Anyelir

Anyelir
Fig


__ADS_3

Fyi "Fig memiliki arti argumen"


***


Hazel dan Tara kini tengah berada di kamar Hazel. Mereka sedang menikmati hari minggu mereka dengan menonton drama komedi dan jelas film yang mereka tonton adalah pilihan Hazel. Hazel kini tengah tidur di sofa dengan paha Tara sebagai bantalannya.


“Aku pengen nonton konser EXO deh nanti secara langsung di Korea,” ucap Hazel tiba-tiba sambil menatap kakaknya tersebut dari bawah.


“Nanti kita pergi bareng,” ucap Tara dengan begitu santainya yang membuat Hazel memelotot mendengarnya namun ia tak bisa menyembunyikan senyuman cerahnya.


“Janji?” tanya Hazel yang Tara baas dengan anggukan. Hazel memeluk perut kakaknya tersebut menenggelamkan wajahnya di dalam baju Tara yang kini memperlihatkan perut kotak kotaknya.


Mereka kini malah lebih terlihat seperti seorang kekasih dari pada kakak adik. Tara memperlakukan Hazel sebagai satu-satunya perempuan yang ia perlakukan dengan istimewa. Tara melihat Hazel lewat baju atasnya dengan terkekeh, melihat bagaimana menggemaskan adiknya tersebut.


“Hazel ngapain sih Dek?” tanya Tara dengan tawa gelinya yang membuat Hazel malah menggigit perut Tara membuat memikik. Hazel tertawa dengan begitu kerasnya lalu segera berlari menjauh dari Tara yang kini sudah mengejarnya.


Mereka malah terus berlarian di kamar Hazel, dengan Hazel yang terus melempar bantal yang ia temukan pada Tara. Tawa gadis tersebut terus terdengar membuat tawa Tara yang tak pernah ia perlihat pada siapapun selain adiknya tersebut juga terdengar begitu keras.


Tara merasa bahagia melihat tawa adiknya tersebut terdengar begitu tulus dan semua ini karena nya. Ia lah yang menjadi alasan adiknya tertawa. Tara memang selalu bisa diandalkan dan bisa melakukan apapun demi adiknya tersebut.


Tara hanya berharap agar adiknya selalu bahagia dan tak ada lagi yang ingin menghancurkan mental adiknya tersebut yang sudah susah-susah ia sembuhkan.


“Huh capek banget Bang, stop dulu,” ucap Hazel.


Merasa lelah berlarian Hazel merebahkan tubuhnya di ranjang nya begitupun dengan Tara yang ikut merebahkan tubuhnya di samping Hazel. Mengatur nafas mereka yang tak beraturan. Namun tak lama setelah tenaganya kembali Tara malah dengan semangat menggelitik Hazel.


“Abang geli Bang, ampun bang. Gak lagi lagi deh,” ucap Hazel dengan tawanya karena terlalu gei mendapatkan serangan dari kakaknya tersebut.


“Rasain kamu hm,” ucap Tara dengan tawanya lalu ia segera duduk di samping Hazel masih dengan trawanya.

__ADS_1


“Abang senang lihat kamu bisa tertawa seperti ini lagi,” ucap Tara dengan senyumannya yang membuat Hazel juga ikut tersenyum mendengarnya. Hazel segera menegakkan tubuhnya lalu memeluk kakaknya tersebut dengan erat.


“Jangan tinggalin Hazel lagi, karena cuma Abang yang ngerti Hazel. Hazel paling bahagia sama Abang,” ucap Hazel di sela pelukan mereka. Tara mengelus punggung adiknya tersebut sayang.


“Abang selalu ada untuk Hazel,” ucap Tara lembut. Laki-laki tersebut memejamkan matanya menikmati nyaman yang kini mereka rasakan.


Tak lama suara pintu diketuk membuat mereka melepaskan pelukan mereka.


“Masuk aja,” ucap Hazel yang segera membuat orang di luar segera masuk dan ternyata orang tersebut adalah Mamanya. Yang kini tengah tersenyum melihat keakraban Hazel juga Tara. Mereka adalah kakak adik yang begitu kompak juga saling menyayangi.


Tari sebenarnya berharap jika mereka bisa rukun dengan adik mereka yang lain namun Tara malah masih tak mau mengakui mereka, sedangkan Hazel memang dekat dengan Roy namun dengan adik perempuannya ia seolah menciptakan pembatas nya sendiri.


