
Fyi "Camomile bunga ini memiliki arti semangat saat kesulitan"
***
Seharian ini Hazel sama sekali tidak bertemu dengan Akasa dan Hazel begitu mensyukuri hal tersebut. Ia masih begitu kecewa pada Akasa setelah apa yang laki-laki tersebut lakukan padanya. Kembali disakiti namun ia tak bisa membenci.
Evelyn kini tengah duduk di balkon kamarnya sambil menikmati pemandangan langit yang dihiasi oleh bintang yang begitu indah. Pemandangan langit dengan segala tatanan galaksinya memang selalu bisa membuat Hazel terpesona karena nya.
Suara dentingan dari pesan masuk membuat Evelyn dengan segera menoleh ke arah ponselnya dan ternyata ia mendapatkan sebuah pesan dari Fernando. Belakangan ini sepertinya laki-laki tersebut memang begitu gencar untuk mendapatkannya.
Fernando
Lagi sibuk ya?
Hazel menatap pesan tersebut dengan senyuman lalu segera membalas pesan tersebut. Merasa kasihan juga pada laki-laki tersebut jika terus diabaikan. Lagi pula menurut Hazel. Kini ia juga harus mulai untuk mencari laki-laki lain yang bisa menggantikan posisi Akasa. Ia tak bisa jika hanya berkutat pada Akasa yang sudah begitu sering menyakitinya.
Fernando
Enggak juga
Jawab Hazel seadanya. Terkesan cuek, berbeda saat ia bersama dengan Akasa. Pasti yang ada ia langsung ngegas saat laki-laki tersebut yang bertanya seperti itu. Love language mereka memang berbeda. Bukannya menunjukkan hal manis yang ada Hazel suka sekali berbicara ngegas dan emosian pada Akasa.
Tak lama suara pesan masuk kembali terdengar. Laki-laki tersebut sepertinya tidak keluar dari room chat Hazel hingga saat Hazel membalas pesannya laki-laki tersebut langsung membacanya.
Fernando
Besok bisa jalan?
Hazel berpikir sejenak saat membaca pesan tersebut. Bisakah ia untuk bersama laki-laki lain namun pikirannya masih tertuju pada Akasa? Katakan saja Hazel bodoh karena masih memikirkan laki-laki yang jelas sudah menyakitinya tersebut. Namun Hazel tak bisa berbohong. Kini sepertinya perasaannya sudah terlalu besar untuk Akasa.
Akasa bagai memberi warna yang begitu sulit untuk Hazel dapatkan dari orang lain. Namun jika tak mencobanya siapa yang tahu?
“Lo bisa Zel, lo gak bisa kalau poros nya cuma di Akasa. Hubungan lo sama dia benar-bener abu-abu tapi sudah mendekati gelap,” monolog Hazel pada dirinya sendiri. Berusaha untuk mensugesti dirinya sendiri.
Hazel menarik nafasnya dalam sebelum akhirnya membalas pesan tersebut.
__ADS_1
Fernando
Pulang gue ngampus ya, ke cafe aja.
Hazel menghela nafasnya setelah membalas pesan tersebut. Ia berharap besok ia tak akan bertemu dengan Akasa yang akan merusak pendiriannya.
“Lo bisa Hazel, asal gak ketemu sama tuh kupu-kupu gue yakin gue bisa move on dan mencari cowok lain yang bisa mencintai gue dengan tulus tanpa bayang-bayang dari masa lalu ataupun orang baru,” ucap Hazel berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri.
Suara dentingan ponsel kembali menyapanya. Hazel dengan segera melihatnya dan ternyata pesan dari Fernando.
Fernando
Ok Hazel. Makasih ya udah mau ketemu aku.
Besok 20 menit sebelum selesai ngampus bilang ya,
biar aku dateng lebih dulu.
Hazel hanya membacanya saja tanpa niat untuk membalasnya. Setelahnya gadis tersebut meletakkan ponselnya dan memilih untuk menikmati pemandangan dari langit di atasnya. Berusaha untuk menghilangkan pikirannya tentang Akasa ataupun laki-laki lain.
