Anyelir

Anyelir
Petunia


__ADS_3

Fyi "Petunia memiliki arti dendam, marah, kehadiranmu membuatku nyaman, tidak pernah putus asa"


***


 Hazel berjalan dengan langkah besarnya menuju ke arah fakultas Akasa. Sedari tadi ia menelpon laki-laki tersebut untuk menjemputnya namun Akasa malah tak kunjung menjawab teleponnya. Hazel benar-benar dibuat kesal dengan laki-laki tersebut. Tak tahukah ia jika Hazel sudah lama menunggu?


“Awas aja ya tuh orang kalau ketemu, gue bejek-bejek dan jadiin perkedel lo,” gerutu Hazel yang tak ada hentinya terus saja mengungkapkan kekesalannya pada Akasa yang tak kunjung datang menjemputnya dan ponselnya yang tak bisa dihubungi.


“Bimo,” panggil Hazel sambil berteriak pada laki-laki yang tak lain adalah teman Akasa tersebut. Mendengar namanya yang di panggil dengan segera menoleh ke arah sumber suara. Saat melihat keberadaan Hazel, gadis tersebut bisa menangkap ketakutan juga terkejut yang terlihat di wajahnya. Hal tersebut tentu membuat Hazel bingung. Namun dengan segera ia menghampiri laki-laki tersebut.


“Akasa mana?” tanya Hazel dengan kerutan di keningnya.


“Hm.. Akasa….” ucapan Bimo yang terbata-bata membuat Hazel memicingkan matanya curiga. Tak ingin lebih lama menunggu ucapan Bimo yang tak jelas itu akhirnya ia segera masuk ke kelas yang berada di belakang Bimo karena kini laki-laki tersebut seolah tengah berjaga di depan kelas.


Hingga saat baru saja menoleh ke dalam kelas Hazel dibuat terkejut dengan Akasa yang ternyata kini tengah berciuman dengan gadis lain. Melihat hal tersebut dengan kekesalannya Hazel segera pergi dari sana. Dadanya terlalu sesak melihat hal tersebut.


“Hazel!” Bima mengejar Hazel dan menahan tangan gadis tersebut namun Hazel dengan segera menghempaskan tangan tersebut dan menatap Bimo dengan tatapan datarnya.


“Gue dah biasa, gak perlu di pikirin. Jangan bilang Akasa kalau gue liat semua ini dan jangan bilang kalau gue dateng nyariin dia,” ucap Hazel tegas yang setelahnya langsung pergi dari sana. Bimo hanya terdiam sambil mengusap wajahnya kasar mendengar ucapan gadis tersebut. Walau terlihat baik-baik saja namun dari tatapan matanya bisa Bimo lihat jika kini gadis tersebut tengah terluka.


“Bisa-bisanya lo masih mau nyakitin cewek sebaik dan sekuat dia Akasa, bego lo Sa,” maki Bimo pada sahabatnya tersebut yang kini masih asik dengan dunianya hingga tak menyadari jika dunia di depannya kini sudah runtuh.


Hazel berjalan dengan langkah cepat, tangannya mengepal dengan begitu kuat. Menahan segela amarahnya.


Lagi-lagi Akasa mengecewakannya. Dan Hazel lagi-lagi tak bisa marah karena status mereka saja hanya sebagai sahabat. Dan ia sengaja melarang Bimo untuk memberitahu Akasa jika ia melihat apa yang laki-laki tersebut lakukan karena ia ingin memberi pelajaran pada Akasa dengan menghilang dari laki-laki tersebut Ia tak tahu bagaimana reaksi Akasa entah akan mencarinya atau malah mencari penggantinya. Namun kali ini ia benar-benar ingin pergi dan menenangkan pikirannya.

__ADS_1


Hazel berjalan ke arah depan kampusnya untuk mencari taksi yang lewat. Namun saat Hazel tengah menunggu taksi tiba-tiba ada motor matik yang berhenti di depannya. Hal tersebut membuat Hazel menoleh ke arah sang pengemudi yang ternyata adalah laki-laki yang sering kali mengirim pesan belakangan ini.


“Fernando?!” Ucap Hazel yang membuat senyum laki-laki tersebut mengembang. Fernando memang tidak setampan Akasa namun laki-laki tersebut juga cukup tampan.


