
Rico semakin kalut, dia tidak bisa tidur, dia menunggu mungkin penculik menghubunginya. Tapi sampai dengan waktu menunjukkan pukul dua dinihari tidak ada yang menghubungi Rico.
Tanpa sadar Rico tertidur di sofa ruang kerjanya, ditemani oleh Pak Broto, beberapa kali Bu Broto mengecek ke ruang kerja, tapi Pak Broto selalu memberi isyarat supaya Bu Broto keluar.
Sementara di daerah yang berhawa dingin, Anya tampak ketakutan melihat sekelilingnya. Suara binatang malam menambah angker suasana.
Anya hanya bisa menangis sesenggukan. antara takut dengan orang-orang yang mengelilinginya, dan takut pada suasana sekitarnya.
Bila penutup mulutnya dibuka mungkin akan terdengar Anya menangis.
Ada empat penjaga yang menunggu Anya, mereka main kartu di depan pintu masuk, dua orang lagi sedang tidur, mungkin mereka bergiliran
Yang membuat Anya merasa sedikit lega, tak ada satupun dari mereka yang berniat menjamah tubuh Anya.
Anya akhirnya tertidur dalam takut dan lelah dengan lelehan air mata di pipi.
__ADS_1
Keesokan harinya Anya terbangun karena pancaran sinar matahari. Sementara ia lihat beberapa preman yang menjaganya semalam sedang tertidur pulas.
Ia hitung ada enam orang, pas seperti hitunganya semalam. Anya menengok kanan dan kiri, mungkin ada alat bantu yang bisa ia gunakan untuk melepas jeratan di tanganya.
Dia melihat ada patahan cutter menggeletak di sebelah kanan tempatnya duduk. Tapi tak terjangkau, sementara kakinya juga diikat, bagaimana cara mengambilnya.
Anya mencoba berdiri, berhasil !!, walaupun kursi tetap melekat padanya, sebab ikatan tangan Anya terletak di belakang kursi. Dengan jalan meloncat Anya hampir sampai pada patahan cutter.
Tapi tiba-tiba, salah satu dari preman itu terbangun, dengan agak sempoyongan karena baru bangun, orang tersebut berjalan menuju ke arah Anya. Anya kaget, dengan spontan dia meluruskan tempat duduknya sampai terlihat duduk seperti posisi awal, hanya tempatnya yang sedikit geser.
Tapi preman tersebut ternyata sleepwalking, hanya berjalan beberapa langkah lalu dia tidur lagi di atas lantai.
Dia harus berusaha keluar dari sini kalau mau tetap hidup.
Anya melihat ke arah patahan cutter lagi, sambil memandang ke arah para preman yang sedang tidur saling tindih. Dia bergerak dengan hati-hati dan waspada.
__ADS_1
Anya sudah berada di atas cutter, dia tinggal memikirkan bagaimana caranya mengambil patahan cutter tersebut. Sedang tangan dan kakinya terikat.
Anya melihat lagi posisi preman-preman tersebut, akhirnya dia menemukan cara, walaupun berat. Dia mengambil dengan cara memiringkan badanya, berkali-kali dan gagal terus. Anya hampir putus asa, sampai pada keputusan akhir, bila kali ini ia tidak bisa mengambil cutter tersebut ia akan menyerah. untuk mengambil patahan cutter. Tapi berkat usahanya tersebut ia bisa mengambil cutter tersebut.
Anya mulai menggesek-gesekkan patahan cutter pada lakban yang ada di tanganya. Lama dan sangat lambat, sebab beberapa kali saat preman bergerak, dia juga menghentikan kegiatannya.
Mungkin ada satu jam, baru cutternya terlepas. Tinggal yang ada di kakinya. Dan untunglah dia melakukan dengan mudah.
Anya segera berjinjit menuju ke pintu keluar. Ia melihat tak ada kunci di pintu.
Ia membuka handle pintu dengan sangat pelan, dan, pintu terbuka
Anya masih berjalan dengan pelan menuju jalan keluar semacam villa tersebut.
Tinggal sedikit lagi ia keluar, sampai ada suara seseorang membentak
__ADS_1
"Hai kamu !!"
Anya menoleh dengan sangat kaget.