
HAPPY READING 🤗💞
.
.
.
Arinda POV
Haruskah aku bersedih? Sedih untuk kesekian kali.
Tak patutkah aku mendapat cinta? Cinta dari orang yang kucinta.
Aku begitu menjaga sucinya cinta. Namun, kenapa harus mendapat pahit dari cinta tersebut?
Apakah wanita sepertiku tak pantas untuk tersenyum bahagia?
Dewi cinta ... di mana keadilan untukku?!
Dan kau Dewa cinta ... apakah tak bisa merasakan betapa pedihnya hatiku?!
Mengapa kalian harus memilihku untuk terus-menerus merasakan sakitnya penolakan? Lalu, kapan aku mendapat kebahagiaan?!
Aku tak ingin cinta dari yang lainnya. Aku hanya mau dia ... Ricko ....
Arinda sedih, kesal, dan protes akan masa depan cintanya. Jangankan kemajuan, bahkan sekarang terasa tak ada lagi harapan.
Membaringkan tubuh di atas kasur. Arinda menatap kalung dan cincin pemberian Ricko. Benda berkilauan tersebut begitu berarti. Setidaknya, untuk dirinya sendiri.
Arinda mulai berpikir, harus melakukan apalagi untuk bisa menggaet hati Ricko? Orang yang ia pilih untuk menjadi pasangan hidupnya kelak?
Sepuluh menit ....
Dua puluh menit ....
Tiga puluh menit ....
Suara pintu terbuka dengan kasar. Terdengar cukup memekakkan telinga! Namun, Arinda terlihat biasa saja.
Pelakunya, siapa lagi kalau bukan Mbak Dini. Karena, hanya wanita hamil tersebut yang memiliki kunci cadangan apartemen mungil milik Arinda.
“ARINDA!”
Mbak Dini sudah masuk ke dalam kamar Arinda dan berdiri tepat di samping kasur dengan bertolak pinggang. Jangan lupakan juga wajah garangnya dengan tatapan mata menusuk sampai ke usus dua belas jari.
Arinda menatap wanita yang sudah berdiri menjulang di depannya. Kemudian, gadis itu bangun dan duduk di tepian kasur dengan memasang wajah tak berdosa.
“Eh, Mbak Dini. Duduk sini, Mbak!” Arinda menepuk kasurnya.
Tersenyum! Satu-satunya cara meredam amarah ibu hamil itu agar tidak semakin meletup.
“Enggak usah senyum-senyum!”
Ternyata, tersenyum tidak berhasil meluluhkan. Sepertinya, saat ini lebih baik pasrah.
“Mbak Dini ....”
“Kenapa kabur? Mbak tunggu kamu di ruangan tidak juga datang. Di telepon tidak diangkat. Kamu sudah tidak lagi menganggap Mbakmu ini, begitu?!”
“Mbak ....”
“Ada hubungan apa kamu sama Pak Ricko?”
“Rekan kerja.”
“Tidak ada rekan kerja saling memanggil sayang! Anak ini ....”
Dini menjewer pelan kuping Arinda.
“Iya, Mbak ... iya, ampun!”
“Katakan!”
“Mantan pacar.”
“APA!”
Astaga, Mbak Dini! Lagi hamil kenapa semakin bar-bar, sih?! batin Arinda.
“Mbak, kalem. Kasian dedek bayinya nanti kaget di dalam perut.”
__ADS_1
“Ini justru Mbak lagi ngidam buat ngomelin kamu! Permintaan dedek bayi.”
Arinda terbengang kemudian membatin. Ngidamnya bikin susah aku banget, sih, Mbak. Tapi, masa ada orang ngidam maunya ngomelin orang aja, ya. Apes banget yang jadi samsaknya, kayak gue sekarang ini. Jadi, objek omelan.
Arinda menghela napas lelah. “Iya, Mbakku. Demi jabang bayi kesayangan aunty Arinda. Ya, udah. Aku rela kena omel.”
Dini duduk di samping Arinda. Masih dengan tatapan tajam.
“Kenapa cerita tentang Pak Ricko bisa terlewat? Kamu tidak pernah memberitau?”
“Aku takut Mbak Dini sedih terus menangis mendengarnya.”
“Anak ini, lebay sekali.” Dini kembali menjewer kuping Arinda.
“Mbak, kupingku bisa putus kalau begini,” ucap Arinda berlebihan.
“Kalian kembali bersama?”
“Maunya aku, tetapi sayang Ricko-nya enggak.” Miris banget hidup gue. Biasa nolak cowok. Eh, sekarang ditolak. Apa gue kena karma, ya?
“Tapi ....”
“Ucapan yang gak di sengaja, Mbak. Keceplosan. Kita udah gak ada hubungan apa-apa. Sumpah!” Arinda mengangkat dua jarinya ke atas.
