
Sementara itu, kasus penculikan Anya masih diselidiki polisi, ada beberapa informasi baru yang ditemukan oleh polisi.
Penyelidikkan sudah mulai mengerucut ke satu nama, tapi untuk sementara polisi belum akan menyampaikan bila belum pasti.
Saat ini keluarga Pak Broto kedatangan tamu dari kepolisian yang menyelidiki kasus diculiknya Anya.
" Begini Bapak, kedatangan kami kesini hanya untuk menginformasikan, bahwa sudah afa satu nama yang kami curigai dalam penculikan Bu Anya, tapi untuk sementara ini tidak akan kami sampaikan dulu siapa orang tersebut, tapi bila sudah pasti akan kami konfirmasikan ke Bapak, dan kita akan bergerak".
"Wah, terima kasih banyak pak, ternyata kasus sudah hampir sampai pada pelakunya, harapan besar kami sekeluarga supaya dedengkotnya bisa tertangkap, supaya kami sekeluarga tenang.
"Akan kami usahakan segera pak, masalah ini memang agak pelik, tapi tetap ada celah dimana kita bisa menemukan pelakunya".
" Baik pak terima kasih".
" Baik Pak Broto kami sekalian pamit".
Di tempat lain, sejak tadi pagi Rachel mual-mual terus, sudah tiga hari ini Rachel muntah-muntah.
Mamanya kebingungan melihat anak gadisnya lemas dan pucat. setiap akan dipanggilkan dokter keluarga, dia selalu menolak.
Sampai hari ini, mama-nya tidak tahan lagi, ia menghubungi dokter karena khawatir dengan kondisi Rachel yang makin lama kondisinya makin turun.
Dokter datang disaat Rachel tertidur pulas, Mama Rachel mengajak dokter untuk menuju ke kamar Rachel.
Saat masuk kamar, Rachel masih tidur dengan wajah yang tampak pucat.
Dokter memeriksa Rachel, tak memerlukan waktu lama dokter mengajak Bu Wulan Mama Rachel turun.
"Gimana dokter kondisi Rachel?"
" Ya bu, kita bicarakan di bawah"
Wajah Bu Wulan tampak pucat, ia takut Rachel menderita penyakit parah.
Saat turun tangga-pun beliau sudah tak sabar untuk mengetahui bagaimana kondisi Rachel.
" Bagaiman Dok, gimana kondisi Rachel".
" Silahkan ibu duduk dulu".
Mama Rachel duduk dengan gelisah.
Sementara itu dokter sedang mencari-cari kalimat yang tepat supaya mama Rachel tidak kaget.
" Sesudah saya periksa, Rachel tidak sakit bu, pertama dia hanya capek kurang istirahat, kelihatanya dia pulang dini hari terus ya bu, itu juga bikin darahnya drop, (dokter berdehem pelan), dan yang terakhir, hmmm ini perlu diperiksa lebih lanjut bu, Rachel sedang hamil".
Dokter melihat wajah Bu Wulan tampak pucat, dan tak bisa berkata apa-apa. Beliau melihat dokter dengan bingung.
" Ibu tidak usah khawatir, ini saya berikan alamat dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut, silahkan ini bu, supaya Rachel terpantau, sebab selain hamil darahnya juga rendah".
__ADS_1
Dokter menyerahkan catatan kecil pada Mama Rachel yang berisi alamat dokter spesialis kandungan.
Bu Wulan menerima catatan kecil tersebut dengan tangan gemetar, beliau tidak menyangka anak satu-satunya hamil sebelum menikah.
" Baik Bu Joko, saya permisi pamit dulu", mereka saling berjabat tangan.
Dengan mata berkaca-kaca Bu Wulan berjalan ke kamarnya, beliau memasuki kamar seakan fak bertulang.
Dengan pelan Bu Wulan berjalan ke arah jendela kamar tidurnya, beliau duduk di samping jendela sambil memandang keluar denga tatapan kosong.
Tak terasa, bergulir air mata Bu Wulan, beliau teramat sedih, anak satu-satunya yang ia harapkan masa depanya indah, dan memberinya cucu yang lucu-lucu, sekarang hamil di luar nikah.
Bu Wulan menangis tergugu, suaranya tertutup hujan yang tiba-tiba datang. Seolah alampun ikut bersedih dengan apa yang dirasakan oleh Bu Wulan.
