
Tatapan Rico tak lepas dari Anya. Kamu semakin cantik Nya. Batin Rico.
Mungkin cuaca Rotterdam cocok dengan Anya, kulitnya menjadi kuning, matanya semakin bening. Rambut panjangnya sedikit di cat warna kecoklatan, sangat pas dengan kulit Anya sekarang.
"Nya.... kamu tidak mau menjawab pertanyaanku?"
Anya menengadah menatap Rico, tatapannya teduh dan sayu. Ingin rasanya Rico membopong Anya untuk dibawa pulang. Rasanya, ia tak ingin berpisah lagi.
" Aku... tak bisa menceritakan kenapa aku harus meninggalkanmu?"
"Tapi kenapa ?, aku berhak tahu alasanmu, aku bahagia saat kamu dulu tiba di Indonesia Nya, aku ingin memperkenalkan bahwa kau yang akan kunikahi pada orang tuaku".
Anya tergugu mendengar apa yang dikatakan Rico. Ia sedih teramat sedih. Air matanya menetes tak terbendung.
Selama dua tahun ia sembunyi dari Rico. Tapi lihatlah sekarang, walaupun saat ini ia berada di belahan dunia lain, Rico tetap menemukannya. Dan hatiku.... sama sekali tidak bisa melupakanya. batin Anya.
Tapi mengingat kesadisan Rachel dia juga sangat trauma. Dia sangat takut. Seumur hidup dia baru melihat dan mengalami kekerasan fisik yang menurutnya sangat menakutkan.
" Pak Rico sekarang dengan Rachel lagi ?" pertanyaan polos Anya yang sekonyong-konyong tentu saja mengagetkan Rico.
" Aku mencarimu selama setahun lebih Nya, tak ada jejak. Aku putus asa, aku kalut, aku...."
Sebelum ucapan Rico selesai, ada yang memanggil Anya .
"Anna !!"
Disini Anya dipanggil Anna, karena kesulitan pengucapan penyebutan Anya.
"Gaat het wel goed ?" (kamu baik-baik saja ?)Tanya pria bule cakep di depan mereka. Melihat Anya tampak memangis.
"Het gaat prima met mij " (aku baik-baik saja), Jawab Anya.
"Kenalkan ini temanku Steve, Steve ini Rico".
Mereka berdua saling bersalaman, dan memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama masing-masing.
Tapi kecanggungan antara mereka terlihat sangat jelas.
" Pak Rico masih lama tinggal di Rotterdam". Tanya Anya.
" Malam ini aku harus kembali ke Amsterdam, besok aku kembali ke Indonesia". Berhenti sejenak. " Nya, boleh aku minta nomor teleponmu?"
__ADS_1
Anya melihat ke arah Steve, tampak Steve menganggukkan kepala.
" Nomor Pak Rico masih yang dulu?"
" Ya Nya ".
Tidak lama kemudian ada pesan masuk. ada pesan disana. Ini nomor saya pak, saya pergi dulu, semoga suatu saat kita bisa bertemu kembali.
" Saya pamit Pak Rico, kami ada acara ", Anya mendekat sambil menjabat tangan Rico.
Ada kecewa yang terpancar sangat jelas, dari manik mata Rico. Ia masih ingin berlama-lama dengan Anya. Tapi pria bule ini datang entah dari mana, dan siapa dia, apa hubunganya dengan Anya??
Membuyarkan keinginan Rico yang ingin berduaan dengan Anya lebih lama.
Rico melihat Anya pergi sampai bayanganya menghilang.
Dengan langkah lesu, Rico berbalik arah untuk menuju ke mobil yang dari tadi menunggunya untuk mengantarkanya kembali ke Amsterdam.
Sementara itu, Anya beberapa kali menyeka air matanya yang berulang kali jatuh membasahi pipi. Hal ini tidak terlepas dari pengamatan Steve.
Steve mengajak duduk Anya untuk menenangkanya.
"Kita duduk dulu disini Anna"
" Kamu tidak apa-apa ?, lelaki tadi, pria yang selama ini kamu ceritakan?".
Anya memandang Steve, dia melihat keprihatinan di mata Steve.
"Ya Steve, dia Rico, pria yang selama ini aku ceritakan padamu, maafkan aku", Anya menangis sesenggukan lagi.
Steve menghela nafas panjang.
