
Erwin tengah gundah gulana. Dari tadi, kerjanya hanya bolak-balik saja. Wajahnya juga terlihat gelisah. Kali ini, ia mengaku hampir menyerah. Pria itu tak tahu harus melakukan apa?
Aris memintanya untuk membawa Arinda ke sebuah hotel untuk makan malam. Selanjutnya, bermalam bersama Nirwan. Tentu, rencana tersebut tak diketahui oleh anaknya atau pun Nita.
Erwin sempat menolak secara halus, tetapi Aris menjadi berang. Ancaman akan memenjarakannya jika tak menurut, membuat pria berperangai buruk itu menjadi takut. Sebagai seorang pejabat, tentu hal tersebut sangat mudah dilakukan.
Namun, di sisi lain, ancaman akan di bunuh dilayangkan untuknya jika terjadi sesuatu dengan sang putri. Mereka sudah memeringati agar menjaga Arinda dengan baik.
Erwin mulai bingung?!
Kesal sekaligus takut mulai dirasakan Erwin jika mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Saat di mana sekelompok orang bersenjata menyatroni rumah mereka. Semuanya berbadan tegap, tinggi, dan berwajah dingin tanpa senyum.
Pada saat itu, Erwin dan Nita cukup terkejut. Mereka berdua bertanya-tanya. Bagaimana bisa Arinda mengenal orang-orang berbahaya seperti ini.
Peringatan sekaligus ancaman tersebut, membuat keduanya langsung gemetar. Tak ada lagi ucapan yang keluar dari bibir Erwin dan Nita.
Oleh karena itu, semenjak Arinda kembali pulang, Erwin tak lagi mengusik sang putri. Pria itu tak mau hidupnya berakhir dengan cepat.
Nita yang mengetahui perihal itu pun ikut membungkam. Ada sejumput rasa syukur dan kelegaan di hatinya juga. Berkat peristiwa tersebut, setidaknya Erwin tak lagi pernah menyuruh sang putri menjual diri. Walaupun, ia harus menanggung akibatnya juga untuk ikut menjauhi Arinda.
Karena pusing memikirkan banyak hal, Erwin memilih pergi ke warung remang-remang untuk memabukkan diri. Di saat mabuk, biasanya pria itu akan berani mengambil keputusan mana yang terbaik.
Pukul delapan malam, Erwin kembali ke rumah. Pria itu sudah tahu harus memutuskan apa yang terbaik. Paling tidak, untuk dirinya sendiri, bukan Arinda atau Nita. Lelaki itu tak peduli sama sekali dengan mereka berdua.
“ARINDA! NITA! DI MANA KALIAN!”
Mendengar teriakan tersebut, Arinda dan Nita segera menghampiri.
“Ada apa, Pa?”
Nita bertanya seraya memegang tubuh Erwin yang sedikit oleng. Tapi, pria itu masih cukup sadar untuk mengatakan maksud dari keinginannya kepada sang putri.
“Cepat ganti pakaianmu!”
“Kita mau ke mana? Kondangan? Anak Pak Rw menikahnya besok, Pa.”
“Diam kau, Nita! Siapa yang mau datang ke kondangan?!"
“Lalu, mau apa?”
Erwin menoleh ke arah Arinda. “Cepat ganti pakaianmu!”
Sebuah paper bag dilempar Erwin. Arinda menangkapnya dan terkesiap begitu melihat isinya. Satu buah baju yang cukup seksi berwarna hitam.
“Apa maksudnya, Pa?” tanya Arinda bingung.
“Pakailah cepat dan ikut dengan Papa.”
__ADS_1
“Pa, ini terlalu terbuka. Aku tidak mau memakainya. Lagi pula, ini sudah malam.”
“DIAM! JANGAN MEMBANTAH!
Sebelum Arinda membalas, Nita menarik tangan Erwin menjauhi sang putri.
“Papa, ada apa denganmu? Apa kau lupa dengan janjimu kepada orang-orang yang mendatangi kita tempo hari. Kematian akan datang lebih cepat jika berani melanggar.”
“Persetan dengan mereka! Aku tidak takut! Setelah ini, aku akan minta perlindungan Aris.”
Sepertinya, pengaruh dari alkohol memengaruhi isi kepala Erwin. Pria itu benar-benar ingin mempercepat dirinya menghadap Sang Kuasa.
Erwin menghampiri Arinda dan menoyor kepala sang putri. Ia juga meludah ke samping seolah-olah jijik melihatnya. Pria itu menatap benci kepada anak semata wayangnya.
“Cepat ganti pakaianmu atau aku akan memukuli Mamamu!”
“Pa, tak bisakah kita hidup normal seperti keluarga lain. Aku akan bekerja mencari uang untukmu. Tapi, tolong jangan lagi menjualku. Aku mohon!” Arinda mulai menitikkan air mata.
