Anyelir

Anyelir
Bittersweet


__ADS_3

Fyi "Bittersweet memiliki arti kebenaran (arti nama bunganya sendiri adalah suka & duka)"


***


Hazel kini tersenyum begitu lebar, menatap adik laki-lakinya yang kini terlihat begitu aktif berlarian dan bermain di taman yang berada tak jauh dari kompleks perumahannya. Usia bocah laki-laki tersebut kini sudah berada di usia 2 tahun.


“Mas ayo main lagi,” ucap Roy pada Akasa yang kini juga tengah menemani Hazel juga adiknya tersebut bermain di taman. Meskipun baru berumur dua tahun namun bocah tersebut sudah begitu fasih berbicara hanya beberapa huruf yang masih belum bisa ia sebutkan dengan benar.


“Ayo, sekarang Roy mau main apa lagi?” tanya Akasa pada bocah laki-laki tersebut yang kini sudah menarik Akasa untuk menuju perosotan yang berada di taman tersebut.


Akasa dan Roy memang begitu dekat mengingat memang sedari Roy kecil, Akasa selalu datang ke rumah nya membuat bocah tersebut akhirnya begitu dekat dengan Roy.


Kini Hazel hanya memperhatikan interaksi Akasa dan Roy sambil merekam nya dalam ponselnya. Mengabadikan momen yang membuat ia begitu bahagia melihatnya. Mereka kini bahkan sudah seperti keluarga bahagia. Jika orang yang tak tahu melihatnya mungkin dia akan mengira jika mereka adalah pasangan muda yang sudah memiliki anak.


“Akasa awas jatoh ya adek gue, gue gibeng lo,” ucap Hazel dengan begitu galaknya saat Akasa malah mengangkat Roy seperti pesawat terbang. Berbeda dengan Akasa yang sudah memelototkan matanya melihat hal tersebut kedua laki-laki tersebut juga tertawa dengan begitu bahagianya. Tawa Roy juga Akasa membuat Hazel menghembuskan nafasnya kasar sambil menggelengkan kepalanya.


“Emang dasar, abang adek. Gue yang kakak kandungnya malah terabaikan,” ucap Hazel yang kini sama sekali tidak dipedulikan oleh kedua laki-laki yang begitu asik bermain tersebut.


Hazel akhirnya memilih untuk duduk di kursi yang tak jauh dari sana sambil memainkan ponselnya daripada harus berdiri di dekat kedua laki-laki tersebut namun terabaikan.


Merasa sudah lelah bermain kini Akasa juga Roy langsung menghampiri Hazel dan ikut duduk di samping Hazel. Dengan gaya yang sama-sama meluruskan kakinya dan badannya yang bersandar ke sandaran kursi.


“Udah puas mainnya?” tanya Hazel yang di jawab anggukan kompak oleh kedua laki-laki tersebut tanpa dikomando.


“Capek,” ucap mereka lagi secara bersamaan. Hazel menaikkan sebelah alisnya sebelum tawanya menyembur mendengar bagaimana kekompakan antara Akasa dan Roy yang kini malah menyengir lalu tersenyum bangga.


“Emang adiknya Mas,” ucap Akasa sambil menyodorkan tangannya untuk bertos ria pada Roy yang segera di sambut oleh Roy. Hazel hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menatap interaksi tersebut.


“Kita beli es krim dulu sebelum pulang, mau?” tawar Akasa dengan senyumannya yang langsung dijawab dengan pekikan semangat dari Roy.


“Mau, adek mau es krim yang banyak,” ucap Roy sambil merentangkan tangannya menundukkan sebanyak apa yang diinginkan. Hazel yang mendengarnya hanya terkekeh begitupun dengan Akasa.


“Ayo kita jalan,” ajak Akasa yang sudah berdiri namun Roy kini malah mendudukkan tubuhnya yang semula sudah berdiri.

__ADS_1


Melihat hal tersebut Hazel menaikkan sebelah alisnya bingung melihat adiknya tersebut yang malah tak lagi bersemangat.


“Adek kenapa?” tanya Hazel sambil berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya pada adiknya tersebut.


“Adek mau gendong aja, adek capek jalan,” ucap Roy dengan wajah cemberutnya yang membuat Hazel dan Akasa terkekeh mendengarnya. Mereka pikir ada sesuatu yang terjadi pada Roy namun ternyata bocah laki-laki tersebut hanya tengah lelah.


