
Satu Minggu kemudian
Hari pertama Ujian Akhir Sekolah baru saja di mulai. Ujian akan berlangsung selama empat hari. Semua siswa terlihat serius. Mereka berusaha fokus pada lembar soal di atas meja masing-masing.
Setelah beberapa jam berlalu. Akhirnya, dua mata pelajaran yang di ujikan selesai. Bel sekolah berbunyi, seluruh siswa berhamburan keluar kelas.
“Rin!”
“Iya, Der. Kenapa?” Arinda menoleh seraya tetap merapikan alat tulis. Memasukkan semua ke dalam tas.
Suasana di dalam kelas berangsur sepi. Hanya tinggal mereka berdua saja yang belum meninggalkan ruangan.
“Lu pulang sama Ricko?”
“Enggak."
“Kalau begitu, boleh gue antar pulang?”
“Makasih, Der. Gue mau balik sendiri. Udah mesen ojek online.”
“Rin ....”
“Apa?”
Arinda mengernyit. Merasa aneh dengan kelakuan Derry, sang ketua kelas. Wajahnya terlihat gugup.
“Gue ... gue ....”
“Lu mau ngomong apa, Der? Sebentar lagi ojek gue sampe.”
Mata Derry berkeliling. Memastikan kalau sudah tidak ada orang lagi di Kelas.
“Gue suka sama lu," ucap Derry cepat.
Arinda tidak kaget sama sekali dengan pernyataan tersebut. Sudah biasa.
“Sejak kapan?”
“Sejak pertama kali kita MOS. Sampe saat ini.” Derry berterus terang seraya menatap Arinda dengan intens.
“Der, lu tau sendiri kalo gue ini punya citra yang buruk. Lu gak takut menyesal udah naksir sama gue.”
“Enggak! Lagi pula gue gak liat itu sebagai suatu keburukan. Perempuan secantik elu, memang berhak mendapatkan semua.”
Arinda tersenyum. “Semua? Maksudnya?”
“Cinta, kasih sayang, perhatian, juga uang.”
Arinda bergeming, memandang lekat Derry. Kemudian, melangkah maju. Mendekati teman satu kelasnya yang manis ketika tersenyum dengan lesung pipit menghiasi. Kacamata pun selalu bertengger di hidung.
“Makasih, Der.”
Derry menunduk. “Maaf, kalau gue gak tahu diri. Gue udah gak bisa memendam perasaan ini lagi.”
“Terus ... apa sekarang udah plong?”
“Iya, gue tinggal deg-degan nunggu jawaban lu. Gue diterima atau ditolak?”
__ADS_1
Arinda mengangkat dagu Derry. “Semua orang berhak untuk suka dengan siapa pun, termasuk elu. Tapi, kita lebih cocok jadi teman.” Ia tersenyum manis. “Ya, udah. Gue balik duluan.”
“Rin!”
Apalagi?
“Jadi, gue ditolak?”
Menurut lu?
Arinda menghela napas lelah. “Sorry! Gue juga udah punya Ricko. Sepertinya lu lupa.”
Sebenarnya, Derry bukan lupa jika Arinda sudah memiliki seorang kekasih. Hanya saja, setiap hari melihat gadis yang ia suka tanpa berani mengatakan tentang perasaannya tersebut, membuat tersiksa. Oleh sebab itu, hari ini memberanikan diri untuk mengutarakan.
Derry terdiam beberapa saat dengan pemikirannya sendiri.
Tak apa ditolak, yang penting perasaan tersebut sudah tidak akan menyiksa lagi. Ricko memang pria yang tepat untuk lu, Rin, batin Derry.
“Kita masih bisa jadi teman, 'kan?”
“Iya dong! Kita akan selalu jadi teman. Bye, Derry.” Arinda melambaikan tangan dan bergegas keluar dari kelas.
“Hati-hati di jalan, Rin!” teriak Derry dan Arinda hanya mengacungkan jempol saja.
Kenapa setiap hari ada aja yang nembak gue? Pada punya nyali berapa, sih! Enggak takut sama Ricko, ya. Kalau pacar gue yang posesif itu tahu perihal ini. Duh, gak terbayang marahnya bakalan kayak apa! Pada senang cari masalah! Arinda membatin.
🌺🌺🌺
“Sayang!”
Ricko menatap kepergian kekasihnya dengan sendu.
“Baru sehari aja udah galau.” Zacky menyenggol bahu Ricko.
Ricko diam tak membalas perkataan Zacky. Pria itu sedang terserang mala rindu. Sehari buatnya seperti setahun, lama sekali.
“Cewek kenapa banyak aturan, ya. Ini kan cuma UAS. Kenapa harus gue yang disiksa.”
“Kacian banget yang puasa selama empat hari,” goda Dito seraya tertawa.
Ricko berdecak, “Resek lu, Dit! Gue gak bisa jauh dari Arinda sehari aja. Teleponan juga gak boleh. Benar-benar cobaan.”