“Berapa uang yang akan kau beri?! Anak lulusan SMA sepertimu paling hanya menerima gaji sedikit. Itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhanku!”
“Pa ....”
“Semua itu salahmu! Akibat kebodohanmu, kita semua kena imbas. Kau harus membayar semua itu?!”
“Apa maksudnya, Pa?”
“Apa di matamu aku tidak berharga, Pa?”
“Kau sudah tau jawabannya!”
“Kalau begitu buat aku berharga dengan tidak menjualku lagi!”
“Kau itu memang terlahir untuk menjadi wanita murahan. Jadi, tidak usah sok jual mahal. Terima saja nasibmu!”
Arinda mengepalkan tangannya. “Nasibku bukan Papa yang tentukan! Aku sendiri yang akan menentukannya.”
“DIAM!”
“KAU YANG DIAM! BEDEBAH! BRENGSEK! TAK TAHU MALU!”
“KAU!”
“APA?! MAU MENAMPARKU LAGI! TAMPAR SAJA DAN SETELAHNYA KAU TAK AKAN MENDAPATKAN UANG SEPESER PUN. KARENA, MALAM INI WAJAHKU TAK AKAN CANTIK AKIBAT ADA BEKAS DARI TAMPARANMU!”
Kata-kata dari sang putri sukses membuat Erwin terpengaruh. Ia menurunkan tangan yang telah terangkat tinggi.
“Arinda, Mama akan membantumu memakaikannya.”
__ADS_1
“KAU JUGA! AKU MUAK DENGAN SIKAPMU YANG LEMAH. KAU MENURUNKAN HARGA DIRIMU SEBAGAI WANITA DEMI MEMBELA SI BRENGSEK INI!”
Betapa terkejutnya Nita mendapati sang putri meneriakkannya dengan kata-kata tersebut. Wajahnya seketika pias.
“Arinda ....”
Seketika Arinda menyadari apa yang barusan ia ucapkan. Iblis di rumah ini sudah sukses membuatnya meluapkan amarah yang selama ini tertahan. Bahkan, kepada sang mama.
“A-aku minta maaf. Aku kesal, Ma.”
Arinda menyesali ucapan kasarnya kepada Mamanya. Gadis itu menunduk. Air mata pun mulai mengalir.
Bagaimanapun buruknya sang mama. Wanita itu tetaplah yang sudah melahirkannya. Sekaligus, bekerja banting tulang sendirian untuk menghidupi dan menyekolahkannya hingga lulus.
Nita menarik tangan sang putri menuju kamarnya, sebelum Erwin benar-benar murka.
Arinda menatap mata sang mama. Gadis itu sangat menyayanginya. Kemudian, ia memeluk Nita. Menangis di bahu wanita yang telah bertaruh nyawa saat menghadirkannya ke dunia.
“Ma ....”
Nita mengusap bahu sang putri. “Menurutlah, Nak.”
Arinda melepas pelukannya dan melihat Nita tengah menatapnya dengan tatapan memohon.
“Ma, aku tidak tau harus bersikap bagaimana denganmu. Aku akan memakai pakaian ini, tetapi dengan satu syarat.”
“Arinda, jangan seperti ini. Tidak ada syarat-syarat apa pun. Kamu tinggal memakainya saja.”
“Ma, baju ini sangat minim. Aku seperti wanita malam.”
“Arinda ....”
“Ma, cukup. Aku lelah hidup seperti ini. Aku akan memakainya. Tapi, katakan jika aku bukanlah putrimu.”
Nita terdiam sesaat. Kemudian, ia berucap, “Ya, kamu bukan putri Mama.”
Sudah ia duga, sang mama akan dengan mudah mengatakan hal tersebut. Hanya demi menuruti nafsu setan suaminya tercinta.
“Baiklah! Aku akan memakainya. Riaslah wajahku dengan cantik malam ini, Ma. Biarkan ini jadi hari terakhir kebersamaan kita sebagai ibu dan anak.”
Nita bergeming, hatinya kini hancur mendengar perkataan sang putri. Wanita paruh baya itu mencoba menahan tangisnya agar tidak keluar.
Nita mulai memakaikan Arinda pakaian tersebut. Kemudian, merias wajah cantik gadis kecilnya dengan make-up tebal.
Arinda pun hanya diam saat sang mama memoles wajahnya. Ia tak peduli akan seperti apa riasan tersebut. Menyelesaikan semua dengan cepat adalah keinginannya saat ini.
Ma, aku mencintaimu lebih dari apa pun. Anggaplah ini sebagai salah satu bentuk pengabdianku kepadamu. Selamat tinggal, Mama Nita! batin Arinda seraya menahan laju air mata.
__ADS_1