" Lalu, kenapa kamu tidak mengejarnya ?, kenapa kamu masih disini ?".
"No Steve, biarlah semua seperti ini, mungkin ini sudah rencana-Nya, aku tidak mau mengganggu kehidupanya lagi".
Steve memang mencintai Anya, sangat, tapi dia merasa sedih melihat Anya seperti ini.
"Baiklah, kalau kamu sudah tenang baru kita pulang".
Anya, tinggal di Rotterdam atas bantuan ayah dan kakak tirinya. Sebelumnya satu minggu dia harus perawatan di sebuah klinik kesehatan di pinggiran kota Jakata, untuk memulihkan luka bekas pukulan Rachel, sebelum akhirnya ia terbang ke Belanda.
__ADS_1
Selama di Belanda, Dia dirawat di rumah sakit untuk memulihkan traumanya atas perlakuan Rachel. Tidak sebentar untuk mengembalikan kesehatanya, sebab beberapa kali dia masih takut bila mendengarkan suara perempuan sedang bicara. Sampai akhirnya, satu bulan kemudian Anya dinyatakan sehat.
Setelah keluar dari rumah sakit, Anya tinggal dengan Dimas dan Tantri, sambil menunggu panggilan pekerjaan. Sampai dua bulan kemudian, di rumah Dimas panggilan kerja dari Rotterdam ia dapatkan.
Selama di Rotterdam, Anya akhirnya bertemu dengan Steve, yang bekerja disana juga. Karena Anya masih sangat asing, dan di awal tinggal di Rotterdam dia belum menguasai bahasa belanda, pertemuannya dengan Steve sangat membantu.
Lama-lama mereka semakin dekat. Dan pada kesempatan yang menurutnya bagus, Steve mengungkapkan perasaanya pada Anya.
Tapi saat itu Anya minta diberi waktu untuk menjawab rasa cinta Steve pada dirinya.
Sampai pada suatu ketika Anya menceritakan apa dan mengapa dia belum bisa menjawab rasa cinta Steve pada dirinya.
Steve yang memang betul-betul mencintai Anya bersedia menunggu sampai Anya bisa tulus mencintainya.
Di tempat lain Rico merasakan sakit di dasar hatinya, pertemuan yang meninggalkan luka menurutnya.
Kemarin saat berangkat ke Rotterdam dia senang melihat bunga tulip bermekaran di sepanjang sisi jalan.
Tapi justru sekarang saat dia kembali ke Amsterdam bunga tulip tersebut menjadi tidak menarik lagi untuk dilihat.
Dia melihat masih ada cinta di mata Anya, tapi lelaki bule tadi siapa, kenapa dia begitu mesra dengan Anya ?
Sekali lagi rasa rindu yang terpendam selama ini, berubah menjadi rasa sakit. Sakit yang dalam, teramat dalam.
Seandainya kamu tahu Nya, rasa ini, tak pernah hilang sedetik pun dariku, aku masih mengharap, dan terus mengharap kamu akan kembali padaku.
Rico membuka ponselnya, ia melihat lagi nomor yang dikirimkan Anya tadi.
Ia simpan baik-baik nomor Anya. Siapa tahu suatu saat nanti kau akan menghubungiku lagi.
Sampai di Amsterdam Rico minta diantarkan ke alamat Pak Bowo. Dia akan mampir dan menyapa, siapa tahu ada informasi yang dapat diperoleh, sehubungan dengan kepergian Anya yang tanpa pamit padanya.
Rico sampai si rumah Pak Bowo pukul delapan malam.
Ia mengetu pintu, tak lama pintu dibuka. Pak Bowo kaget, ada Rico dihadapanya.
" Mari silahkan Rico, masuk, Ibuuu ini ada Rico". Ibu Anggraenj berlari-lari ke ruang tamu. Dia menyambut dengan pelukan dan ciuman atas kedatangan Rico.
"Apa kabar kamu Rico, sudah lama tidak kesini, berapa tahun ya, Kamu biasa mengunjungi Anya di Rotterdam, syukurlah, sekarang dia sudah dekat dengan ibu, setiap week end dia pasti kemari"
Sebelum Bu Anggraeni melanjutkan ceritanya Pak Bowo meremas sedikit tangan Bu Anggraeni.
__ADS_1
Rico tahu isyarat itu.
" Saya sudah tahu Anya di Rotterdam Om, tidak sengaja tadi saya ketemu Anya disana".