“Mau pulang? Aku anter yuk,” ajak Fernando pada Hazel yang sontak menolak nya dengan gelengan karena tak ingin merepotkan laki-laki tersebut lagi pula ia juga sudah memesan taksi online.


“Gak usah, gue udah pesen taksi online,” ucap Hazel menolak dan bersamaan dengan itu. Taksi online yang dipesannya akhirnya datang.


“Sorry ya gue duluan,” ucap Hazel yang setelahnya segera masuk ke taksi yang dipesannya. Fernando hanya diam saja memperhatikan taksi tersebut yang perlahan menjauh. Laki-laki tersebut menghela nafasnya kasar karena lagi-lagi Hazel menolaknya namun ia tak akan menyerah begitu saja.


Di sisi lain kini Akasa baru saja keluar dari kelasnya setelah selesai dengan aktivitasnya. Walau hanya sekedar berbincang dan berciuman. Senyuman laki-laki tersebut mengembang, terlihat begitu sombong menatap sahabatnya yang kini tengah menatapnya dengan miris.


“Sekarang kamu masih bisa senyum gak tau deh nanti,” batin Bimo sambil menggelengkan kepalanya. Namun seperti yang sudah Hazel katakan. Bimo tak akan memberitahu Akasa soal Hazel biarkan saja Akasa mencari Hazel keliling Fakultasnya atau menunggu Hazel yang nyatanya sudah pulang. Sesekali Akasa memang harus diberi pelajaran.


“Makasih ya Bim, aku balik dulu. Hazel pasti udah nunggu sambil marah-marah,” ucap Akas sambil menepuk pundak Bimo dengan senyumannya. Memikirkan Hazel kini rasanya membuatnya games. Berbeda dengan Bimo yang kini hanya menggeleng sambil menatap miris pada Akasa.


***


Tari kini mengerutkan keningnya saat melihat anaknya yang tengah memasukkan baju-baju nya ke dalam koper besar miliknya.


“Kamu mau kemana?” tanya Tari dengan kerutan bingung. Tari segera menghampiri anaknya tersebut yang kini menoleh ke arah Tari dengan senyumannya.


“Mumpung sekarang hari kamis dan sabtu minggu Hazel libur. Jadi Hazel mau ke Malaysia mau nyusul kakak. Untuk besok gak papa bolos sehari,” ucap Hazel dengan cengirannya yang membuat Mama nya tersebut memelotot mendengar ucapan anaknya tersebut.


“Kamu kira keluar negeri untuk kayak bolak balik Jakarta - Surabaya dengan pesawat yang cuma beberapa jam?” ucap Tari tak habis pikir dengan ucapan anaknya tersebut.

__ADS_1


“Ayolah Ma, cuma beberapa hari aja,” ucap Hazel dan tetap saja membereskan barang-barang yang harus ia bawa. Tari menghembuskan nafasnya kasar mendengar ucapan anaknya tersebut. Ia tak tahu apa yang terjadi pada anaknya tersebut namun ia yakin jika kini ada yang tengah mengganggu Hazel.


“Hari senin sudah harus balik,” ucap Tari tegas yang Hazel balas dengan anggukan semangatnya.


“Makasih Mama,” ucap Tari sambil memeluk ibunya tersebut sebentar, setelahnya ia kembali membereskan barangnya lagi.


“Mau berangkat hari ini?” tanya Tari yang Hazel balas dengan anggukan.


“Jam 11,45,” ucap Hazel dengan cerngirannya yang sontak membuat Tari memelotot pasalnya kini sudah jam 11.10 entah apa yang terjadi namun sepertinya hal tersebut begitu mengganggu Hazel dan Tari masih tak ingin untuk menanyakannya dan membiarkan anaknya tersebut menenangkan dirinya.


“Udah ya Ma, Hazel berangkat dulu. Takut telat,” ucap Hazel sambil mencium tangan ibunya tersebut lalu menyeret koper nya untuk segera turun dan meminta sopir untuk mengantarnya ke bandar. Untuk kali ini Hazel merasa memang harus menenangkan dirinya dan kakaknya adalah satu-satunya orang yang paling mengerti dirinya saat ini. Hazel bahkan sering kali merasa jika di dunia ini ia hanya memiliki kakaknya karena ia sikap kakaknya tersebut yang memang begitu perhatian pada Hazel.


***


Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.


Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.


Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath


See you next chapter guys.


Thank for Reading.


Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.

__ADS_1


Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita aku yang baru. Masih anget nih.



__ADS_2