Anyelir

Anyelir
Hibiscus


__ADS_3

Fyi "Hibiscus memiiki arti kecantikan yang bagus"


***


“Dua hari lagi aku balik ke Malaysia,” ucap Tara tiba-tiba saat kini laki-laki tersebut tengah makan malam bersama dengan keluarganya yang lain. Hazel yang mendengar ucapan kakaknya tersebut menjatuhkan alat makan yang dipegangnya. Bahkan mulutnya yang penuh dengan makanan juga terhenti mengunyah makanannya.


“Maksud kakak apa?” tanya Hazel yang sudah kembali dari alam bawah sadarnya. Ia kembali mengunyah makanannya menelannya dengan kasar. Tara terdiam, menatap adiknya tersebut dengan tatapan sendu dan rasa bersalahnya.


“Kenapa mau balik Nak? Mama kira Tara bakalan menetap di sini,” ucap Tari yang kali ini ikut menimpali. Meskipun hubungan mereka tak terlalu baik namun tinggal dan hidup bersama dengan anak-anaknya menjadi keinginan dan kebahagiaan untuk Tari.


“Iya, kenapa harus balik lagi? Papa gak keberatan kalau kamu tetep disini,” ucap Ayah tiri mereka yang kini ikut menimpali. Tara menaikkan sebelah alisnya dan menatap sinis laki-laki tersebut.


“Ya untuk apa juga Anda keberatan? Ini rumah keluarga saya bukan rumah Anda,” ucap Tara dengan sinisnya. Inilah yang tak bisa membuat Tara untuk tinggal bersama dengan keluarganya sendiri karena ayah tirinya tersebut. Ia tak akan bisa untuk akur dengan laki-laki tersebut.


“Bang,” tegur Tari pada anaknya tersebut yang kini menghela nafasnya kasar.


“Ini yang buat aku gak bisa untuk terus tinggal di sini. Aku gak akan bisa untuk tinggal bersama orang yang ku benci,” ucap Tara menjawab pertanyaan ibunya tersebut. Tari memejamkan matanya, ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Tara begitu membenci suaminya tersebut.


Bahkan dari awal Tari menikah dengan suaminya itu. Tara tak pernah setuju dan tidak pernah menyukainya. Apalagi saat menikah pun Tari tak memberitahu anak-anaknya lebih dulu. Hazel dan Tara saat itu mengetahui ibunya itu sudah menikah saat ibunya hamil.


Mereka tentu saja marah dan begitu kecewa pada ibunya tersebut. Bahkan Hazel sampai tidak mau menemuinya ibunya sendiri, begitupun dengan Tara yang malas menemui ibunya sendiri. Ketegangan tersebut terus berlanjut. Namun dengan kebaikan ibunya Hazel perlahan bisa menerima ibunya kembali juga keluarga barunya. Apa lagi ayahnya sudah menasehatinya untuk bisa menerima yang sudah terjadi termasuk keluarga barunya itu.


Namun berbeda dengan Hazel. Tara masih marah pada ibunya tersebut. Saat ia mulai perlahan menerima ibunya ia sama sekali tidak pernah menerima keluarga barunya.


“Abang bakal ninggalin Hazel? Abang tahu Hazel bahagia abang bisa sama Hazel. Hazel pikir abang gak akan ninggalin Hazel lagi, tapi ternyata Hazel terlalu berharap lebih,” ucap Hazel dengan senyuman sinisnya.

__ADS_1


“Abang minta maaf Dek, tapi abang harap Hazel bisa ngertiin abang. Abang gak bisa hidup sama dia,” ucap Tara dengan tatapan sendu pada adiknya tersenyum yang kini tersenyum dengan miris dengan angannya sendiri yang kini harus dipatahkan.


Menurutnya kehadiran kakaknya tersebut membawa warna sendiri bagi Hazel. Kakaknya bisa menjaga nya dengan baik, menjadi teman, sekaligus menjadi orang yang selalu memprioritaskan dirinya di atas apapun. Dan kini apa mereka harus berpisah lagi?


“Abang yang gak ngertiin Hazel,” kesal Hazel lalu segera pergi dari ruang makan dengan air matanya yang kini mulai mengalir membasahi pipi mulusnya tersebut.


 Hazel memilih untuk keluar dari rumahnya tersebut, ia hanya ingin untuk menenangkan pikirannya dan mencari udara segar. Kini Hazel memutuskan berjalan di trotoar jalan dengan air matanya yang masih mengalir membasahi pipi putihnya tersebut.


