya.


“Dia siapa sih?” tanya gadis lain yang berada di sana dengan penasarannya. Pasalnya sudah beberapa hari banyak perempuan yang ikut nongkrong bersama kekasih mereka namun baru kali ini mereka melihat Hazel karena memang sudah lama Hazel tak datang ke tongkrongan tersebut, walau Akasa sering mengajaknya namun Hazel menolaknya.


Akasa yang melihat kedatangan Hazel cukup terkejut, dengan segera laki-laki tersebut berdiri dan hendak menghampiri Hazel namun Hazel malah kini sudah duduk di kursi samping Akasa sambil menelungkupkan wajahnya di atas meja.


“Tumben kesini, ada apa hm?” tanya Akasa dengan begitu lembutnya. Sebenarnya ia takut jika Hazel marah saat melihatnya dengan gadis lain namun Hazel kini malah tampak tak peduli.


“Hazel,” panggil Akasa dengan lembut nya sambil mengelus puncak kepala Hazel saat Hazel hanya terdiam saja.


Teman-teman Akasa bahkan juga tak kalah bingung dan terkejutnya saat melihat Hazel yang tampak acuh dengan apa yang Akasa lakukan.


“Diem deh, aku lagi gak mood. Pinggang aku juga lagi sakit,” ucap Hazel menggerutu kesal tanpa mau repot mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah Akasa. Gadis di depan Akasa kini mengerutkan keningnya bingung melihat kedatangan Hazel dan bagaimana Akasa yang begitu perhatian pada gadis tersebut.


“Tunggu sini bentar, nanti aku balik lagi,” ucap Akasa yang setelahnya segera pergi keluar. Ia sudah begitu mengerti apa yang membuat Hazel bisa begitu kesal dan mood nya yang tak baik. Apalagi saat gadis tersebut mengatakan pinggang nya sakit. Bisa Akasa tebak jika hal tersebut karena gadis tersebut hari pertama PMS. Karena Hazel memang sering mengelus saat PMS.


“Hey, kamu siapa?” tanya gadis yang duduk di depan Hazel. Namun Hazel sama sekali tidak menanggapi dan memilih fokus dengan rasa sakitnya.

__ADS_1


“Bisu ya kok gak dijawab? Aku nanya,” ucap gadis tersebut lagi pada Hazel karena tak mendapatkan jawaban dari Hazel. Hazel hanya berdecak kesal sambil mengangkat kepalanya dan menatap datar pada gadis di depannya tersebut.


“Kalo gak penting gak usah ngomong,” ucap Hazel kesal lalu kembali menelungkupkan kepalanya di meja kembali.


“Itu siapa sih Yang? Kok kayak songong gitu?” tanya seorang gadis yang merupakan kekasih dari anggota geng motor Akasa.


“Stt itu ceweknya Akasa, jangan keras-keras ngomongnya. Dia sensian. Akasa aja bisa dilawan,” ucap teman Akasa yang merupakan kekasih dari gadis yang bertanya tadi.


“Gue denger ya,” ucap Hazel dengan sinis. Kini Hazel memang sedang di mode senggol bacok. Sedikit saja di senggol ia bisa keluar tanduk.


“Udah Zel, tidur aja gak perlu di dengerin,” ucap Angga yang berusaha untuk menenangkan Hazel.


“Aku bener pacar nya Akasa? Kok Akasa gak pernah bilang? Padahal dia ngedeketin aku loh beberapa hari ini. Dan cara bicara kamu kayak orang koto banget sih pake lo gue,” sinis gadis tersebut yang begitu terdengar berisik di telinga Hazel.


“Cari mati, singa tidur di bangunin,” ucap teman Akasa yang sudah mengenal bagaimana Hazel.


Bersamaan dengan itu tak lama akhirnya Akasa datang dengan sekantong kresek yang langsung ia letakkan diatas meja.


“Sini aku pijitin,” ucap Akasa yang hanya Hazel balas dengan anggukan, dan Akasa kini malah seperti beralih profesi sebagai dukun pijat. Kini laki-laki tersebut dengan telaten memijat pinggang Hazel. Gadis yang berada di depan mereka sudah mengepalkan tangannya melihat hal tersebut. Melihat bagaimana lembut dan perhatiannya Akasa pada Hazel.


“Aku bawain obat penghilang nyeri sama coklat,” ucap Akasa yang hanya Hazel balas dengan anggukan, ia hanya diam menikmati pijatan Akasa.


“Jadi kamu kesini karena ini?” tanya Akasa yang kini sontok menegakkan tubuhnya dan melihat ke arah Akasa saat ia mulai mengingat tujuan datang ke sana.


“Aku baru inget kalau aku kesini karena kesel sama orang rumah, sekalian mau minta tolong buat besok anterin aku buat ke Malang,” ucap Hazel yang membuat Akasa kini menaikkan sebelah alisnya bingung.

__ADS_1


“Mau ngapain?” tanya Akasa tanpa bertanya ada apa dengan orang rumah Hazel. Mengingat itu adalah privasi apalagi di tempat nongkrong nya kini sudah begitu ramai.


“Ada tempat yang pengen aku datengin di sana,” ucap Hazel menjelaskan. Tadi ia melihat temannya yang mengupload foto di tempat yang bagus di daerah malang jadi ia ingin mengunjungi tempat tersebut.


“Boleh, nanti aku ajak yang lain ya biar ramai,” ucap Akasa yang Hazel balas dengan anggukan semangat. Senyuman lebar terbit di wajah gadis tersebut yang membuat Akasa ikut tersenyum mendengarnya.


“Sekarang mending pulang, aku anterin. Istirahat dan perut nya di kompres air anget biar cepet enakan,” ucap Akasa menyarankan yang akhirnya Hazel balas dengan anggukan. Gadis yang tadi bersama dengan Akasa hanya diam memperhatikan bagaimana Akasa yang begitu perhatian pada Hazel.


Teman Akasa yang sudah terbiasa melihatnya hanya diam saja. Pasangan tersebut memang aneh. Sekali bertengkar sudah seperti kucing dan tikus namun jika mode akur maka akan begitu romantis.


“Aku balik duluan ya,” pamit Akasa pada teman temannya yang lain yang menjawabnya dengan kompak.


Mereka akhirnya pulang bersama dengan motor masing-masing namun Akasa terus mengawasi di belakang Hazel.


***


Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.


Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.


Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath


See you next chapter guys.


Thank for Reading.

__ADS_1


Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.


Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita aku yang baru. Masih anget nih.


__ADS_2