ARINDA

ARINDA
Hal. 01


__ADS_3

***


Juni 2012.


Menjalani kehidupan yang sudah di atur oleh sang Maha Pencipta bukan perkara gampang, banyak jalan berliku yang terkadang harus di lalui bagi setiap Hamba-Nya. Menjadi makhluk Tuhan yang tinggi derajatnya di bumi, memang suatu kehormatan dan kebersyukuran atas setiap nafas yang berhembus. Beberapa orang bahkan tidak pernah bersyukur atas hidup yang mereka jalani. Mereka berpikir Tuhan tidak adil. Padahal, dia hanya belum sepenuhnya mencintai dirinya sendiri.


Arinda Zarina, yang biasa dipanggil Arin oleh orang tuanya. Dia seorang siswi kelas X di SMKN Bhakti Malang, dengan murid yang terkenal mempunyai paras elok serta prestasi yang bagus. Beruntungnya Arin bisa di terima di sekolah ini. Sungguh rezeki yang tidak terduga. Karena dia tidak begitu cerdas dalam mata pelajaran sekolah.


Perempuan yang selalu menggerutu dirinya sendiri atas kekurangan yang ia miliki. Dia yang tidak pandai bergaul, selalu menjauh dari keramaian, dan dia yang selalu mengalah dalam segala hal, namun sebenarnya dia tidak ingin. Parasnya manis, namun dia tidak pernah bersyukur atas apa yang dia miliki. Menurutnya, dia tidak sehebat orang lain.


Masa Orientasi Siswa telah berakhir. Selama 3 hari kemarin, Arin masih tidak memiliki teman, tidak bergaul dengan teman sekelasnya. Di kejuruannya, Teknik Komputer, di dominasi dengan murid laki-laki karena memang dia tidak suka banyak teman perempuan. Lebih tepatnya karena dia benar-benar tidak bisa bergaul dengan cepat.


Setelah Arin menemukan kelasnya yang di umumkan di madding, dia masuk dengan seragam putih birunya ke dalam kelas, karena seragam putih abu-abunya belum selesai di jahit. Semua murid dikelasnya memandangnya, karena dia masuk sendiri tanpa teman, sama seperti sebelumnya. Tidak seperti lainnya yang sudah mulai akrab dan masuk bersama ke dalam kelas. Beruntungnya, setengah dari laki-laki di kelasnya adalah temannya saat SMP, jadi dia tidak begitu canggung.


"Hey sini," Panggil seseorang sambil melambai pada Arin, lalu menepuk bangku kosong di sebelahnya.


Arin menoleh pada seorang siswi cantik yang memanggilnya. Danita Dwi Yustika. Perempuan berambut panjang berwarna hitam diikat keatas dengan dihiasi pita, senyumnya yang manis, lesung pipi di kanan dan kiri, serta kulitnya yang putih bersih, membuatnya semakin cantik. Hanya satu kekurangan dari parasnya, dahinya yang sedikit lebar, tetapi tetap saja tidak mengurangi kadar kecantikannya.


Arinpun menghampiri perempuan itu lalu berdiri di sebelah bangku kosong. Sebelumnya, saat MOS dia duduk sendiri dibangku paling belakang.


"Duduk sama aku aja. Bangkunya kosong kok," Ajak perempuan itu.


"Gapapa nih?" Tanya Arin memastikan.


"Ya gapapa lah. Duduk aja," Katanya lagi.


Arin mengangguk, dia duduk disebelah siswi cantik itu sambil meletakkan tas di atas meja. Siswi cantik itu mengulurkan tangannya, mengajak berkenalan. "Namaku Danita. Panggilnya Nita aja."


Arin menjabat uluran tangan Nita. "Arin."


"Temenan sama aku ya, aku gak punya temen disini."


"Bukannya temen kamu banyak ya? Kemarin kayaknya banyak yang nyamperin kamu di lapangan." Celetuk Arin.


Tangan Nita bergerak seperti mengusir serangga di depan wajahnya. "Ah itu mah cowok-cowok genit yang minta nomor hp," Jawabnya.