“Ayo biar Mas gendong,” ucap Akasa yang setelahnya menggendong Roy membuat Roy begitu bersemangat lagi karena tak perlu capek-capek berjalan. Mereka akhirnya berjalan  bersama menuju kedai es krim yang berada di depan taman tersebut. Canda dan tawa sedari tadi tak hentinya terdengar, Roy yang begitu menggemaskan menambah kebahagian mereka.


***


“Emang kalau temenan sama kalian ikutan badung aku tuh,” ucap Lyly sambil menggelengkan kepalanya sedangkan kedua sahabatnya kini hanya tertawa mendengar ucapan dari sahabatnya tersebut.


Kini ketiga gadis tersebut bukannya kuliah malah membolos di jam mata kuliah mereka dan memilih untuk bermain. Dan tentu saja semua ide ini adalah ulah Evelyn yang didukung Nira, dan Lyly yang terkena bujukan dari sahabatnya tersebut.


“Sesekali lo harus nakal Ly, biar ada warna masa-masa lajang lo,” ucap Hazel dengan tawanya. Memang cukup sesat jika berteman dengan Hazel. Sangat tidak patut untuk di contoh.


“Emang badung,” ucap Lyly sambil menggelengkan kepalanya.


“Ini dapet tiket nya jam segini Ly jadi sekali lah kita boleh demi Ayang aku,” ucap Hazel dengan cengirannya. Memang yang bertugas mencari tiket untuk mereka adalah Hazel namun gadis tersebut malah mendapatkan jam pagi untuk menonton.


“Iya iya, udah di sini juga,” ucap Lyly yang hanya membuat Hazel menyengir.


Setelahnya mereka segera memasuki room teater karena film yang akan segera tayang. Selama menonton mereka menonton dengan begitu serius. Hazel bahkan kini tanpa sadar meneteskan air matanya saat melihat salah satu scene menyedihkan.


“Lebay,” ucap cibir Lyly saat merasakan sahabatnya tersebut menangis. Hazel yang mendengar cibiran Lyly tersebut hanya berdecak dan menatap sahabatnya tersebut dengan tatapan membunuh.


“Emang kamu hati batu,” sarkas Hazel tak mau kalah. Nira yang  berada di samping Hazel hanya bisa menggeleng mendengar pertengkaran sahabatnya tersebut namun apa yang Hazel ucapkan adalah benar, di antara mereka memang Lyly lah yang paling sulit menangis saat menonton.


Setelah lampu mulai dinyalakan ketiga gadis tersebut segera keluar dari mall dan berjalan bersama untuk menuju mobil Hazel. Hari ini Hazel memang membawa mobil sendiri dan ia lah yang memberikan tumpangan pada sahabatnya.


“Langsung balik aja lah ya,” ucap Nira menyarankan.


“Iya, aku juga harus tidur siang,” ucap Lyly yang Nira balas dengan anggukan setuju.

__ADS_1


Setelah sampai di mobil Hazel mereka mengerutkan kening saat melihat ban mobil Hazel yang kini malah sudah kempes.


“Mobil kamu kayaknya ngambek gara-gara kamu ajakin bolos,” Nira saat melihat mobil Hazel yang sudah tidak bisa mereka tumpangi lagi. Ketiga gadis tersebut kini malah begitu kompak memandangi ban mobil depan Hazel tanpa niat melakukan apapun.


“Karma sih kayaknya,” ucap Lyly yang kini sudah bersedekap dada. Mereka kini bahkan sudah kompak bersedekap dada samping menjadikan ban mobil tersebut sebagai tontonannya.


“Emang harusnya kita gak bolos, ini malah aku yang kena,” ucap Hazel menghela nafasnya kasar karena mobilnya yang malah terkena musibah karena tingkah mereka.


“Soalnya kamu yang ngajakin,” ucap Lyly dan Nira kompak lalu ketiga gadis tersebut malah kompak menarik nafas dalam.


“Udah lah bukannya mikir ini gimana jadinya malah pada meratapi,” ucap Hazel yang akhirnya lebih dulu tersadar dengan tingkah konyol mereka.


“Kalian pulang duluan aja pakek taxi. Aku minta Akasa aja jemput sakalian minta orang bengkel nya dia buat bawa mobil aku. Kalian kalo nunggu pasti lama, aku juga mau masuk lagi aja,” ucap Hazel pada sahabatnya tersebut.


“Kamu gak papa sendiri?” tanya Nira khawatir yang membuat Hazel tersenyum lalu segera melenggang pergi sambil menggelengkan kepalanya tanda jika ia tak menerima penolakan.


***


Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.


Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.


Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath


See you next chapter guys.


Thank for Reading.


Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.


Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita aku yang baru. Masih anget nih.


__ADS_1


__ADS_2