Anyelir

Anyelir
Marjoram


__ADS_3

Fyi "Marjoram (sweet) memiliki arti kebahagiaan, tersipu malu"


***


Hazel baru saja keluar dari rumahnya untuk menuju mobilnya yang terparkir di garasi. Namun baru saja ia keluar ternyata di depan rumahnya kini sudah ada Akasa yang menunggunya. Laki-laki tersebut kini tengah bertengger di motornya dengan senyumannya yang mengembang. Melihat hal tersebut Hazel menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum ke arah laki-laki tersebut.


Sepertinya Hazel memang sudah terlalu bucin hingga ia kembali bisa memaafkan kesalahan Akasa. Katakan saja ia bodoh namun lagi-lagi kini hatinya yang menjadi pemenang.


“Udah siap tuan putri?” tanya Akasa dengan senyumannya yang membuat Hazel menjawabnya dengan anggukan lalu dengan segera berjalan ke arah laki-laki tersebut.


“Ngapain ke sini? Aku bawa mobil sendiri?” tanya Hazel sambil menunjukkan kunci yang dibawanya. Namun Akasa malah segera mengambilnya dan menyimpannya di saku celana laki-laki tersebut membuat Hazel menganga melihatnya.


“Akasa, kembaliin. Udah siang, aku mau berangkat loh,” kesal Hazel pada Akasa sambil berusaha mengambilnya namun Akasa malah menghindar dan malah menyodorkan helm untuk Hazel.


“Berangkat bareng aku,” ucap Akasa lalu memakaikan helm untuk Hazel. Hazel hanya bisa berdecak kesal dan menurutinya saja. Akasa menurunkan pijakan kaki Hazel dan membantu gadis tersebut untuk segera naik ke atas motornya.


Tak lama motor mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah Hazel menuju kampus mereka.


“Cowok waktu itu siapa? Aku lupa buat nanya ke kamu,” ucap Akasa saat mengingat laki-laki yang sempat bersama dengan Hazel beberapa waktu lalu di cafe.


“Temen aku. Dia itu cowok yang ngejar-ngejar aku pas masih SMP,” ucap Hazel menjelaskan sambil mendekatkan kepalanya pada Akasa agar laki-laki tersebut bisa mendengar ucapannya dengan jelas. Mendengar penjelasan Hazel, Akasa hanya menganggukkan kepalanya.


“Kayaknya dia mau berjuang lagi ya buat kamu,” ucap Akasa pada Hazel yang Hazel balas dengan anggukan.


“Katanya sih gitu,” ucap Hazel santai. Karena memang itulah yang Fernando katakan padanya. Laki-laki tersebut berkata akan berjuang. Namun Hazel kini perlahan mulai kehilangan rasa percaya akan ucapan seperti itu. Bahkan kini Hazel memegang prinsip semua laki-laki sama saja. Hanya bisa menyakiti dan mereka semua spesies kupu-kupu ataupun buaya.


Jika kalian bertanya kenapa Hazel bisa percaya pada Akasa dan bisa menerima laki-laki tersebut jawabannya hanya satu. Hazel tak pernah percaya akan ungkapan cinta yang Akasa katakan ia hanya berusaha percaya karena ia mencintai Akasa. Ia hanya ingin membuat dirinya bahagia karena mengetahui Akasa juga mencintainya. Hanya sebatas itu.


“Terus kamu jawab apa?” tanya Akas pada Hazel dengan tatapan penasarannya.

__ADS_1


“Ya aku bilang, itu sih terserah dia. Tapi jangan berekspektasi lebih dengan hasilnya, karena untuk sekarang aku gak bisa bales perasaan dia,” ucap Hazel menjawab apa adanya sesuai dengan apa yang ia katakan pad Fernando beberapa hari yang lalu.


Mengingat tentang laki-laki tersebut. Hazel baru ingat jika setelah pertemuan mereka yang dikacaukan oleh Akasa. Sampai sekarang Hazel belum menjelaskan apapun pada Fernando dan belum menghubungi laki-laki tersebut. Namun Hazel memang tak berniat untuk menjelaskan pada Hazel jika laki-laki tersebut tak bertanya padanya. Ia hanya tak ingin memberikan harapan pada Fernando dengan menjelaskannya. Takut jika Fernando berpikir Hazel menaruh hati padanya.


Jadi Hazel memilih untuk bungkam. Dan jika laki-laki tersebut bertanya maka Hazel akan menjawabnya.


“Jadi kamu bisa aja ngasih perasaan ke dia?” tanya Akasa yang kini terdengar tak menyukai jawaban dari Hazel tersebut.