Beliau seperti itu mungkin ada satu jam, dampai tersadar bahwa ia tak boleh seperti itu.
Rachel tak punya siapa-siapa selain aku, siapa yang akan mendukungnya bila aku tak peduli.
Bu Wulan berdiri, beliau melangkah ke kamar Rachel.
Rachel sudah bangun, ia sedang memandang keluar jendela.
Bu Wulan mendekatinya. Mendengar suara langkah kaki Rachel menoleh, tampak disudut matanya ia habis menangis.
Rachel berusaha duduk, tapi karena masih lemas, ia terjatuh lagi.
Bu Wulan memeluk Rachel, mereka bersama-sama menangis.
" Mama, aku takut..... aku takut ...."
"Takut kenapa sayang ?"
" Aku takut (terdiam beberapa saat(, aku takut hamil ma "
Bu Wulan tak bisa berkata-kata, apa yang bisa ia lakukan sekarang bila anak satu-satunya kondisinya seperti ini.
Terlihat jelas Rachel dalam kondisi down, ia tak mau membebani pikiran anaknya dengan berita yang pasti mengejutkannya.
"Nanti kita ke dokter ya. kita periksa ke dokter kamu sakit apa".
Pak Joko pulang setelah dihubungi Bu Wulan, saat sampai di rumah, Bu Wulan segera menyeret suaminya untuk dibawa ke ruang kerjanya.
"Ada apa ma, kok kamj kelihatan khawatir gitu".
" Rachel pa, Rachel hamil ".
"Aaapaaaa!!!"
" Jangan keras-keras, nanti didengar pegawai di luar. Tapi itu tadi baru diagnosa dokter, kita diminta memeriksakan Rachel ke dokter kandungan ".
__ADS_1
" Siapa laki-lakinya ?, tanggung jawab nggak ?, kalau nggak gugurkan saja, kita cuma punya Rachel kita nggak perlu repot marahin Rachel"
" Tapi Rachel harus diingatkan Ia jangan didiamkan, apa yang dilakukan salah".
"Salah apanya, yang penting nggak ada yang tahu, nggak masalah, Gimana Rachel, harusnya dia pakai kontrasepsi supaya nggak hamil, nggak habis fikir, hidup di luar lama, kok nggak mikir".
Bu Wulan, tak habis fikir dengan reaksi suaminya yang santai, seolah tak ada masalah berat.
"Dimana Rachel ?"
"Dia ada di kamarnya".
Pak Joko menuju lantai atas, diikuti oleh Bu Wulan.
Pak Joko membuka pintu Rachel dengan mengetuk pintu lebih dulu. Sebelum ada jawaban dari dalam Pak Joko membuka pintu dan masuk.
Ia mencium dahi anaknya.
"Rachel gimana keadaanmu sudah enakan ?"
" Lumayan Pa, habis minum obat".
"Baguslah, kalau bener kamu hamil, dan kamu nggak mau rawat, gugurkan kandunganmu".
Rachel bahagia sekali, srbab papa-nya mendukung.
"Terima kasih pa, aku sayaaaaang banget sama papa".
Semenyara itu Bu Wulan hanya bisa memandang kedua orang yang ia cintai dengan tak berdaya.
'Sepertinya, memang hanya aku yang berbeda di keluarga ini ' batin Bu Wulan dengan sedih.
Lamunan Bu Wulan terhenti saat Pak Joko berujar.
" Papa mau ganti mobil kamu, kamu pilih sendiri mobil apa yang kamh inginkan".
" Makasih papa, love you papa, love you ".
Bu Wulan memilih pergi, beliau sedih dengan kondisi ini, beliau tak habis fikir, bagaimana suaminya bisa merusak mental anaknya sendiri, tanpa sadar.
Bu Wulan menunggu, Pak Joko di luar kamar Rachel.
Saat Pak Joko keluar,
"Pa, aku mau bicara".
" Aku ada kerjaan, kalau kamu mau ngomel soal Rachel jangan lanjutkan, aku cuma punya Rachel, bagaimanapun dia tidak boleh disakiti, begitupun dengan kamu. Kamu nggak perlu marah sama Rachel, dia cukup sedih dengan kondisinya, biarkan saja".
Dan Bu Wulan hznya bisa melongo mendengar perkataan Pak Joko. Kasih sayang suaminya betul-betul merusak mental anaknya sendiri.
__ADS_1