
Fyi "Veronica memiliki arti ketepatan"
***
Hazel kini tengah berada di taman yang berada di kompleks perumahannya. Pikirannya kini melayang kala mengingat beberapa minggu lagi Argo akan menikah. Laki-laki tersebut memang memutuskan untuk menikah saat liburan kuliah semester empat ini. Menikah saat mereka masih harus melanjutkan kuliahnya. Hazel tak pernah berpikir jika akhirnya Argo akan mengambil keputusan ini.
“Ternyata kita bener-bener udah kelar ya,” ucap Hazel dengan senyuman sinisnya kala mengingat kembali tentang laki-laki yang dicintainya selama bertahun-tahun ini.
Hazel menarik nafasnya dalam sambil menunduk dan menatap kakinya dengan tatapan sendunya.
“Kamu ngapain sih malem-malem di sini? Nyari temen apa gimana?” tanya sebuah suara yang kini sudah duduk di samping Hazel dengan kerutan di keningnya.
Hazel yang mendengarnya sontak menoleh ke arah Akasa dengan mencibik dan berusaha untuk mengubah ekspresi nya menjadi biasa lagi. Ia tak ingin memberitahu Akasa tentang kesedihannya juga tentang Argo yang akan menikah. Hazel hanya tak ingin jika ia menyakiti perasaan Akasa dengan masih menyimpan perasaan pada Argo padahal sebelumnya gadis tersebut sudah mengatakan perasaanya pada Akasa.
Hazel memang begitu pandai menjaga perasaan orang lain, hanya saja terkadang orang lain lah yang suka memainkan perasaan dan menghancurkan Hazel.
"Lagi nyari udara segar aja, kamu juga ngapain kesini?” tanya Hazel pada laki-laki di sampingnya tersebut yang kini tersenyum dengan begitu lebar membuat hasil mengerutkan keningnya bingung.
"Aku tadi ke rumah kamu tapi kata Mama kamu Kamu lagi ke taman yaudah aku samperin ke sini. Lagian kamu ngapain sih malam-malam ke taman?” tanya Akasa pada Hazel. laki-laki tersebut tadi memang kerumah Hazel hanya untuk menghampiri gadis tersebut dan membawakannya makanan namun ia malah tak mendapati keberadaan gadis tersebut di rumahnya jadilah kini ia menyusul hasil Ketaman.
"Ada yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Akasa pada gadis yang kini berada di sampingnya tersebut. Ia tahu jika saat ini Hazel Tengah berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, ia sudah mengenal gadis tersebut begitu lama jadi tentu saja Ia tahu bagaimana gadis tersebut saat sedang sedih maupun saat sedang bahagia.
"Aku nggak papa," ucap Hazel yang masih meyakinkan Akasa jika dirinya baik-baik saja. ia benar-benar tidak ingin untuk membuat laki-laki tersebut berpikiran negatif atau mengira jika Ia tidak benar-benar mencintai Akasa dan Masih memikirkan argo.
Walau nyatanya memang begitu Adakah lah hatinya malah bimbang memikirkan untuk siapa sebenarnya perasaannya itu berlabuh namun ada kalanya juga ia mulai berpikir jika ia memang bisa mencintai dua laki-laki dalam satu hati meskipun kini perasaannya tersebut lebih besar pada Akasa setelah apa yang Argo lakukan padanya perlahan perasaannya pada laki-laki tersebut mulai menghilang.
"Ayo balik udah malam,” ucap Hazel mengajak sahabatnya tersebut untuk segera pergi dari sana ia tidak ingin jika Akasa bertanya lebih lanjut lagi jadi lebih baik ia segera memilih untuk pulang dan beristirahat di rumahnya.
__ADS_1
akasa akhirnya hanya bisa mengalah dan mengikuti gadis tersebut yang sudah lebih dulu berjalan di depannya.
***
Hazel baru saja keluar dari ruang dosen setelah mengurus beberapa hal dengan dosennya. Wajah datar yang selalu Hazel tunjukkan saat tak bersama dengan sahabatnya kini terlihat begitu jelas. Baru saja Hazel mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Akasa agar segera menjemputnya, namun ponsel tersebut lebih dulu berbunyi dengan begitu nyaringnya menandakan sebuah panggilan masuk.