“Apanya yang cobaan? Dasar bucin! Pacar mau pinter tu didukung!” Zacky berseru.
“Tapi, gue salut sama cewek lu. Doi giat belajar kan karena ngejar beasiswa dari Universitas Negeri. Padahal, punya pacar super kaya. Kalo gue jadi Arinda, gak usah, deh, capek-capek belajar. Tinggal minta aja buat bayar kuliah. Masa gak dikasih. Ya, 'kan?” ucap Dito seraya bertanya untuk membenarkan perkataannya kepada Ricko.
“Apa yang enggak buat Arinda. Semua pasti gue kasih. Tapi, jangan nyiksa begini. Gue gak ganggu kok. Cuma mau antar jemput doang.”
“Dasar cowok gak peka! Buat Arinda di antar jemput elu itu ganggu! Lu pasti banyak merengeknya. Entah, makan dulu atau ngayab ke Mal,” sewot Dito.
“Udah-udah. Lagian kayak orang mau mati aja lu. Cuma empat hari. Bagaimana kalo putus?” Heran Zacky. Belum pernah gue lihat lu kayak gini, Sob. Semoga Arinda juga sama seriusnya seperti lu.
“Ya, bunuh diri.” Dito berkata enteng.
“Sialan! Gue masih waras buat bunuh diri. Lagi pula, gue gak bakal putus sama Arinda!”
“Iya-iya. Serah, lu!” Dito mengalah.
__ADS_1
“Kuy, cabut!” ajak Zacky
“Rumah lu, Rick. Main biliar.” Dito menambahkan.
“Oke.”
🌺🌺🌺
Hari Kamis adalah hari yang paling di nanti Ricko. Senyum sumringah di berikan pria itu kepada semua orang yang menyapa di Sekolah. Bahkan, ia terlihat beberapa kali melakukannya lebih dulu ketika berpapasan.
Semua siswa memandang heran sikap Ricko. Pasalnya, sikap tersebut sangat tak biasa. Pria itu terkenal dengan wajah dingin. Jadi, beramah-tamah dengan orang lain cukup membuat aneh orang sekitar.
“Rick, lu kesambet apaan? Masih pagi udah senyum-senyum gak jelas. Semua orang segala disapa. Biasanya tu muka dingin banget kayak salju di Antartika.”
“Siksaan hari terakhir, Dit. Istirahat nanti gue traktir lu berdua makan. Bebas mau pesan apa pun di Kantin. Anggap aja merayakan kebebasan gue.”
Dito dan Zacky berpikir sesaat dengan ucapan sahabatnya. Setelah menemukan apa maksud kebebasan itu, mereka geleng-geleng kepala.
Cinta memang tak ada logika, ucap mereka berdua dalam hati.
“Pantes pagi-pagi muka lu cerah kayak warna baju Bu Vero,” ucap Dito. Ia menunjuk lewat ekor matanya. Tepat ke arah Guru Bahasa Indonesia dengan pakaian berwarna pink cerah.
“Selamat pagi, Ibu Vero.” sapa Dito ramah.
“Selamat pagi, Ibu Vero.” Ricko dan Zacky ikut menyapa.
“Selamat pagi juga anak-anak. Hari terakhir ini, masih semangat, 'kan?”
“Masih, Bu!” seru mereka berbarengan.
"Bagus." Bu Vero tersenyum dan menepuk bahu mereka satu per satu. Kemudian, berlalu pergi.
“Cabut kelas!” seru Zacky melangkah. Ricko dan Dito mengekor.
🌺🌺🌺
Beberapa hari mengamati Arinda. Tak ada satu pun hal aneh yang di dapat trio tante menor. Mereka sudah hampir menyerah. Sampai suatu hari, Siska memiliki ide untuk mengintai rumah keluarga musuhnya.
Siska menugaskan Lusi untuk mencari tahu perihal rencana tersebut lewat tetangga mereka. Beberapa hari bertanya ke sana-sini. Terkumpul informasi bahwa ayah dari rivalnya adalah seorang pemabuk dan pejudi.
Senyum puas terpatri di wajah Lusi. Siapa menyangka ternyata Arinda memiliki ayah yang berperangai buruk.
Sementara, Jessica bertugas untuk mengintai Ibu Arinda. Di dapat info dari orang sekitar toko bahwa ia adalah tulang punggung keluarga.
Dering telepon terdengar, terpampang nama Jessica di layar ponsel. Dengan bersemangat, Siska mengangkat telepon tersebut.
“Halo!”
“Kita ketemu di rumah Lusi. Sekarang!”
“Oke!”
Satu jam kemudian, ketiga sahabat karib itu telah berkumpul. Pembicaraan serius mulai dibahas.
Senyum puas tercetak jelas di wajah Siska. “Kita eksekusi besok!”
“Oke!”
__ADS_1