Anyelir

Anyelir
Nyaris saja...


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul dua dini hari, saat Anya tidur dalam resah, Rico menyadari itu. Ia segera bangun dan menyalakan lampu di samping tempat tidur.


Rico melihat keringat Anya bercucuran, tidurnya sangat gelisah. Ia segera meraih Anya untuk dibawa kepelukanya.


" Tenang Nya, kamu disini bersamaku, di rumahku, tenang Nya", sambil Rico memeluk Anya dengan erat, untuk mengurangi goncangan tubuh Anya.


Secara perlahan Anya membuka mata, dan ia menyadari bahwa sekarang ia berada di rumah Rico dan sekarang dalam pelukanya.


Anya menjadi tak enak hati, karena ia merasa mengganggu tidur Rico.


"Saya sudah nggak pa pa Pak Rico",


Rico melepaskan pelukanya, dan memandang Anya.


"Anya, ada aku disini, kamu nggak usah khawatir lagi".


"Maaf saya mengganggu tidur Pak Rico".


Rico kembali memeluk Anya dengan mesra.


"Tidak, sama sekali tidak, aku hanya kaget, tubuhmu berguncang keras, sekarang kita tidur lagi ya, masih jam duaan ini, jangan khawatir, aku ada disini".


Anya merebahkan badanya lagi dipelukan Rico.

__ADS_1


Ia melingkarkan tanganya di pinggang Rico. Hal itu justru membuat Rico menjadi tak bisa tidur.


Bila tadi yang resah Anya, sekarang menjadi terbalik, Rico lah yang menjadi resah.


Ada sesuatu yang mendorong ia untuk melakukan sesuatu. Semakin ia tahan semakin ia tersiksa.


Anya bukan tidak merasakan keresahan Rico, tapi dia diam saja, dan untuk saat ini ia sudah pasrah apa yang akan Rico lakukan padanya.


Mereka saling cinta, orang tua sudah sama sama tahu dan setuju.


Selain merasakan rindu yang sudah terlalu lama dipendam, moment ini adalah moment dimana kesempatan terbuka sangat lebar.


Rico mulai dikuasai oleh setan lagi, selalu seperti ini, bila ia berdekatan dengan Anya, rasa ingin menguasai dan memiliki Anya semakin membuat dadanya semakin berpacu.


Ia raih kepala Anya, Ia cium dan ... bibir Anya. Anyapun membalas ... bibir Rico di bibirnya.


Berbagi ciuman, berbagi belaian. Sampai pada Rico mulai membuka baju tidur Anya.


Anya tersentak kaget, Rico pun merasakan kekagetan Anya.


Anya segera menutup baju tidurnya.


Rico terbengong-bengong, ia bingung melihat Anya.

__ADS_1


"Ada apa, kenapa Nya?" tanya Rico bingung.


"Jangan Pak Rico, jangan sekarang, kalau kita sudah sah, akan saya serahkan semuanya ke Pak Rico".


Rico lupa, Anya bukanlah Rachel, dia tidak semudah itu menyerah. Dibalik rasa kecewa, ada rasa bangga si hati Rico, sebab Anya masih bisa menjaga keperawananya.


"Maaf Pak Rico, bapak pasti kecewa, maaf..."


Rico menghela nafas dalam, apa yang bisa ia katakan, bila apa yang dikatakan Anya itu benar.


Rico memang biasa hidup di luar negeri, dan bebas bergaul, tapi disini dia juga harus ikut aturan main. Ini timur, dan tentu saja ini berbeda.


Rico tersenyum dan memeluk Anya lagi.


" Terima kasih, sekarang kamu yang mengingatkanku".


Rico mengecup kening Anya, dan membelai kepalanya.


" Baiklah sekarang kita tidur lagi, besok kamu ada sesi bertemu Om Hendro, beliau ada waktu jam sembilan, kita tidur supaya besok bisa bangun pagi-pagi".


"Hmmm" kelihatan Anya sudah mulai mengantuk lagi, jadi jawabanya hanya berupa gumaman.


Rico turun dari tempat tidur, Ia perlu ke kamar mandi, selesai dari kamar mandi Rico mematikan lampu kamarnya, untuk menyusul Anya yang sudah mulai tidur.

__ADS_1


Rico memperhatikan Anya sebentar, ia tersenyum dan mencium kening Anya sekilas.


Ia pegang tangan Anya, Rico tak mau lepas kendali lagi. Dia sadar akan dirinya sendiri. Selalu seperti itu, bila berdekatan dengan Anya.


__ADS_2