ARINDA

ARINDA
Diam


__ADS_3

Satu Minggu tanpa bicara. Mata celung dengan tatapan kosong. Makan pun sekadarnya. Setiap hari berdiri di depan jendela kamar menatap langit.


Membisu. Arinda enggan berbicara. Ia teramat lelah sehingga memilih mengabaikan semua orang. Menolak siapa pun yang datang. Sendirian, hanya itu yang diinginkannya agar bisa menenangkan pikiran.


“Bu Dini, boleh saya melihat Arinda?” tanya Ricko. Ia mulai khawatir dengan kondisi sang pujaan.


Seperti biasa, Ricko datang bersama Dito dan Zacky. Setiap hari tak pernah absen untuk menjenguk Arinda. Meskipun penolakan demi penolakan selalu terjadi.


“Baiklah. Seperti biasa, jika Arinda menggeleng. Keluarlah atau dia akan menyakiti dirinya sendiri.”


“Ya.”


Di hari pertama, ketiga sahabat itu sempat memaksa. Namun, berakhir dengan Arinda yang mengambil pisau buah di atas nakas. Ia menodongkan benda tajam tersebut ke arah lehernya sendiri. Kemudian, dengan ekor mata dan tatapan tajam menyuruh semua orang keluar.


Sejak saat itu, tak ada yang berani masuk ke dalam kamar jika Arinda sudah menggeleng. Pasalnya, pisau buah itu selalu berada di tangan. Mereka memilih mengalah daripada gadis itu merealisasikan ancaman tanpa suara tersebut.


“Zack, gue sendiri aja ke dalam. Lu gak papa, ‘kan?” Ricko bertanya karena merasa tak enak jika melangkahi calon kakak iparnya.


Zacky menepuk pundak Ricko. “Nope! Gue percaya sama lu. Buat Arinda kembali ceria, Rick.”


Ricko mengangguk kemudian melangkah ke kamar di mana Arinda berada. Membuka pintu dengan perlahan. Seperti biasa, gadis itu memandang keluar jendela yang saat ini seperti sudah menjadi rutinitas.


Ricko berdeham. Memberi kode jika ia ada.


Arinda bergeming. Tatapannya tak teralihkan sama sekali.

__ADS_1


Merasa Arinda mengizinkan karena tak menggeleng. Ricko melangkah masuk. Mendekatinya dengan ayunan kaki perlahan-lahan.


Ricko mengembuskan napas lega ketika sudah berada pada jarak satu jengkal kaki saja. Ia tersenyum. Itu artinya, Arinda memperbolehkan.


Pandangan Ricko berfokus pada tangan Arinda dengan sebilah pisau. Memikirkan bagaimana caranya mengenyahkan benda tajam tersebut.


“Langit di luar indah, seperti senyum kamu.”


Pembuka percakapan yang terdengar seperti gombalan receh. Ricko memang tidak tahu harus membuka obrolan seperti apa agar tidak diusir oleh Arinda. Kata-kata tadi spontan keluar karena tujuh hari terakhir netra sendu itu selalu menatap ke arah langit.


Arinda diam tak menggeleng.


Ricko menganggap itu sebagai persetujuan berikutnya. Ia mulai meraih tangan Arinda yang menggenggam erat pisau buah. Perlahan melepaskan benda tajam tersebut.


Rasa lega tercetak jelas di wajah Ricko saat pisau tersebut berhasil dilepas. Dengan cepat ia melemparnya keluar jendela dan memeluk Arinda.


Ricko mengusap punggung Arinda. Memeluknya semakin erat. Pria itu melepaskan segala kerinduan kepada sang pujaan.


“Aku merindukanmu. Kembalilah menjadi Arinda. Jangan diam seperti ini.”


Arinda masih bergeming.


“Bicaralah.” Ricko melepas pelukannya dan menatap lekat netra yang tak berpaling sedikit pun dari langit.


Ricko membelai pucuk kepala Arinda. Mengusap lembut pipinya.

__ADS_1


“Mau piza?”


Tak ada respons.


“Aku ingin menciummu? Bolehkah?”


Masih tak merespons.


Ricko nekat mendekatkan kepalanya dan menempelkan bibir mereka. Kali ini, ia berharap Arinda marah kemudian memukulnya. Namun, gadis itu diam.


Ricko melepaskan bibirnya. “Rin, kamu tidak sendirian. Ada aku yang akan selalu mencintaimu. Kamu juga masih memiliki Zacky, Dito, Ibu Dini. Kami menyayangimu.”


Hening!


“Apa yang kamu ingin, Rin? Aku akan mengabulkannya.” Ricko meraih kedua tangan Arinda. “Pernikahan? Aku akan mengabulkannya. Mau kapan? Bulan depan, Minggu depan, atau besok. Ayo, kita menikah!”


Akan tetapi, bukan jawaban yang di dapat melainkan sebuah tamparan. Arinda menatap tajam Ricko dan menyuruhnya keluar lewat ekor matanya.


Ricko tersenyum atas tamparan tersebut. Setidaknya, gadisnya mulai memberi respons walaupun pipinya menjadi korban.


“Iya. Aku akan keluar. Besok, besok, dan besok. Aku akan datang kembali. Berilah lebih keras lagi tamparan atau pukulan. Tapi, jangan menggunakan tanganmu, nanti sakit. Gunakan benda apa pun. Oke.”


Ricko meninggalkan Arinda. Tapi, sebelum benar-benar pergi menengok sebentar.


Setelah memastikan Ricko pergi. Arinda bergegas menutup pintu. Ia meluruh ke lantai dengan bersandar pada daun pintu. Bibir dan badannya bergetar. Bulir bening mengalir.

__ADS_1


“Aku lelah, Rick.”


__ADS_2