Anyelir

Anyelir
Talak


__ADS_3

Ternyata Pak Hardi tidak bersedia datang ke rumah Rico.


Dari nada bicaranya terdengar Pak Hardi menyimpan kemarahan.


Akhirnya Papa, mama dan Rico memutuskan untuk berkunjung ke rumah Briana.


Bayi Briana sudah ada di rumahnya, sehingga mereka langsung meluncur ke rumah Briana.


Walaupun bukan cucu, tapi nereka menghormati Pak Hardi sebagai orang tua Briana, sehingga walaupun Briana berbohong, mereka berbesar hati mendatangi rumah Briana.


Dulu Briana dan Rico sudah pernah membelikan peralatan bayi bersama-sama saat di Jogja, peralatan tersebut dibawa Rico sebagai hadiah.


Dengan wajah masam kedua orang tua Briana menyambut mereka, mama Briana malah terlihat sangat tak ramah.


" Mari silahkan duduk Pak Broto",


Mereka duduk saling berhadapan,


" Mohon maaf Pak Broto, saya langsung saja, menyampaikan unek-unek saya atas perlakuan Rico pada anak kami Briana, sesalah apapun istri tidak seharusnya ditinggal sendirian melahirkan tanpa ada yang menunggu dari pihak suami, kami kecewa Pak Broto".


Pak Broto akan menjawab saat tangan Rico diletakkan di atas paha papanya, dia memberi isyarat bahw dialah yan akan bicara.


" Om Herdi untuk itu kami mohon maaf, bukan maksud saya untuk meninggalkan begitu saja Briana di rumah sakit, tapi ada sesuatu yang membuat hal tersebut terpaksa saya lakukan".


" Apa sih kesalahan Briana, paling anaknya merajuk kekanak-kanakkan, nggak bisa dong kamu memperlakukan istri kamu seperti orang asing, dia melahirkan anakmu, mana tanggungjawabmu sebagai suami, istri melahirkan kok ditinggal begitu saja".


Papa dan mama sebetulnya ingin sekali bicara, tapi urung, karen sekali lagi mendapat isyarat dari Rico.


" Boleh Briana dipanggil kesini Om, supaya permasalahannya menjadi jelas".


" Briana baru melahirkan dia nggak akan kuat kesini".


" Kalau begitu kita yang ke kamarnya Om, saya nggak mau bicara disini, saat Om konfirmasi ke Briana dia ngomongnya lain lagi".


" Ma panggilkan Briana kesini",

__ADS_1


Mama Briana memandang Rico dengan tajam, lalu berjalan menuju ke kamar anak gadisnya.


" Ana, ada Rico di luar".


Muka Briana tiba'tiba pias, ia segera bicara dengan mamanya,


"Dia kesini dengan siapa Ma ?"


" Kedua orang tuanya lah".


" Nggak Briana nggak mau ketemu Riko, Briana masih sakit hati".


" Ya udah, biarin aja, enak aja, bikin salah cuma mau minta maaf, udah mama ke depan lagi, mama mau bicara sama mereka".


Sementara di ruang tamu, suasana sangat canggung, Pak Broto dan Pak Hardi yang biasa bercekrama ramah tampak, tegang.


" Maaf Bapak dan Ibu Broto, Briana masih sakit hati, dia belum mau keluar menemui".


Dengan bicara seperti itu mama Briana sama sekali tidak memandang Rico, yang nereka tahu Rico bersalah pada putri cantiknya.


" Apa ?!" Secara bersamaan mertua Rico melotot ke arah Rico.


" Atas dasar apa kamu mengembalikan Briana, bukankah kamu yang lebih berat ke istri tuamu, disini korbanya adalah Briana, kamu tidak bisa sewenang-wenang seperti itu".


Rico memgambil ponselnya,


" Maaf Om, Tante, izinkan saya"


Rico mulai memutar ponselnya.


Papa dan mama Briana tampak pucat mendengarkan pembicaraan Briana dan Alin, wajah mereka yang sebelumnya garang, mendadak melunak dan menundukkan kepala karena malu.


" Jadi kesimpulannya, saya menikahi wanita yang sudah hamil sebelum saya nikahi, terlepas Om dan Tante mengetahui atau tidak, kami tidak akan memperpanjang selama keluarga Om Hardi tidak membuat masalah ini menjadi sulit".


Mama Rico menambah pembicaraan dengan emosional,

__ADS_1


" Makanya Pak dan Ibu Hardi, jangan percaya begitu saja apa yang disampaikan anak, kita sudah kerja sama lama dalam perusahaan, nggak mungkinlah kami bertindak tanpa pikiran matang, tolong jaga sikapnya juga, kalau belum tahu masalahnya jangan sok-sok an marah-marah, seolah kami adalah sampah yang siap dibuang!!"


" Ma..." Tegur papa Rico.


" Biarin aja, mereka berlagak seolah maha benar, udah ayo pulang, biar mereka sekeluarga merenung, kita yang kedudukan di atas dia aja diperlakukan kaya gini, apalagi yang dibawahnya".


Mama berdiri untuk pergi, Sebelum mereka berdiri Pak Hardi segera menghentikan jalan mereka, beliau bertekuk lutut di hadapan Pak Broto.


" Maaf Pak Broto, kami salah, kami tidak tahu masalah yang sebenarnya, kami terlalu mencintai anak kami sehingga kami buta hati".


Bu Hardi-pun juga ikut memeluk Bu Broto,


" Maaf jeng, saya salah, saya juga tidak tahu masalah yang sebenarnya, jangan hubungkan hal ini dengan perusahaan Pak, saya mohon".


Sebetulnya Mama Rico tidak mungkin menghubungkan masalah pribadi dengan pekerjaan, beliau berbicara seperti itu tujuannya hanya untuk mengertak saja, bukan sifat Bu Broto menghina orang lain. Maklumlah jiwa emak-emaknya meronta-ronta juga bila melihat ada yang nggak cocok dengan kenyataan.


Mereka terpaksa duduk kembali,


" Baiklah Om dan Tante, kami tidak akan memperpanjang masalah ini, intinya saya akan menceraikan Briana, dan mohon Om dan Tante memahami itu".


" Ya ya, kami paham, kami berjanji tidak akan berlaku seperti ini lagi, maafkan kami, maafkan kami Pak Broto".


Pak Broto diam saja tanpa ekspresi, beliau merasa sangat marah, tapi berusaha sekuat tenaga beliau tahan.


" Baiklah Om, Tante kami pamit, surat cerao akan segera kami urus, permisi".


Sepeninggal tamu mereka papa dan mama Briana segera menuju ke kamar anaknya, tapi pintu telah dikunci oleh Briana.


Pak Hardi menggedor-gedor pintu kamar Briana, tapi Briana tak bergeming, dia merasa ketakutan.


" Bikin malu kamu Briana, bikin malu, kamu nggak tahu papa dan mama berasa dilempar t** ke muka, sama kamu, kurang ajar kamu...." dan masih banyak ungkapan kekesalan papa-nya yang keluar.


Di tempat lain Rico membawa mobilnya dengan sangat lega, mereka ngobrol santai di dalam mobil.


Bayangan Anya menari-nari dipikiran Rico.

__ADS_1


Rico senyum-senyum sendiri.


__ADS_2