
Rico membelokkan mobilnya ke arah pusat perbelanjaan, dia ingin memborong apapun yang diinginkan oleh Anya, walaupun Rico tahu Anya tidak ingin apa-apa.
" Kok kesini sayang, mau cari apa?"
" Mau cari keperluan kita".
" Aku udah ada baju di puncak, nggak usah beli lagi".
" Ayolah, aku ingin membelikan apapun yang kamu inginkan".
" Tapi aku...."
Rico segera menutup mulut Anya, lalu mengecupnya dengan lembut.
" Aku merindukan kamu, tolong jangan bantah apapun yang kumau saat ini".
Anya memandang suaminya, ia diam dan memaklumi keinginan suaminya.
Terlihat mata mereka sama-sama saling rindu, ada begitu banyak cinta si mata mereka, cinta yang terbelenggu, akhirnya akan menemukan kuncinya.
Masuk di dalam pusat perbelanjaan, Rico jauh lebih jago mengambil keperluan mereka, Anya hanya memgikuti dari belakang.
" Nggak pa pa ya sayang, biar mama olah raga, kamu diem-diem aja disitu, anget kan ?"
Anya memandang suaminya sambil tersenyum, tapi lama-lama dia tertawa terpingkal-pingkal.
" Kenapa kamu jadi alay gini sayang".
" Ah peduli amat, suami mana yang nggak jadi kekanak-kanakkan menemukan istri yang dicintai hilang beberapa bulan plus baby di perut".
Rico membawa masuk Anya ke dalam toko yang menjual keperluan ibu hamil dan bayi.
Dia juga yang sibuk memilih-milih keperluan untuk istrinya.
Rico yakin, Anya pasti setuju saja dengan pilihannya.
" Sudah sayaang ?" Tanya Anya pada Rico, sambil tersenyum.
" Rasanya aku pingin ambil semua yang ada di toko".
" Udah yuk ah sudah ada empat troli, siapa yang akan ndirong kalau gini?"
" Minta bantuan security aja pasti mau".
Rico menghampiri dua orang security ia bicara sebentar, lalu security memanggil 3 orang cleaning service, merekalah yang membantu Rico mendorong troly sampai di basement.
Mereka juga membantu Rico memasukkan barang-barang je dalam mobil.
Sebagai ucapan terima kasih Rico memberikan tiga lembar uang untuk dibagikan kepada mereka bertiga.
" Terima kasih ya bantuanya".
" Ya Pak, sama-sama".
Maduk di dalam mobil Rico mengecup bibir Anya kembali yang disambut Anya dengan senyuman.
Selama dalam perjalanan Rico tak melepaskan genggaman tanganya.
Ia mengendarai mobilnya dengan santai.
Sampai di villa mereka di puncak, dengan dibantu seluruh assisten rumah tangga Rico memasukkan barang-barangnya ke dalam rumah.
Keperluan rumah tangga langsung dibawa ke belakang, sedang keperluan Rico dan Anya dibawa ke kamar Rico atas petunjuk Rico.
Karena merasa kelelahan Anya tertidur di sofa ruang santai. Rico memandang istrinya dengan penuh cinta.
Dengan pelan ia membopong Anya untuk dibawa masuk ke kamar.
Kelihatanya Anya benar-benar capek sampai sore hari dia baru bangun.
Disampingnya Rico menunggunya sambil membaca buku.
__ADS_1
Rico menoleh saat ia lihat Anya terbangun.
" Sudah bangun ?"
" heeerm"
Rico memeluk Anya, gerakannya tertahan saat menyadari perut istrinya menghalangi pelukannya.
Ia tersenyum dan mengelus mesra perut istrinya.
" Maafkan papa sayang, papa lupa kamu ada di perut mama".
Anya tersenyum sambil membenamkan kepalanya di dada suaminya.
Laksana terkena sengatan listrik.
Rico mendongakkan kepala istri tercintanya
Dengan sangat hati-hati ia mulai mengulum bibir istrinya, dengan rindu yang sama, Anya membalas ....... di bibirnya.
Mereka melepaskan ciuman dan saling pandang.
Pendaran cinta sangat terlihat jelas di mata mereka.
Rico mengulang kembali ciumannya, kini semakin ke bawah, dia mengulum semua yang ia lihat, sambil tak lupa meninggalkan beberapa tanda disana.
Dengan pelan Rico membuka satu persatu pakaian yang dikenakan Anya, baru ia melepaskan pakaiannya sendiri.