“Siapa yang tahu? Hati manusia gampang buat berubah kan? Tapi untuk saat ini kamu masih ada di posisi kamu, gak ada yang berubah,” ucap Hazel jujur. Sekedar ucapan sederhana namun bisa membuat senyuman Akasa terbit di balik helm full face nya.


“Akau akan buat posisi itu tetap untuk aku,” ucap Akasa pasti yang membuat Hazel terkekeh mendengarnya lalu memeluk Akasa dari belakang. Menyandarkan kepalanya pada bahu bidang laki-laki tersebut.


Selama di perjalanan mereka tak pernah kehabisan topik untuk mereka bicarakan. Akasa yang seperti memiliki banyak stok cerita. Terus saja bercerita banyak hal pada Hazel yang selalu bisa membuat Hazel nyaman. Sangat berbeda dengan Fernando yang begitu pendiam dan sulit membuka pembicaraan. Akasa memang lebih aktif untuk mendekatinya.  Akasa juga begitu banyak bicara dan selalu bisa untuk Hazel andalkan.


“Udah berapa banyak cewek yang kamu omongin begitu?” tanya Hazel pada laki-laki di depannya tersebut yang kini hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan Hazel.


“Terserah deh,” ucap Akasa yang memilih untuk mengalah karena tak ingin memancing perdebatan. Hazel hanya bisa berdecih hingga akhirnya mereka saling terdiam. Namun yang namanya Akasa yang memang tak tahan dengan keheningan akhirnya kembali memulai pembicaraan.


“Dah sana masuk, belajar yang pinter. Biar bisa jadi pengajar yang baik buat anak-anak kita,” ucap Akasa dengan kekehannya yang membuat Hazel memutar bola matanya malas mendengar ucapan Akasa yang penuh dengan harapan dan ucapan manis. Padahal nyatanya hanya sebagai pemanis penutup luka.


“Bacot banget,” kesal Hazel lalu segera pergi dari sana meninggalkan Akas ayang kini sudah meledakkan tawanya mendengar ucapan dari Hazel. Laki-laki tersebut hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Baru saja Hazel berbelok di koridor, salah seorang kenalan Hazle memanggil nya membuat gadis tersebut menoleh dengan kerutan di keningnya.


“Kenapa Mar?” tanya Hazel bingung.


“Ada yang nyariin tadi. Sekarang nunggu di taman,” ucap Mara pada Hazel membuat Hazel menaikkan sebelah alisnya namun akhirnya ia hanya menganggukkan kepalanya.


“Thank ya,” ucap Hazel yang dibalas dengan anggukan oleh temannya tersebut. Setelahnya Hazel segera menuju ke arah taman untuk melihat siapa yang mencarinya.

__ADS_1


Seorang laki-laki yang begitu Hazel kenali kini tengah duduk di salah satu kursi taman. Laki-laki yang berhasil membuat Hazel tercengang melihat laki-laki tersebut yang begitu ia kenali.


“Argo?!” tanya Hazel tak percaya melihat laki-laki yang berada di sana adalah mantan kekasihnya. Argo tersenyum dengan begitu lebar pada Hazel yang membuat Hazel ikut tersenyum walau masih ada sedikit sakit yang kini ia rasakan. Namun entah mengapa Hazel merasa ia sudah ikhlas dan melupakan laki-laki tersebut.


Argo rasanya ingin sekali memeluk gadis tersebut namun ia menahannya dan memilih untuk diam di posisinya. Hazel yang memang begitu merindukan laki-laki tersebut akhirnya memeluk Argo yang jelas dibalas dengan pelukan hangat oleh Argo. Namun tak lama Hazel segera melepaskan pelukannya tersebut.


“Kenapa bisa ada di sini?” tanya Hazel menaikkan sebelah alisnya bingung.


“Kebetulan lagi ada urusan kantor di sini. Jadi sekali nyamperin kamu,” ucap Argo menjelaskan yang Hazel balas dengan anggukan mengerti.


“Mau bolos?” tawar Argo yang malah membuat Hazel tertawa mendengar tawan laki-laki tersebut. Atau lebih tepatnya ia tak percaya seorang Argo mengatakan hal tersebut.


“Gak nyangka seorang Argo bisa nawarin kesesatan,” ucap Hazel dengan Tawanya yang membuat Argo ikut tertawa. Hingga akhirnya mereka tertawa bersama.


“But, not bad. Ayolah,” ajak Hazel yang kembali membuat membuat mereka tertawa.


***


Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.


Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.


Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath


See you next chapter guys.


Thank for Reading.


Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.

__ADS_1


Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita temen aku ini ya. Tapi jangan lupa balik lagi ya.



__ADS_2