
HAPPY READING 🤗💞
.
.
.
Sepuluh tahun kemudian
Irama detak jantung semakin cepat. Napas pun rasa tersekat. Bibir merah muda yang telah dipoles menjadi berona itu terus komat-kamit merapalkan doa. Menunggu namanya disebutkan rasanya tak keruan.
Benda pipih dalam tas pun terus saja bergetar. Ingin di non-aktifkan, tetapi takut Mbak Dini yang sudah menganggapnya seperti adik, sekaligus Brand Manager di kantor itu kesal. Secara, wanita yang tengah hamil anak kedua itu jika marah auranya menyeramkan. Jadi, terpaksa di silent saja.
“Heran sama Mbak Dini, udah tau adiknya yang cantik ini lagi sidang skripsi. Pengertian dikit kenapa, sih! Ini malah dari tadi telepon terus. Perasaan kerjaan gue udah beres kemarin.”
Arinda benar-benar mengabaikan panggilan-panggilan tersebut. Tapi, lama-lama dirinya merasa terganggu. Karena sudah cukup kesal, gadis itu mematikan ponsel. Pikirnya, biarlah Mbak Dini marah, nanti tinggal minta maaf. Dari pada konsentrasinya buyar.
Gadis itu melanjutkan kembali membaca, biar semakin mantap saja.
“Arinda Nabila!”
Akhirnya, setelah dua jam menunggu namanya dipanggil juga. Gadis itu lekas memasuki ruang sidang. Melihat banyaknya dosen di depan, membuatnya gugup. Udara pun terasa panas, padahal ruangan itu ber-AC.
Arinda memberikan salam dan senyum manis miliknya. Tapi, tetap saja itu semua masih membuat ritme jantungnya berdegup semakin cepat. Satu orang dosen paling killer di kampus yang juga merupakan dosen pembimbingnya, mengerlingkan mata ke arahnya.
Ya, ampun! Itu dosen gak bisa liat-liat suasana banget. Ini 'kan ruang sidang, sempat-sempatnya genit gitu. Arinda membatin.
Sidang skripsi pun di mulai ....
❄️❄️❄️
Semua orang penting dalam jajaran di divisi marketing dipanggil. Seorang Marketing Director baru yang juga merupakan calon pewaris itu, mulai melakukan sesi tanya jawab.
Suasana spontan langsung menegangkan. Mereka tak memungkiri kalau pancaran aura sang pemimpin baru sangat menakutkan.
Usai dengan sesi tersebut, kelegaan kentara terlihat dari wajah mereka. Satu per satu mulai meninggalkan ruangan. Namun, tinggal menunggu satu orang lagi yakni Arinda sebagai Supervisor Visual Merchandiser.
Pasalnya, pria itu datang tiba-tiba dan membuat suasana seketika menjadi awkward! Ia meminta berkeliling mall milik keluarganya di Jakarta bersama Supervisor VM.
Sang calon pewaris mengatakan kalau ingin mendengar langsung penjelasan dari VM-nya. Jika menurutnya bagus dan masuk akal, perusahaan akan memperpanjang kontrak. Tapi, jika sebaliknya, surat pemecatan akan segera terbit.
__ADS_1
Karena menurutnya, tugas VM termasuk dalam kategori salah satu yang cukup penting dalam mendongkrak penjualan. Dari tangan dinginnya juga customer tertarik untuk membeli. Walaupun pelayanan terhadap pelanggan tetap harus nomor satu.
Dini sudah berkali-kali menelepon gadis itu agar cepat kembali ke kantor. Tapi, tak juga di angkatnya. Wanita yang sedang hamil empat bulan tersebut menjadi panik sendiri.
Aura yang memancar dari pria itu semakin dingin menusuk sampai ke ulu. Wajahnya nyaris terlihat tanpa senyum. Semua orang termasuk Dini tentu saja menjadi takut. Sekarang, laki-laki itu tepat berdiri di dekat jendela kaca dan sesekali menatap keluar.
Suara mendeham membuat Dini menoleh. Pria itu tengah menatapnya dengan tajam.
“Apakah orang sepertiku pantas menunggu selama ini?”
Pertanyaan bernada sindirian dilayangkan untuk Dini. Karena, hanya tinggal dirinya dan sang bos yang berada di ruangan.
“Maaf, Pak. Supervisor VM kami sedang sidang skripsi di kampusnya.”
“Kau bilang selesai jam sepuluh. Sekarang lihat, sudah hampir jam makan siang, tetapi belum juga muncul.”
“Maaf, Pak. Apakah Anda ingin saya pesankan makan siang?”
“Tidak.”
Dari tadi nada bicaranya memang rendah. Mungkin, karena tahu lawan bicaranya tengah hamil. Tapi, tetap saja kata-kata itu sangat menusuk dan penuh penekanan.
