Anyelir

Anyelir
Hadapi Masalah dengan Tenang


__ADS_3

Rico menunggu di teras rumah Anya, siapa tahu Anya pulang, sambil terus menghubungi Anya. Terasa lama menunggu Rico semakin khawatir, sementara dia terus menghubungi ponsel Anya yang aktif, tapi sama sekali tak diangkat.


Rico sudah sangat khawatir. Dia khawatir terjadi sesuatu pada Anya.


Pak RT mendekati Rico, sebab ia lihat dari tadi pria ini berada di teras rumah Anya.


" Maaf bapak, dari tadi saya lihat bapak berada di teras rumah Mbak Anya, mencari Mbak Anya ?"


Rico menuju ke Pak RT dan menyalami Pak RT.


"Ya pak, saya nunggu dari tadi Anya nggak pulang-pulang".


" Dihubungi aja mas, mungkin sedang di luar".


"Dari tadi saya hubungi tapi nggak diangkat pak"


" Apa masih di dalam ya? tapi kok nggak keluar, la wong ada tamu". Gumam Pak RT.


Bu Anjas tetangga sebelah Anya, menuju ke arah Rico dan Pak RT berada.


"Mencari Mbak Anya ya mas ?"


Tanya Bu Anjas.


" Ya Bu, ibu tahu Anya keluar ?"


"Tadi pagi jam sepuluhan aku lihat mba Anya naik mobil warna hitam, tadi supirnya juga keluar, sepertinya... itu sopir online"


" Tadi jam berapa bu, Anya pergi?"


" Kurang lebih jam sepuluh pagi dah, aku pas jemur baju, Mbak Anya sempat nyapa tadi".


"Oh ya bu, makasih"


Rico menghubungi kantor pusat mobil online. Dan ia diminta untuk menuju ke kantor tersebut.


Ia segera berpamitan pada tetangga Anya dan berlari menuju mobilnya.


Sampai di kantor ia ditemui oleh Pak Barkah yang merupakan direktur perusahaan tersebut, mereka saling kenal walaupun tidak akrab.


"Apa kabar Pak Rico, ini tadi kami langsung mencari siapa yang membawa atas nama Mba Anya, dengan alamat yang bapak sebutkan, tapi supaya lebih jelas, saya akan panggil drivernya saja".


" Ya Pak Barkah, terima kasih banyak atas bantuanya, dan mohon maaf saya mengganggu bapak".


" Tidak masalah pak, saya panggil drivernya dulu". Pak Barkah memerintah sekretarisnya untuk memanggilkan driver yang tadi dipesan oleh Anya.

__ADS_1


Tidak berapa lama, ada ketokan di pintu, dan Pak Barkah mempersilahkan untuk masuk. Disana berdiri orang yang sudah cukup umur yang merupakan driver pesanan Anya.


" Mari sini Pak Lukman, silahkan duduk ".


Pak Lukman duduk diikuti oleh Rico dan Pak Barkah.


"Pak Lukman, tadi dapat pesanan atas nama Ibu Anya sekitar jam 9 sampai 10 ?" Rico langsung bertanya.


" Ia pak, tapi waktu saya sampai di tempat, Ibu Anya saya telepon, tapi teleponya tiba-tiba mati, tapi saya sempat dengar, Ibu Anya bertanya 'siapa kalian?' terus ponsel langsung mati".


" Bapak tidak mendengar ada jawaban dari yang ditanya?"


" Tidak pak, ponselnya langsung mati, hanya itu yang saya tahu pak".


" Baik pak terimakasih, mohon maaf mengganggu waktu bapak", kata Rico sambil menjabat tangan Pak Lukman.


" Tidak apa-apa pak, kebetulan tadi saat ditelpon dari kantor saya pas off istirahat".


" Ya pak, terima kasih"


Pak Lukman pamit keluar, saat Rico akan bicara pada Pak Barkah, ada pesan masuk. Biasanya Rico tidak peduli dengan pesan saat ia ngobrol penting. Tapi entah kenapa kali ini ia langsung membuka pesan tersebut.