Kerinduan yang tersimpan selama hampir enam bulan terurai sudah, mereka menikmati setiap cumbuan yang dilakukan oleh pasangan.
Laksana pasangan yang baru menikah mereka mengulang pergumulan itu. Mereka betul-betul menikmati pertemuan yang menurut mereka merupakan suatu anugerah.
Rico terbangun saat ada suara telepon masuk ke dalam kupingnya, ia ogah-ogahan untuk bangun.
Sampai bidadari cantik itu duduk sambil menyerahkan ponselnya dengan rambut yang basah.
Rico langsung terduduk dan tersenyum penuh cinta
" Angkat teleponnya, siapa tahu penting ".
Rico melihat si pemanggil, tak tersimpan.
" Aku nggak kenal".
" Nggak kenal gimana ?"
" Buktinya nggak aku simpan".
" Ah kamu kayak anak kecil saja".
Telepon berbunyi untuk ketiga kali, nomor yang sama,
" Ini, terima".
" Kamu saja, aku capek"
Anya mengangkat telepon Rico.
" Hallo.... selamat malam"
Ada sahutan dari seberang, tampak galak dan marah.
" Siapa kamu ?!" Suaranya terdengar keras di kuping Anya.
Anya menyadari itu suara Briana.
Anya segera menyerahkan pada Rico, dengan isarat
" Bri a na ", dengan suara pelan
" Kenapa memang jawab saja" jawab Rico.
__ADS_1
Anya menggelengkan kepalanya, dan menyerahkan ponsel ke Rico
" Ada apa, telepon ?!!"
" Siapa wanita tadi ?!"
Anya tampak memberi isarat dengan menggelengkan kepala.
" Apa urusanmu ?"
" Kamu suamiku, tentu saja, aku berhak tahu"
" Kamu memang istriku, tapi aku tidak mencintainu".
" Jangan begitu, dimana kamu sekarang, aku akan menjabak rambut perempuan murahan itu".
" Nggak ada urusan dengan kamu".
Rico segera menutup teleponnya.
" Kenapa kamu nggak mau aku bilang ke Ana kalau itu adalah kamu?", tanya Rico sambil mengernyitkan dahi.
" Aku belum siap".
" Belum siap apannya?"
Ponsel berbunyi lagi, dari nomor tadi, berarti Briana.
Rico mematikan ponselnya, ia tak mau diganggu oleh Briana, sekaligus ia mau tahu kenapa Anya bersikap seperti itu.
" Kenapa kamu begitu Nya, aku menginginkan kta kembali ke Jakarta"
" Aku nggak mau".
" Kenapa ?"
Sebetulnya Anya akan menjawab, ia masih marah dengan papa mertuannya, tapi ia urungkan. mengingat betapa cintannya suaminya pada papanya.
" Kasihan bayi yang dikandung Briana, bagaimana kalau emosinya tak stabil kalau tahu wanita itu adalah aku".
" Terus kamu pikir dia stabil kalau dia tahu bukan kamu?"
" Ya, nggak juga, setidaknya kalau Briana tahu bahwa yang menerima telpon tadi orang lain, dia nggak akan begitu stress".
Rico menggelengkan kepala tak habis fikir, entah terbuat dari apa hati istrinya ini.
" Sini, aku mau menunjukkan sesuatu".
Rico mengambil ponsel dan memutar video dari Zein, dan menyerahkannya pada Anya.
" Lihat dan dengarkan !"
Anya menonton video dan menyimak, tiba-tiba matanya berkaca-kaca, suaminya yang selama ini ia kira tidur dengan Briana ternyata...
Anya segera memeluk suaminya
" Maafkan aku sayang.... aku kira ?"
"Aku tahu kamu pasti sedih kan mendengar Briana hamil ?, tapi semua sudah berlalu sayang, kalah kamu nggak mau ke Jakarta aku juga disini saja, terserah kamu. secepatnya aku akan buka kedok Briana, tapi tunggu waktu yang tepat, aku takut terjadi sesuatu pada papa"
Nah kaaan, untung tadi Anya ngga cerita kalau dia masih berat ketemu papa mertua.
πππππππππ
Nanti Author bonusin satu episode lagi
tapi nggak author up ya bila vote nya nggak nambah hehehe ππ
Jangan lupa like n koment-nya juga
Saranghaeyo πππ
__ADS_1