Saat melihat yang menelepon adalah sahabatnya Deniz, dengan segera Hazel menjawab panggilan tersebut.
"Gue di depan kampus Lo cepet keluar," ucap Deniz tanpa basa-basi dan sapaan, Hazel yang sudah siap untuk memberikan wejangan pada Deniz karena langsung nyerocos tanpa salam akhirnya ia urungkan karena Hazel terlalu senang karena sahabatnya itu berkunjung jadi ia tidak mengeluh dan langsung berjalan keluar kampus setelah telpon di matikan.
"Deniz," teriak Hazel sambil melambaikan tangannya pada Deniz yang berdiri di depan mobilnya. Melihat kedatangan Hazel senyuman Deniz ikut mengembang dan ikut melambaikan tangannya ke arah Hazel. Hazel segera berjalan ke arah Deniz yang sudah merentangkan tangannya.
"Gue kangen," ucap Hazel sembari memeluk Deniz yang juga dibalas pelukan oleh Deniz.
"Jadi apa yang buat Lo kesini?" tanya Hazel dengan kerutan di dahinya pada laki-laki itu. Hazel tahu pasti, Deniz tak akan mau repot-repot datang hanya untuk menemuinya saja, biasanya Deniz datang untuk menemuinya sekalian liburan namun kali ini bukanlah waktunya liburan.
"Kita makan dulu deh nanti di jelasinnya di sana," ajak Deniz yang di balas anggukan oleh Hazel dan dengan segera masuk ke mobil Deniz.
Tak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai didepan resto cepat saji, mereka langsung masuk dan memesan makanan mereka. Mereka memilih untuk duduk di meja paling pojok dan menjauh dari kerumunan.
"Hazel sebenarnya gue berat mau ngasih tau ini tapi gue rasa Lo harus tau," ucap Deniz yang membuat Hazel mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan Deniz. Ia merasakan akan ada hal buruk yang akan terjadi.
"Arka bakalan nikah dan dia ngundang elo," ucap Deniz sambil menyodorkan undangan pada Hazel. Hazel hanya tersenyum sambil mengambil undangan itu. Deniz tahu itu hanyalah senyuman palsu untuk menutupi rasa sakitnya karena terlihat jelas dari mata Hazel yang mengungkapkan semuanya rasa sakit, kecewa, kerinduan, dan rasa sayang masih ada.
Deniz sudah mengenal Hazel begitu lama, laki-laki tersebut tahu bagaimana Hazel yang memang begitu pandai dalam menyembunyikan rasa sakitnya dengan sebuah senyuman.
"Gue bakal Dateng," ucap Hazel sambil tersenyum namun penuh luka dalam senyuman itu. Deniz menggenggam tangan Hazel yang berada di atas meja berusaha untuk memberikan kekuatan pada sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Jangan maksain kalo Lo gak siap ya gak usah Dateng," ucap Deniz yang malah mendapatkan tawa hambar Hazel.
"Ye gue udah siap kali," ucap Hazel sambil mengelus tangan Deniz yang menggenggam tangannya tersebut.
"Im ok," ucap Hazel sambil tersenyum menyatakan jika ia baik-baik saja.
“Lagian sebelumnya lo udah bilang kalau dia emang udah tunangan dan bakalan nikah, gue udah pasang benteng lebih tinggi,” ucap Hazel dengan senyuman menenangkannya yang membuat Deniz menghela nafasnya kasar ia tak suka melihat sahabatnya yang terlihat baik-baik saja.
“Jangan gak papa mulu Zel, sekali-sekali lo harus keluarin kata-kata mutiara lo atau nyumpahin mereka yang udah nyakitin lo, minimal nangis lah,” ucap Deniz yang justru membuat Hazel terkekeh mendengarnya.
“Ngapain? gak usah. Udah jangan di pusingin lagi. Gue pengen masalah gue sama Argo cepet kelar,” ucap Hazel dengan senyumannya yang membuat Deniz menghela nafasnya kasar mendengar hal tersebut.
“Gue bener-bener berharap yang terbaik buat lo,” ucap Deniz yang membuat Hazel menjawabnya dengan anggukan dan senyuman tulus.
***
Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.
Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.
Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath
See you next chapter guys.
Thank for Reading.
Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.
__ADS_1
Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita aku yang baru. Masih anget nih.