Di pesan terkirim gambar, gambar Anya sedang diikat di kursi dengan mata bercucuran dan mulut yang tertutup lakban.


Ada pesan menyusul


'Lapor polisi dia mati'


'Tunggu petunjuk lebih lanjut'


Wajahnya semakin pucat, dia memikirkan langkah apa yang mungkin bisa ia lakukan.


Tapi pikiranya benar-benar mati. Otaknya benar-benar tidak bisa diajak berfikir.


Rico berpamitan pada Pak Barkah dan langsung membawa mobilnya menuju rumah.


Rico memanggil papanya untuk berkonsultasi.


Ia mengajak papanya untuk ngobrol di ruang kerja. Tanpa banyak basa-basi Rico mengungkapkan apa yang terjadi.


"Pa, wanita yang aku cintai diculik ".


Pak Broto langsung melongo, dia tidak menyangka ada kejadian seperti dalam film menimpa putranya.


Tapi beliau segera menyadari bahwa anaknya butuh dukungan dan masukanya.

__ADS_1


" Sekarang kamu tenang dulu, menurut kamu siapa yang kira-kira menculik kekasihmu itu, apakah kekasihmu punya musuh atau ada hubunganya dengan keputusanmu pisah dengan Rachel ?"


" Ya pa, sebetulnya tadi dalam perjalanan ke rumah aku juga berfikir begitu, kalau musuh dia nggak punya pa, dengan Rachel ? tadi dia ketemu aku sampai dengan penculikan terjadi, mungkinkah Rachel ?"


" Kita lapor polisi aja Ric"


" Jangan pa !! penculiknya mengancam", Rico menunjukkan pesan singkat dari penculik.


" Anya !!, jadi kekasih kamu Anya ?!"


" Ya pah"


"Kita harus cari cara yang aman supaya Anya selamat, jangan sampai mama kamu dengar peristiwa ini, nanti dia shok"


"Ya pa, terus sekarang aku harus bagaimana pah, otakku benar-benar tidak bisa diajak berfikir"


" Apa tidak lebih baik kita lapor polisi, walaupun penculik mengancam kita pura-pura ikuti aturan mainya tapi tetap kita lapor polisi"


" Tapi aku takut terjadi apa-apa pada Anya pah"


" Ya juga sih, kasihan anak itu, dia anak yang baik, tidak ada yang boleh terjadi pada anak itu, sementara kita ikuti aturan main penculiknya, sambil lihat selanjutnya, kalau sampai besok masih tidak ada kabar kita akan langsungtelepon polisi".


" Tapi pa, bagaimana kalau terjadi apa-apa pada Anya?"


" Kita percayakan saja pada polisi, oh ya lokasi tempat Anya disekap bisa kita ketahui lewat ponsel Anya bila masih aktif".


" Coba kita lihat" , jawab Rico cepat, dari tadi dia tidak berfikir sampai kesana, kekalutan menutupi pikiran sehatnya.


Rico membuka ponselnya, dia melihat ponsel Anya masih aktif


Ia mulai mencari alamat ponsel Anya melalui maps , ketemu ada di luar kota. Anya dibawa oleh para penculik di daerah Bogor.


Setidaknya ini menjadi bekal Rico untuk pencarian Anya.


"Ric, coba kamu hubungi nomor penculik, pancing dia sampai menujukkan tempat Anya dibawa".


Terlihat jelas wajah kalut Rico, dia tampak begitu bingung, bahkan berfikir jernihpun dia sudah tak mampu.


Rico butuh dukungan orang tuanya terutama papanya.


Dia memghubungi nomor yang tadi mengirim pesan.


Sudah tak aktif lagi.


Kembali dia menghubungi nomor Anya, sudah tidak aktif lagi.

__ADS_1


__ADS_2