Arin mengangguk. Perkenalan mereka berhenti sampai di situ, karena wali kelas mereka datang. Perkenalanpun di mulai. Sesi seperti ini yang paling di benci oleh Arin. Dia sedikit pemalu, dan tidak suka menceritakan tentang dirinya di depan orang lain. Satu persatu murid didalam kelas maju memperkenalkan diri. Ada murid yang memperkenalkan dirinya dengan percaya diri, ada yang malu-malu sampai suaranya nyaris tak terdengar.


Kini giliran Arin yang maju di depan kelas. Tubuhnya bergetar hebat karena gugup, semua mata tertuju padanya, mereka memandang seakan mengejek penampilannya. Entah itu hanya halusinasi Arin atau benar begitu adanya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," Jawab semua murid dan wali kelas.


"Perkenalkan, Nama saya Arinda Zarina. Saya dari SMP Harapan 2. Hobi saya-"


"Assalamualaikum," Sapa seseorang dari ambang pintu kelas yang membuat Arin menghentikan perkenalannya.

__ADS_1


Lagi-lagi semua menjawab salam tersebut dan memandang pada seorang siswa berpostur tubuh tinggi, termasuk Arin yang juga ikut memperhatikannya.


"Permisi, Bu Wati." Laki-laki itu masuk dengan sopannya menghampiri wali kelas.


Laki-laki itu terlihat sedang mengobrol pelan dengan Wati sebentar. Sang wali kelas itupun mengangguk. Selepas itu, Laki-laki itu keluar dari kelas Arin, yang ternyata dia keluar hanya untuk memanggil teman-temannya. Beberapa muridpun masuk ke dalam kelas. Dari badge yang menempel di lengan baju kiri mereka, menunjukkan angka XI dan XII dengan warna yang berbeda, menandakan kalau mereka adalah Kakak kelas dari kejuruan yang berbeda. Karena disekolah Arin, setiap kejuruan mempunyai warna badge berbeda.


"Itu kamu yang berdiri, siapa nama kamu tadi?" Tanya Wati menunjuk pada Arin.


"Arinda, Bu."


"Kamu duduk aja dulu, nanti di lanjut perkenalannya. Ada Kakak-kakak yang mau menyampaikan sesuatu."


Arin duduk kembali ke bangkunya. Dia memperhatikan gerombolan murid yang berdiri di depan whiteboard dengan tumpukan kertas berukuran A4 di tangan masing-masing.


"Assalamualaikum," Sapa laki-laki putih dengan topi sekolah di kepalanya.


"Waalaikumsalam," Jawab semua orang ada di ruangan tersebut.


Dia adalah siswa tampan yang sudah di ketahui namanya oleh seluruh murid di sekolah. Bahkan murid baru yang masuk sejak 3 hari yang lalu saja sudah tau namanya, termasuk Arin. Bagaimana tidak, namanya di sebut dimana-dimana, sampai dia bosan mendengarnya.


"Perkenalkan nama saya Ezra. Saya ketua ekstrakulikuler Jurnalistik di sekolah. Adek-adek pasti udah tau kan tentang Jurnalistik?"


Sebagian murid menjawab 'Tau', sebagian lagi menjawab 'Enggak'.


"Oke kalo gitu, disini saya akan jelaskan sedikit. Jurnalistik adalah hal yang menyangkut kewartawanan dan persuratkabaran dan seni kejuruan yang bersangkutan dengan pemberitaan dan persuratkabaran. Di sekolah kita, ada majalah khusus yang memuat berita tentang lingkup sekolah atau luar sekolah. Itu adalah tugas yang kita kerjakan di ekstrakulikuler jusnalistik."


"Paham," Jawab semua murid di kelas.


"Oh, ternyata promosi ekskul," Gumam Nita pelan.


"Kak Melly, silahkan di lanjut," Suruh Ezra pada salah satu teman seangkatannya.


Perempuan berhijab dan berkacamata itu melangkah ke depan untuk menggantikan Ezra berpromosi. "Nah jadi, buat kalian yang suka banget sama fotografi atau desain grafis, kalian bisa gabung sama ekstrakulikuler kami. Nanti kita bisa belajar bareng tentang jurnalist, dan ide-ide lainnya yang pastinya kami membutuhkan anggota dari kejuruan kalian. Bagi yang berminat, kalian bisa isi formulir dari kami. Untuk yang gak berminat bisa di kosongin dan mengembalikan formulirnya."