Dini membisu. Di benaknya terasa janggal.
“Kamu mengejarnya?”
“Iya, tetapi ditolak terus.”
“Arinda, kamu cantik, pintar, dan banyak pria mau denganmu. Kenapa tidak cari lelaki lain?”
Masih sreg sama Ricko, Mbak. Cintaku mentok sama doi doang, batin Arinda.
“Tidak berminat, Mbak.”
“Kenapa? Belajarlah membuka hati untuk pria lain, Arinda.”
Aku gak mau, Mbak. Kalau aku tidak bisa bersama Ricko. Biarlah, aku terus sendiri seumur hidup. Arinda membatin, miris.
“Aku males, Mbak. Jadi, yang ada saja."
“Arinda, untuk ukuran seorang wanita, usiamu sudah cukup matang untuk berumah tangga. Menikahlah! Mbak pun akan lega jika kamu ada yang menjaga.”
Flashback on
Delapan tahun lalu, saat baru pulang bekerja dan mampir ke salah satu gerai minimarket. Dini bertemu Arinda sedang duduk di sudut toko dengan badan gemetar. Pakaian pun lusuh dan beberapa bagian koyak.
Dini menghampiri, menawari sebungkus roti dan satu botol air mineral. Ia duduk di sampingnya seraya mengulas senyum.
Arinda tidak begitu saja menerima makanan tersebut. Ia memandangi Dini dengan tatapan sendu. Mata basah dan bengkak kentara terlihat. Wajah cantik itu tertutup rambut berantakan dan lebam. Bahkan, terdapat luka di pelipis sebelah kanan dan luka robek di sudut bibir.
Dini meraih tangan Arinda. Dingin dan lemah!
“Makanlah! Mbak tidak ingin mengatakan jika aku adalah orang baik. Tapi, setidaknya sepotong roti itu bisa menghangatkan tubuhmu yang gemetar. Ayo, makan!”
Arinda mengangguk dan mulai memakannya dengan lahap. Ia memang tengah kelaparan. Lelah berlari dan memberontak membuatnya hampir kehabisan tenaga.
“Dari mana asalmu? Mbak tinggal dekat sini, tetapi tidak pernah melihatmu?”
Hening!
Tiga puluh menit dalam diam, Dini mulai kembali bertanya.
“Siapa namamu?”
Pertanyaan yang seharusnya ditanya ketika baru berjumpa. Tapi, Dini sengaja baru menanyakannya. Sayangnya, gadis itu tetap bungkam.
“Mau ikut Mbak pulang ke rumah?”
Arinda menatap Dini dengan sorot mata penuh ketakutan.
Dini mengambil sebuah cutter dari dalam tas dan memberikan kepada Arinda. Benda yang ia gunakan untuk membantu anak buahnya membuka kardus-kardus di kantor tadi siang.
“Jika Mbak berbuat jahat, pakailah itu sebagai senjata.”
Dini tersenyum dan menaruh cutter itu ke atas telapak tangan Arinda. Kemudian, menarik gadis itu agar mengikutinya pulang.
“Tunggu,” suara Arinda terdengar lirih.
“Iya.”
__ADS_1
“Apakah di rumahmu ada laki-laki?”
Laki-laki? Apa maksudnya? batin Dini.
Dini tersenyum. “Tidak ada.”
Pada saat itu, Dini kebetulan masih single dan mengontrak di sebuah rumah kecil seorang diri.
“Kalau begitu ... aku mau ikut.”
Heran?! Tapi, Dini menepis pikirannya. Setidaknya, tidak saat ini. Nanti akan ia tanyakan jika kondisi gadis itu sudah lebih baik.
Mereka berdua berjalan kaki. Karena, rumah Dini tidak jauh dari minimarket tadi.
Begitu sampai di rumah, Dini mempersilakan Arinda masuk. Wanita itu mengambil pakaian dan menyuruh gadis yang ia tolong itu untuk mandi.
Tiga puluh menit kemudian Arinda keluar dengan sudah memakai pakaian yang tadi di berikan Dini.
“Terima kasih, Mbak ....”
“Dini Anggraeni. Kamu cukup panggil Mbak Dini saja.”
“Arinda ... namaku Arinda Nabila.”
“Nama yang cantik seperti pemiliknya,” ucap Dini seraya mengobati luka Arinda.
Arinda tersenyum tipis kemudian membatin. Kecantikan inilah petaka dari semua hidupku.
Satu bulan berlalu dan masih berada di rumah Dini. Kini, Arinda tahu jika wanita yang menolongnya memang berhati baik dan tulus. Gadis itu pun akhirnya mulai membuka diri. Ia mau berbicara banyak mengenai hidupnya yang rumit.
