
Enaknya episode ini di baca sambil dengerin lagu Astrid-Terpukau
Syok!
Arinda terkejut sekaligus kecewa oleh pernyataan Roni. Ia mengetahuinya dari dunia maya. Berita online banyak memberitakan kabar rencana pernikahan sang pewaris. Pupus sudah harapannya untuk bersanding dengan Ricko di atas pelaminan.
“Rin.” Zacky mendudukkan diri di samping sang adik. Matanya tertuju pada tangan Arinda dengan ponsel yang masih memutar video tersebut.
Zacky mengambil benda pipih itu, mematikannya, dan memeluk Arinda.
Arinda melepas pelukan tersebut kemudian tersenyum. “Gue baik-baik aja, Zack.”
“Enggak usah pura-pura kuat. Sekarang ada gue yang bisa menjadi sandaran hidup lu. Mau nangis, ya, nangis aja. Bahu dan punggung ini akan selalu ada buat lu.”
Arinda menatap Zacky penuh haru. “So sweet banget, sih. Ternyata begini rasanya punya saudara yang menyayangi kita. Gue happy menjadi adik lu, Zack.”
Zacky mengacak rambut Arinda. “Harus dong. Lu kudu happy. Tapi, serius lu gak mau nangis?”
“Zacky, lu aneh banget. Harusnya bersyukur gue tu gak nangis.”
“Gue kan hanya mau tahu rasanya punya adik terus nangis di bahu abangnya.”
“Ya, ampun, Zack. Lu sebegitunya.”
“Namanya juga Abang baru, lagi euforia mendapat peran menjaga adiknya tersayang.”
Arinda tertawa. “Dasar dokter lebay.”
“Biarin. Yang penting gue punya adik.”
Mereka berdua tertawa.
Kesendirian yang membuat Arinda kerap menangis. Buktinya saat ini sudah memiliki seorang kakak. Ia bisa menahan laju air matanya.
Memang dadanya terasa sesak. Tapi, ia bisa apa. Mau memprotes Roni tak mungkin. Mau melawan takdir apa lagi. Jadi, ya, pasrah saja.
🌺🌺🌺
Jam tiga dini hari. Bel berkali-kali berbunyi. Suara gedoran pintu tiada henti terdengar. Bahkan, jendela kamar turut menjadi sasaran ketukan bersuara keras tersebut.
Sambil menggerutu, Zacky mengintip kemudian membuka pintu utama. Si tersangka adalah kedua sahabat kentalnya.
Tanpa permisi, Dito dan Ricko masuk ke dalam.
__ADS_1
Zacky masih terpana menatap kedua sahabatnya. Mereka berdua sangat kusut baik dari segi pakaian ataupun wajah.
“Urus si Ricko, deh. Gue gak sanggup menghadapi orang frustrasi sendirian. Bisa-bisa gue ikutan sinting.”
“Zack! Siapa yang menggedor pin ... Ricko!”
Begitu melihat Arinda, Ricko langsung berlari dan menubrukkan tubuhnya ke pelukan sang pujaan. Tangis pria itu pecah.
Arinda yang belum siap menopang beban berat tubuh Ricko hampir saja jatuh. Namun, sepertinya pria itu tahu dan langsung memeluk sang pujaan semakin erat.
Dito dan Zacky kaget melihat Ricko menangis. Pasalnya, seingat mereka bersahabat. Sohibnya itu belum pernah terlihat mengeluarkan air mata.
Akan tetapi, sekarang bukan hanya air mata. Suara tangisannya pun terdengar pilu.
Dito menghampiri Zacky. Kemudian, berdiri di sebelahnya seraya menyenggol lengan dokter muda itu. “Cuy, Ricko nangis.”
“Ho, oh.”
Ricko meluapkan seluruh emosinya yang sempat tertahan lewat air mata. Ia sudah tidak sanggup lagi menopang beban. Cintanya terhadap Arinda terlalu dalam. Tak sanggup rasanya pria itu membayangkan akan kehilangan. Bahkan, kenyataan di depan mata yang tersaji bahwa mereka tak bisa bersama, itu sangat menyakiti hati.
Arinda mengelus punggung Ricko. Nyaris ikut menangis, tetapi ia tahan. Dengan bibir bergetar, gadis itu berucap, “Keluarkan semua. Aku ada untukmu, Rick.”
“Aku cinta kamu, Rin,” ucap Ricko masih berlinang air mata.
“Kita duduk, ya.”
Arinda baru saja mendudukkan diri, tetapi Ricko langsung menaruh kepalanya di atas pangkuan. Tangis masih belum berhenti, bahkan semakin terdengar menyayat hati. Punggung yang biasanya terlihat tegap, sekarang bergetar hebat.
Arinda membelai rambut Ricko. Menatap lurus ke depan. Matanya mulai berkaca-kaca. Akan tetapi, ia tetap bertahan untuk tak ikut larut dalam tangisan.
Biasanya aku yang menangis. Sampai akhirnya, terbiasa hidup berdampingan dengan air mata. Tuhan, aku mohon. Hentikanlah tangis pria ini. Aku tak tega melihatnya. Kesedihan bukanlah temannya. Biarkan gadis ini saja yang bersedih. Arinda membatin pilu.
🌺🌺🌺
Aku memang belum beruntung
Untuk menjatuhkan hatimu
Aku masih belum beruntung
Namun, tinggi harapanku ‘tuk hidup berdua denganmu
Aku sempurna denganmu
‘Ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan, jadikanlah dia jodohku
__ADS_1
Hanya dia yang membuat aku terpukau
Aku sungguh sangat bermimpi
Untuk mendampingi hatimu
Aku masih terus bermimpi
Sangat besar harapanku ‘tuk hidup berdua denganmu
Aku sempurna denganmu
‘Ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan, jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat aku terpukau
Oh ....
Denganmu aku sempurna
Denganmu ‘ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan, jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat-
Denganmu aku sempurna
Denganmu ‘ku ingin habiskan sisa umurku
Tuhan, jadikanlah dia jodohku
Hanya dia yang membuat-
Hanya dia yang membuat aku terpukau
Oh ....
Sumber: Musixmatch
Judul: Terpukau
Penulis lagu: Ade Nurulianto
Penyanyi: Astrid
__ADS_1