***
“Berangkat sendiri lagi?” tanya Tari pada Hazel saat melihat anaknya tersebut yang sudah membawa kunci mobilnya. Semenjak pulang dari Malaysia Tari dibuat bingung dengan Hazel yang berangkat ke kampus dengan mobilnya sendiri tak seperti sebelumnya yang selalu bersama Akasa.
“Iya,” ucap Hazel singkat dan melanjutkan acara sarapannya.
“Berantem saja Akasa?” tanya Tari pada anaknya tersebut yang kini hanya diam saja.
“Meskipun dikasih tau juga yang ada Hazel yang kena ultimatum,” ucap Hazel acuh lalu segera menyelesaikan makannya. Kini sudah lelah jika harus berdebat lagi.
“Kamu aja belum cerita ada apa antara kamu sama Akasa,” ucap Tari pada anaknya tersebut sambil menggelengkan kepalanya. Di rumahnya memang sudah terkenal saat sedang marah Hazel lah yang paling menakutkan .
“Akasa ada cewek lain,” ucap Hazel singkat. Jika bersama orang tuanya itu Hazel biasa saja mengatakan apa yang terjadi karena orang tuanya tak seperti kakaknya yang langsung memberikan pelajaran bagi orang yang sudah menyakiti adiknya.
“Mungkin emang dia masih di tahap mencari dan memilih,” ucap Ayah Hazel yang lagi-lagi menasehati yang sama. Bahkan Hazel bosan mendengarnya.
__ADS_1
“Benar kata ayah kamu, mungkin emang dia lagi memilih,” ucap Tari menyahuti yang membuat Hazel menghela nafasnya kasar sambil memutar bola matanya malas.
“Iya, kalau cowok begitu. Kalau aku yang begitu kalian pasti marah,” ucap Hazel lalu memilih untuk segera pergi dari sana dengan kekesalannya. Hazel masih begitu mengingat bagaimana dulu Mamanya yang tidak mau mengirimkannya uang bulanan karena ia memasang foto profil dirinya dan Argo. Konyol memang namun itu lah yang mamanya lakukan dengan alasan takut jika Akasa melihatnya dan menjauhi Hazel.
Dan sekarang saat ia berkali-kali mengatakan jika Akasa memiliki gadis lain mereka malah berpikiran terlalu positif tanpa memikirkan perasaan Hazel. Hazel merasa begitu kesal sekarang.
Hazel masuk ke mobilnya dan menutup pintu mobilnya dengan begitu kasar. Lalu mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke rumah sahabatnya karena ia sudah memiliki janji untuk menjemput mereka. Saat sampai di rumah Lyly ternyata Nira juga sudah ada di sana menunggunya mengingat memang rumah mereka yang tak terlalu jauh.
Hazel segera keluar dari mobilnya untuk pindah posisi membiarkan Nira yang menyetir. Tahu maksud Hazel. Mereka segera masuk ke mobil. Hingga tak lama mobil mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah Lyly.
“Kenapa Zel? Masih pagi udah murung aja,” tanya Nira saat melihat sahabatnya tersebut yang kini sudah mengubah kursinya menjadi tidur. Hazel memejamkan matanya yang terasa begitu lelah.
“Dateng liburan bukannya happy malah murung aja,” tambah Lyly sambil menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya yang satu itu.
“Btw ini oleh-oleh buat kita?” tanya Lyly yang melihat kursi sampingnya yang terdapat dua tote bag.
“Iya buat kalian. Aku mau tidur dulu bentar. Nanti kalau udah sampai bangunin. Btw aku ceritanya nanti aja,” ucap Hazel yang kini sudah memejamkan matanya dengan tangannya yang bersedekap dada. Kedua sahabatnya hanya membiarkan saja. Lagi pula mereka sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi pada Hazel. Masalah Hazel memang tak pernah jauh-jauh dari Akasa.
Selama di perjalanan akhirnya hanya suara Nira dan Lyly yang saling bercerita saja yang terdengar. Hazel yang biasanya begitu banyak bicara memilih untuk tidur dan mengalihkan pikirannya yang kacau ke alam mimpi.
***
Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.
Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.
Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath
See you next chapter guys.
Thank for Reading.
Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.
Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita temen aku ini ya. Tapi jangan lupa balik lagi ya.
__ADS_1