“Dan akhirnya semua akan pergi pada waktunya. People come and people go,” ucap Hazel dengan senyuman sinisnya dan air matanya yang terus mengalir membasahi pipi mulusnya tersebut.


Hazel berjalan ke arah taman yang kini terlihat sepi. Setelah berada di taman tersebut Hazel menumpahkan tangisnya di sana. Jika di rumah Hazel tak akan bisa menangis dengan keras sedangkan di taman tersebut ia bisa menangis dengan keras, menumpahkan sesak di dadanya. Kuku panjangnya kini mulai menancap di kulit-kulit tangannya menciptakan luka di sana.


“Kenapa semua orang ninggalin gue? Abang yang gue kira bisa selalu ada buat gue ternyata hanya mementingkan ego nya sendiri dan memilih untuk pergi,” marah Hazel sambil menarik-narik rambutnya hingga rontok.


“Hazel,” suara teriakan tersebut membuat Hazel menoleh. Hingga orang tersebut memelototkan matanya saat melihat Hazel yang kini terlihat begitu hancur dengan air matanya yang mengalir deras. Melihat hal tersebut langsung saja ia menghampiri Hazel lalu memeluknya dengan erat.


***


“Kenapa kamu gak pernah bisa untuk menerima keadaan Tara? Sekarang mereka adalah keluarga kamu,” marah Tari pada anaknya tersebut. Ia sudah cukup lelah dengan semua pertengkaran keluarganya tersebut.


“Mama gak akan ngerti dan gak tau kenapa aku aku gini,” ucap Tara yang setelahnya hendak pergi untuk menyusul Hazel. Ia takut jika adiknya tersebut melakukan hal bodoh mengingat bagaimana adiknya tersebut saat sedang dalam keadaan kalut seperti ini.


“Tara, mama belum selesai bicara,” marah Tari sambil menahan tangan anaknya tersebut saat Tara akan pergi. Tara berdecak kesal sambil menghempaskan tangan Tari.


“Maaf ma, tapi Hazel sekarang lebih penting dari amarah mama,” tandas Tara dan hendak pergi dari sana namun ucapan Tari selanjutnya menahan langkah laki-laki tersebut.

__ADS_1


“Hazel udah besar dia bisa pulang sendiri dan sekarang dia juga butuh ruang dan waktu untuk menenangkan dirinya Jangan pergi sebelum mama selesai,” ucap Tari dengan tegasnya. Tara membalikkan tubuhnya untuk menatap ibunya tersebut dan menatap ibunya tersebut dengan tatapan tajamnya.


“Mama emang gak pernah tahu ya gimana Hazel? Mama benar-benar kurang perhatian sama Hazel,” ucap Tara dengan begitu tajamnya lalu setelahnya ia segera pergi dari sana menyisakan Tari dengan banyak tanda tanya dalam kepalanya tentang apa yang terjadi pada anaknya tersebut.


Tara kini berlari menyusuri trotoar jalan untuk mencri keberadaan adiknya tersebut hingga saat sampai di taman dari kejauhan ia dapat melihat dua orang yang seperti tengah berpelukan. Tara dengan segera berjalan ke arah taman untuk melihat siapa yang  berada di sana. Hingga tatapannya dibuat teduh saat melihat Hazel yang tengah  berada di sana sambil di peluk oleh Akasa.


Akasa terlihat begitu menyayangi dan melindungi Hazel membuat tatapan Tara menghangat melihatnya. Tak ingin mengganggu mereka akhirnya Tara memutuskan untuk pergi setidaknya ia kini bisa tenang dan lega mengetahui adiknya tersebut baik-baik saja dan kini ada Akasa yang menjaganya.


Namun Tara tak langsung pulang ke rumahnya, ia memilih duduk di depan supermarket yang tak jauh dari sana sambil menunggu Hazel.


***


Hi guys aku balik lagi nih dengan cerita baru aku.


Jangan lupa juga buat vote, koment, dan like ya. Dukungan kalian semangat ku.


Jangan lupa juga buat Follow akun sosial media aku ya guys. Ig: Hilmiatulhasanah dan Wphilmiath


See you next chapter guys.


Thank for Reading.


Dan ya buat kalian jangan lupa buat baca cerita ku yang lain ya. Yang pasti gak akan kalah seru dari kisah ini. Jadi langsung cek profil aku aja ya guys.


Bentar jangan pergi dulu, aku juga bawa cerita dari temen aku nih. Cerita yang bakalan buat kalian betah bacanya. So langsung di cek aja ya, sekalian nunggu Hazel dan kawan-kawan update mending mampir ke cerita aku yang baru. Masih anget nih.

__ADS_1



__ADS_2