Dini memeluk Arinda erat. Hatinya menangis mendengar kisah pilu itu.
Rangkaian kehidupan yang menyayat hati, tetapi gadis ini tetap bertahan hidup. Dini tak membayangkan jika itu terjadi dengannya. Mungkin hidupnya sudah berakhir dari sejak lama.
Bahkan, pertemuan pertama kali mereka tak luput dari kegeraman Dini.
Arinda bercerita bagaimana ia harus hidup setelah pergi dari rumah sang papa. Berpindah-pindah tempat tinggal.
Pada akhirnya, Arinda memutuskan untuk menetap di Bandung. Menjadi seorang SPG di sebuah pusat perbelanjaan. Tapi, hanya bertahan tiga bulan. Karena, koordinator floor tempatnya bekerja sering berbuat kurang ajar seperti merangkul dan berucap tak senonoh. Resign menjadi pilihan!
Bekerja kembali di sebuah rumah makan. Sayangnya, pemilik yang berstatus duda dan putranya menaruh hati secara bersamaan. Arinda memilih kembali keluar sebelum ayah dan anak itu saling beradu otot.
Terakhir di Bandung, Arinda bekerja di sebuah butik terkenal merangkap salon rias pengantin. Bersyukur, sang pemilik merupakan seorang wanita single parent dengan dua orang putri. Jadi, gadis itu pikir tak akan memiliki kendala.
Kebetulan juga, Arinda cukup cakap dalam merias. Jadi, sang pemilik begitu menjadikannya anak emas. Kemana pun saat fashion show dan acara pernikahan, ia pasti turut serta di bawa.
Sayangnya, seperti yang sudah-sudah, selalu laki-laki mata keranjang penghambatnya dalam mencari uang. Calon suami dari anak pemilik butik dan salon itu menyatakan cinta kepada Arinda.
Tak ingin terjadi pertengkaran. Apa lagi, sampai pembatalan pernikahan yang sudah rampung 50 persen. Jadi, gadis itu memilih mengundurkan diri. Pasalnya, pemilik butik dan salon itu sangat baik. Ia hanya tak mau merusak hubungan yang sudah terlanjur baik tersebut.
Arinda memutuskan kembali ke Jakarta. Tapi, baru saja tiba dan melintasi jalan sepi. Gadis itu kena rampok. Kopernya di rampas. Bahkan, ia di todong sebilah pisau oleh mereka dan di bawa ke sebuah rumah kosong.
Mereka mencoba memerkosa Arinda. Ia jelas melawan. Beberapa pukulan mendarat di wajah dan keningnya terbentur tembok hingga berdarah. Bahkan, bajunya beberapa bagian koyak akibat tarikan tangan-tangan kasar itu.
Beruntung di dekatnya ada sebuah balok kayu. Segera saja Arinda mengambilnya dan menghantamkan kepada kedua pria brengsek itu. Kemudian, secepatnya melarikan diri.
"Embak enggak pernah sangka ternyata wonder woman itu nyata adanya,” ujar Dini tersenyum.
“Padahal, cita-citaku menjadi Cinderella.” Lebih tepatnya kisah hidupku seperti sinetron yang tak berkesudahan, Mbak. Di mana sang pemeran utamanya terus saja sengsara. Entah, sampai kapan aku bahagia.
Kemudian, mereka tertawa bersama. Untuk pertama kalinya Dini melihat wajah sendu itu tertawa.
“Jadi, saat pertama bertemu kemudian bertanya apakah ada laki-laki di rumah. Karena, kamu takut di lecehkan kembali?”
“Itu alasan kedua. Alasan utamaku, karena tak mau merusak hubungan orang lain. Aku takut dianggap penggoda. Apalagi, yang menolongku memiliki hati yang baik seperti Mbak Dini.”
“Kamu trauma?”
“Tidak. Aku hanya benci dengan pria hidung belang dan mata keranjang. Menghindari jenis-jenis pria itu adalah prioritasku.”
Sejak saat itu, Dini selalu menjaga Arinda seperti adiknya sendiri. Kebetulan, wanita itu bekerja di Narendra Corp.
Dini mencarikan pekerjaan di sana dan ada lowongan sebagai customer service. Arinda diterima dan perusahaan menempatkannya di salah satu mall di Jakarta.
Akan tetapi, tiga tahun terakhir, Arinda di minta perusahaan untuk belajar menjadi Visual Merchandiser. Jabatan itu pun terus naik hingga sekarang menjadi Supervisor VM.
Flashback off
Mamacih sudah mampir, Kakak 🤗💞
Saranghaeyo 💞😘
__ADS_1
Jangan lupa vote-nya 🤗💞
Jangan lupa klik tombol like-nya juga, ya 💞🤗