Anyelir

Anyelir
Akhirnya Anya selamat


__ADS_3

Perlahan Anya terbangun dari pingsanya. Dia membuka mata dengan pelan.


Badan Anya lemas tak bertenaga, seakan dia baru dicabut nyawanya dan sedang melayang-layang di udara.


Matanya terlalu buram, untuk melihat dimana sekarang ia berada. Sampai lambat laun kesadaranya pulih kembali.


Anya berada di ruang bersekat, tanganya terdapat infus, Anya belum bisa bernafas lega, sebab ia merasa belum jelas berada dimana ia sekarang, tempat kawan atau lawan?.


Anya masih takut untuk bergerak. Sampai ada seorang suster yang menghampirinya.


"Ibu sudah sadar, syukurlah ?"


Barulah Anya bisa menarik nafas lega. Dia berada di puskesmas, rumah sakit atau apalah namanya, yang jelas dia sudah diselamatkan.


"Saya berada dimana suster"


" Ibu berada di puskesmas, jangan khawatir, ibu aman disini, polisi sedang berjaga di luar"


Anya meneteskan air mata haru, ada suatu beban yang lepas dari dadanya. Dia sudah selamat, semoga seperti itu seterusnya.


"Ibu dehidrasi sehingga kami mengambil tindakan infus, supaya ibu tidak kekurangan cairan".


"Ya suster, terima kasih".


"Saya akan keluar untuk memberitahu petugas, kalau ibu sudah sadar".


Anya mengganggukkan kepala dengan pelan.


Tak berapa lama, ada tiga petugas dari kepolisian yang datang ke bangsal Anya.


" Ibu Anya ?", nada bicaranya tegas dan jelas.


" Ia pak".


" Ada beberapa pertanyaan yang harus kami ajukan kepada ibu Anya, tetapi kalau ibu belum siap, kita bisa menunda sesi tanya jawab ini".


" Tidak pak, saya tidak apa-apa".


" Baik, Ibu kenal dengan orang-orang yang menculik ibu?".


"Sama sekali tidak pak".


"Salah satunya ?"

__ADS_1


" Tidak juga pak".


" Coba ibu ingat-ingat, mungkin pernah atau tidak sengaja berseteru dengan seseorang ?"


Anya menghela nafas, sebetulnya ini berat tapi dia harus menyampaikan kecurigaanya.


"Iya pak ada. Tapi itu asumsi pak. Awalnya saya curiga dengan seseorang. Tapi setelah saya lihat seseorang yang dipanggil boss, saya merasa tidak kenal dengan orang tersebut".


"Orang yang awal ibu curigai siapa?"


"Rachel pak".


" Siapa Rachel ?"


" Dia... ( berhenti sedikit lama) tunangan kekasih saya pak".


" Hal apa yang membuat anda curiga, apakah dia pernah melakukan sesuatu ?".


" Ya pak, dulu pernah".


" Apa yang dilakukan".


" Tapi kalau saya ceritakan sekarang, saat ini saya sudah tidak memiliki bukti pak, itu terjadi dua setengah tahun yang lalu".


" Tidak apa-apa ibu Anya, informasi sedikitpun bisa sangat berarti untuk menemukan siapa penculik ibu Anya, apa yang dilakukan Bu Rachel saat itu?"


"Baik Bu Anya, satu lagi pertanyaan, selain Ibu Rachel, ada lagi yang ibu curigai ?"


" Saya tidak punya gambaran selain Rachel, sebab saya tidak punya musuh pak".


" Baik Bu Anya, dan terima kasih atas kerjasamanya".


" Sebentar pak, bagaimana polisi tahu saya diculik, ada yang melaporkan kehilangan saya".


" Ya Bu Anya, yang melaporkan Pak Rico dan Pak Broto. Jangan khawatir Bu Anya sampai mereka datang kemari, kami akan berjaga di luar, jadi tidak ada yang bisa mengganggu Bu Anya".


" Oh ya pak, terima kasih".


" Baik Bu Anya, kami pamit dulu, semoga Ibu Anya segera pulih kembali".


" Ya pak, terima kasih".


Anya merasa haru, sebab Rico benar-benar memperhatikanya, sampai Pak Broto juga ikut mencarinya.

__ADS_1


Dia merasa beruntung, memiliki kekasih yang memperhatikanya dan boss besar yang juga perhatian padanya.


Anya bisa bernafas lega, sekarang, ia sudah merasa aman karena berada di dalam lindungan orang-orang yang mencintainya.


Tapi ada sesuatu yang lupa ia sampaikan kepada polisi, bahwa ia menemukan bunker berisi lukisan terkenal dan hiasan yang terbuat dari emas.


Anya menyesali diri, kenapa dia melupakan hal seoenting itu sehingga lupa menyampaikan kepada polisi.


Setelah tiga jam menunggu, orang yang dinanti Anya tiba. Rico


Tampak jelas dimata mereka rasa rindu dan bercampur rasa khawatir. Rico segera memeluk tubuh sintal Anya.


Dia merasa bersyukur, wanita yang ia cintai masih dalam kondisi sehat, walaupun sedikit kurus, mungkin karena ketakutan sehingga tidak nafsu makan.


Mereka berdua tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya saling memeluk, dan Anya menagis sesenggukan di dada Rico.


Sampai lidah kelu Rico menyampaikan kalimat


" I Love you, i love you, i love you, aku benar-benar khawatir padamu, aku takut terjadi apa-apa sama kamu. Aku bisa gila bila kehilangan kamu".


Kalau boleh Rico sebetulnya ingin menangis, tapi dia pria dia harus kuat. Agar dia bisa menguatkan wanita satu-satunya yang ia cintai.


Ia betul-betul takut kehilangan Anya, sehingga saat melihat Anya sehat itu merupakan moment luar biasa baginya.


Sampai sebuah suara memanggil nama Anya, baru mereka melepaskan pelukanya.


" Anya !!"


Bu Anggraeni ibu Anya menghambur memeluk Anya, beliau menangis tersedu-sedu.


Ada rasa bahagia yang tak terkatakan. Sebab anak perempuan satu-satunya yang ia cintai, masih bisa ia peluk.


" Ayo, kamu segera ke Belanda, kamu jangan hidup disini, ibu nggak tenang kamu disini,nanti kita pulang sama-sama ya nak".


Bu Anggraeni memeluk Anya dengan erat, disertai dengan bergulirnya air dari matanya.


"Ibuuu, aku nggak pa pa, aku sehat kan ?"


Bu Anggraeni melepas pelukanya sambil mengamati kondisi Anya baik-baik.


"Syukurlah Anya, kamu baik-baik saja".


Tak lama kemudian Pak Bowo dan polisi yang tadi bertanya dengan Anya masuk ke dalam ruang.

__ADS_1


Mereka berbincang sebentar. Lalu polisi tersebut pamit kepada keluarga yang bahagia tersebut.


Rico segera mengurus surat-surat yang diperlukan, barulah mereka kembali ke Jakarta.


__ADS_2