“Makan siang dulu yuk,” ajak Tari dengan senyumannya yang di balas dengan senyuman dan anggukan oleh anaknya tersebut.


Mereka akhirnya keluar bersama dengan Hazel yang malah bergelayut manja di pindah Tara. Merangkul leher kakaknya tersebut dan mengangkat kakinya tanpa ingin untuk berjalan sendiri. Tara hanya tertawa geli namun tetap akhirnya ia merangkul pinggang Hazel untuk menjaga adiknya tersebut agar tidak terjatuh.


Mereka tertawa bersama hingga sampai di ruang makan yang ternyata disana sudah ada kedua orang tua serta kedua adik mereka yang menunggu mereka.


“Makasih Abang,” ucap Hazel dengan senyumannya yang dibalas dengan anggukan dan senyuman oleh Tara yang setelahnya memilih duduk di samping Hazel.


“Mbak, nanti main yuk. Adek pengen belanja di supermarket deh,” ajak Roy pada Hazel. Hazel terlihat berpikir sebelum menjawabnya dengan senyuman dan anggukan.


“Abang, anterin kita ya,” ajak Hazel pada Tara dengan tatapan memohonnya. Ia ingin membuat kakaknya tersebut perlahan mau menerima adik adik mereka yang lain. Walau setelahnya mungkin Hazel harus terima jika kasih sayang kakaknya tersebut akan terbagi.


“Gak, kalau mau sama abang kita berdua aja,” tegas Tara yang membuat ruang makan kini begitu canggung.


“Ya udah abang gak usah ikut. Hazel sama Roy aja,” ucap Hazel acuh yang membuat Tara berdecak mendengarnya. Ia mana mungkin membiarkan Hazel peri sendiri.


“Fine, abang anterin. Demi kamu,” tegas Tara yang membuat Hazel terkekeh lalu menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Kapan abang bisa nerima adik abang yang lain bang? Mereka sama seperti Hazel, mereka sama-sama adik Abang. Bedanya ayah kalian berbeda. Papa meskipun bukan ayah kandung kalian tapi dia mau nerima Abang dan Hazel dengan baik, dan menganggap kalian anak kandungnya sendiri,” ucap Tari yang membuat senyuman sinis terbit di bibir Tara. Tangan laki-laki tersebut kini sudah mengepal dengan begitu kuatnya. Hazel yang berada di samping Hazel menggenggam tangan kakaknya tersebut sambil menggelengkan kepalanya.


Tatapan memohon Hazel membuat Tara tidak tega untuk mengungkapkan semua kebusukan lak-laki tersebut meskipun ia ingin.


“Gak ada orang yang benar-bener baik,” ucap Tara yang setelah nya langsung pergi tanpa mau menghabiskan makannya lagi.


Hazel menghembuskan nafasnya sambil menggelengkan kepalanya. Hazel menundukkan kepalanya, lalu segera pergi dari sana untuk mengikuti kakaknya tersebut. Hazel tahu pasti ucapan ibu nya tersebut membuat Tara marah merasa tak terima dengan ucapan ibunya tersebut.


Saat Hazel masuk ke kamar kakaknya tersebut ternyata kakaknya tersebut tengah berada di balkon kamar sambil menyesap rokoknya. Hazel segera berjalan ke arah kakaknya tersebut, melihat kedatangan Hazel, Tara dengan segera mematikan rokoknya karena tak ingin membuat adiknya tersebut berada dalam bahaya. Hazel lalu memeluk kakaknya yang tengah duduk tersebut. Hingga kini kepala Tara berada tepat di dada Hazel.


“Dia bilang kita egois? Apa dia gak sadar diri kalau dia jauh lebih egois hanya karena membesarkan rasa malu nya? Ayah sudah mohon-mohon agar dia kembali, melakukan segala cara untuk menahan perceraian ini, tapi dia egois karena rasa malu nya ke keluarga ayah yang lain dia malah gak mau kembali ke ayah. Tanpa memikirkan kita, bilang nya malu. Tapi sekarang dia malah berhubungan baik sama keluarga ayah yang lain,” ucap Tara dengan berdecak, air mata laki-laki tersebut sudah mengalir begitu pun Hazel. Hazel mengelus puncak kepala kakaknya tersebut berusaha untuk menenangkannya.


Ia tahu kini Tara hanya perlu pelukan dan penenang.


***


Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.


Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.


Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath


See you next chapter guys.


Thank for Reading.


Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.


Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita aku yang baru. Masih anget nih.

__ADS_1



__ADS_2