“Maaf, Pak. Saya sudah menghubungi berkali-kali, tetapi tak dijawab. Sekarang justru ponselnya mati.”
“Maaf, Pak. Kami akan berusaha memperbaiki kinerja kami yang buruk.”
“Harus. Jika tidak, perusahaan akan menggantikan kalian semua dengan orang baru yang lebih cekatan dan disiplin. Apakah menurutmu aku perlu memecat Supervisor VM itu?”
Dini diam membisu. Ia juga tak mau menyalahkan Arinda. Karena, gadis itu memang sedang sibuk dengan sidangnya. Hanya, memang waktu saja yang datang sangat tidak tepat.
Seharusnya, jika sesuai jadwal, kedatangan sang bos masih Minggu depan. Entah, kenapa pria itu mempercepatnya?
❄️❄️❄️
“Mati gue! Udah hampir jam dua belas. Ini gara-gara Pak Alfian killer, pake acara nyuruh beberes berkas di ruangan dosen. Alhasil, jadi telat hampir dua jam. Padahal ‘kan, tu orang punya asdos. Masih juga gue yang kerepotan. Kalo naksir jangan nyiksa dong! Ini, sih, alamat bukan kena semprot lagi dari Mbak Dini. Udah pasti potong cuti.”
Sepanjang perjalanan menaiki motor matic miliknya itu, Arinda terus menggerutu sendiri. Sesekali memaki sang dosen yang memang secara terang-terangan sudah menyatakan cinta. Tapi, gadis itu menolak secara halus dengan alasan mau fokus kuliah dan bekerja.
Oleh karena itu, Alfian sengaja mau berlama-lama dengan Arinda sebelum resmi mendapat gelar sarjana. Alasan tersebut ternyata cukup ampuh untuk membuat gadis itu mengiakan permintaan aneh tersebut.
Sebenarnya, gadis itu menurut karena takut hasil sidang skripsinya tidak di luluskan. Terdengar tidak masuk akal memang, tetapi namanya juga mahasiswi akhir, rasa takut pasti ada.
__ADS_1
Satu jam perjalanan, akhirnya sampai di gedung pencakar langit tempatnya bekerja. Arinda berlari menuju lift, begitu terbuka langsung memencet tombol tujuannya.
Pintu lift berdenting kemudian terbuka. Gadis itu berlari kembali agar cepat sampai ke ruangan Dini. Karena takut, Arinda membuka secara kasar pintu ruangan.
“Mbak Dini!”
Gadis itu langsung memeluk Dini dan berulang kali mengucap kata maaf.
“Arinda! Astaga!”
“Maaf, Mbak. Aku tadi sidang selesai tepat waktu kok. Tapi, si dosen genit menyuruhku membantunya beberes berkas. Jadi, aku telat.” Arinda mengucapkan kata-kata tersebut bagai kereta ekspres, sangat cepat.
Dini ingin menyela omongan pun menjadi kesulitan. Ia mau memberitahu jika ada sang bos di ruangan dan tengah memerhatikan dengan tatapan tajam.
“Arinda ... sudah bicaranya?”
“Iya, Mbak.” Arinda cengar-cengir dan memeluk kembali Dini sebentar kemudian melepasnya.
Dini membalikkan tubuh Arinda agar menghadap sang bos.
“Pak, perkenalkan ini Supervisor Visual Merchandiser kita, Arinda Nabila.” Kemudian, Dini memperkenalkan gadis itu. “Arinda, beliau anak dari Pak Rahardian, namanya Bapak Ricko Bagaskara Narendra. Dan, mulai sekarang menjadi Marketing Director di divisi kita.”
Antara terkejut dan senang. Ucapan Dini pun seolah tidak terdengar jelas di telinga Arinda. Karena, gadis itu terlalu fokus menatap sang calon suami idaman. Ia mengulum senyum. Kemudian, secara sengaja matanya berkedip-kedip ke arah Ricko.
Kali ini, perilaku Arinda terlihat menjijikkan di mata Ricko. Cinta terkadang memang bisa membuat orang terlihat memalukan.
Berbeda dari Arinda, Ricko justru menatap dengan wajah datar. Rasa tak percaya jika sosok gadis yang tengah ditunggunya ternyata adalah masa lalunya sendiri.
Ya, Tuhan! Kenapa kita harus bertemu kembali? Lalu, aku harus apa sekarang? Memecatmu dengan tidak hormat karena terlambat atau bagaimana? Ricko membatin.
Ricko dan Arinda saling pandang tanpa ada satu pun yang bersuara. Dini yang berada di tengah-tengah mereka malah menunjukkan wajah bingung.
Mamacih sudah mampir, Kakak 🤗💞
Saranghaeyo 💞😘
Jangan lupa vote-nya 🤗💞
__ADS_1
Jangan lupa juga klik tombol like-nya, ya, Kakak 🤗💞