Anggota lainnyapun bergerak membagikan satu formulir pada setiap murid di kelas. Satu hal yang membuat Arin tertarik dengan estrakulikuler ini. Bukan karena Ezra, tapi Kakak sepupunya, Diandra Aulia, yang mengikuti kegiatan tersebut.


"Daftar aja Rin. Ada aku," Kata Lia sambil mengulurkan satu formulir pada Arin.


Arin mengangguk dan menerima formulir tersebut. Sebelumnya, Lia sudah menjelaskan tentang ekstrakulikuler ini pada saudaranya itu kemarin malam. Tidak hanya jurnalistik, tapi dia menjelaskan semua ekstrakulikuler lainnya pada Arin. Tapi perempuan itu memilih jurnalistik karena ada yang dikenalnya di keanggotaan tersebut.


"Seriusan mau ikutan ekskul ini, Rin?" Tanya Nita.


Arin mengangguk semangat karena dia benar-benar yakin dengan keputusannya.


"Karena ada Kak Ezra ya? Hhmm, hayo ngaku," Goda Nita.


Arin menggeleng seraya mengisi formulirnya. "Soalnya ada Kakakku. Kan enak kalo ada yang kenal," Jawabnya.

__ADS_1


Nita mengangguk, membiarkan formulirnya kosong karena dia tidak tertarik dengan ekstrakulikuler tersebut. 10 menit berlalu, beberapa murid yang berminat terlihat sudah selesai mengisi formulir. Lia dan yang lainnya mengambil dan mengumpulkan formulirnya. Mereka memeriksa ada berapa murid yang akan ikut serta dalam keanggotaan Jurnalistik.


"Terimakasih buat 4 orang yang mendaftar di ekskul kami. Nanti Kakak-kakak akan kasih informasi lebih lanjut untuk pertemuan dan jadwal ekskul. Terimakasih, selamat belajar ya Adik-Adik. Assalamualaikum," Pamit Ezra.


"Waalaikumsalam," Jawab semua murid serentak.


Semua anggota jurnalistik keluar dari kelas Arin, kecuali Ezra yang berpamitan terlebih dahulu dan mengucapkan terimakasih pada wali kelas, karena sudah memberikan waktu untuk mereka berpromosi di kelasnya. Setelah semua anggota jurnalistik keluar dari kelasnya, Wati melanjutkan sesi perkenalannya lagi.


"Tadi siapa yang terakhir?" Tanya Wati.


Arin mengangkat tangan kanannya. "Saya, Bu."


"Ya sudah. selanjutnya maju," Suruh Wati.


Arin menghela nafas lega, karena tidak menyuruh dirinya mengulang perkenalan. Satu persatu siswa maju untuk memperkenalkan diri sampai selesai. Setelah itu, Wati menjelaskan sistem pembelajaran dan juga memberikan jadwal pelajaran untuk muridnya. Mereka mencatatnya dengan serius, tanpa ada suara. Hanya ada suara goresan tinta dan lembar kertas yang dibolak balik oleh para murid.


"Assalamualaikum," Sapa seseorang lagi, dari ambang pintu kelas.


"Waalaikumsalam," Jawab semua murid.


Seorang siswi berambut pendek masuk mendekat pada Wati. "Permisi Bu, kami dari ekskul basket. Boleh menganggu waktunya sebentar? Kami mau promosi."


"Oh iya, silahkan."


Perempuan itu berjalan dengan sopan, lalu keluar memanggil teman-temannya. Beda dengan tadi, kali ini jumlah murid yang masuk sangat banyak. Mungkin sekitar 15 sampai 20 orang. Tidak hanya Kakak kelas, tapi murid kelas X yang mendaftar di keanggotaan tersebut dari jurusan lain juga ikut masuk ke dalam kelas Arin.


Arin yang baru saja selesai mencatat jadwal pelajaran, mendongakkan kepala. Betapa kagetnya dia melihat seseorang yang dia kenal dalam gerombolan tersebut, sampai matanya membulat sempurna.


Dia sekolah disini juga?


***


Hallo, perkenalkan aku penulis baru. Ini bukan cerita nyata, tapi aku sedikit memasukkan pengalamanku waktu sekolah dulu hehe. Semoga kalian suka ya sama jalan ceritanya.


**Cast.


Arinda Zarina**.



Danita Dwi Yustika.



Ibrahim Ezra Pratama.


__ADS_1


__ADS_2