ARINDA

ARINDA
Arinda-Ricko


__ADS_3


Mengayunkan langkah santai melewati lorong sepi. Berhenti tepat di depan pintu apartemen. Mencari kunci di dalam tas. Merogohnya sampai ke dalam. Sejenak terdiam dengan debaran jantung yang cukup kencang.


“Ponsel gue ... enggak ada.”


Mencoba tenang. Lalu, menaruh kantong belanjaan berisi buku-buku di lantai. Kemudian, membuka lebar-lebar isi tas. Mencari dengan teliti berharap terselip. Namun, benda pipih itu tetap tak ditemukan.


“Duh, Arinda. Kenapa bisa sembrono gini? Pantes aja gak ada bunyi notifikasi atau telepon. Tahunya memang ponselnya raib.”


Arinda bolak-balik di depan pintu. Ia masih memikirkan ke mana ponselnya. Kemudian, teringat sesuatu dan semakin membuat jantungnya berdetak cepat.


“Mampus gue. Kan abis kirim pesan perizinan ke Ricko, terus gue charge, lanjut mandi, keluar apartemen, dan ....”


Wajah Arinda seketika menjadi panik karena ponselnya tertinggal. Ia menimang-nimang perlukah ke apartemen Ricko atau tidak.


“Duh, Ricko pasti marah, deh.”


Arinda memutuskan untuk ke rumah Ricko. Namun, ia mau menaruh buku-buku dan mengambil ponselnya lebih dulu. Gadis itu membuka pintu.


Tanpa menyalakan sakelar lampu. Ia menaruh buku di atas nakas yang berada di samping rak sepatu dekat pintu. Kemudian, mencabut charge ponsel.


Akan tetapi, baru saja ingin membuka pintu, suara seseorang menghentikan pergerakan tersebut.


“Baru saja sampai. Lalu, ingin pergi lagi. Sibuk sekali.”


Tiba-tiba, lampu menyala menjadi terang benderang. Kemudian, sebuah tangan kekar melingkar di perut Arinda.


Gadis itu membisu. Diam di tempatnya berdiri. Tangannya masih memegang gagang pintu dengan erat.


“Ri-ricko.”


“Mau ke mana lagi?”


“Itu ... aku ....”


Ricko membalik tubuh Arinda. Mengungkungnya dengan kedua tangan. “Lengah sedikit, kamu cepat sekali menghilang,” bisiknya di telinga sang pujaan.


“Aku tidak menghilang. Hanya lupa bawa ponsel,” ucap Arinda menunduk seraya memainkan ritsleting jaket Ricko ke atas dan ke bawah.


“O, ya?”


“Iya.”


“Rupanya sudah tidak sabar bertemu Zacky. Sampai harus terburu-buru dan melupakan ponselmu.”


“Ricko, ih. Enggak gitu.”


“Lalu?”


“Aku lupa. Itu saja. Ini aku mau ke rumah kamu. Takut kamu marah.”


“Jadi, punya rasa takut juga denganku.” Ricko mengangkat dagu Arinda. Mengecup bibir merah muda favoritnya satu kali. Kemudian, menatap netra indah milik sang pujaan hati. “Bersenang-senang?”


Pertanyaan yang terdengar ambigu di telinga Arinda. Gadis itu kini serba salah.


“Zacky sahabat kamu. Lagi pula, aku kan sudah mengirimkan pesan. Tapi, dari kemarin gak ada yang dibalas.”


“Itu artinya aku tidak suka. Seharusnya, kamu paham.”


Arinda mencebik. Spontan memukul dada bidang itu. “Ricko, ih. Selalu egois.”


Ricko menangkap kedua tangan tersebut. “Jangan memukul. Hentikan kebiasaanmu. Sudah berapa kali aku bilang. Nanti kamu yang sakit.”


“Habis aku kesal sama kamu. Memang kamu pikir aku cenayang bisa membaca pikiran orang. Apa lagi dari jarak jauh. Kamu kan tinggal membalas pesanku. Bilang tidak boleh.”


“Memang kamu mau menurut?”


“Ricko, ih. Kamu maunya apa, sih?”

__ADS_1


“Jangan pernah pergi dengan pria lain sekali pun itu sahabatku. Aku tidak suka.”


Arinda mendorong tubuh Ricko kemudian memilih mendudukkan diri di pinggir kasur. Gadis itu mencebik. “Kamu jahat! Hidup ini juga jahat! Sejak kecil ragaku dikendalikan. Jiwaku tertekan, tetapi tak ada yang mau peduli. Aku hanya mau disayang tanpa di jadikan boneka. Aku ingin dianggap manusia dan diberi limpahan cinta. Sesulit itukah keinginanku untuk terkabul.”


Seketika rasa bersalah menyergap Ricko. Maksud perkataannya tadi bukan begitu. Ia hanya cemburu. Pria itu menghampiri Arinda.


Ada apa dengan masa kecilmu? Hidupmu? Seburuk itukah orangtua angkatmu? Akan aku tambah orang suruhanku. Secepatnya, aku harus mengetahui semuanya. Ricko membatin.


“Rin ....”


“Kamu selalu ingin dimengerti, tetapi tidak sebaliknya. Aku capek sama kamu, Rick.”


“Maaf. Aku ....”


“Zacky sahabat kamu. Kami pun tak melakukan hal aneh-aneh. Hanya jalan-jalan saja. Tapi, tingkahmu seperti orang yang tengah terbakar api cemburu. Kita hanya teman sekaligus rekan kerja. Tidak akan pernah lebih, 'kan? Jadi, bersikaplah sewajarnya.”


“Rin ....”


“Masih bagus aku tu menghargai kamu dengan mengirimkan pesan. Lalu, apa kamu melakukan hal yang sama. Enggak, Rick! Minimal balas, kek!”


“Rin ....”


“Pergi, Rick. Aku ingin istirahat. Boleh besok aku minta libur?” tanya Arinda menatap Ricko.


Ricko mengangguk. “Kamu ingin ke mana? Biar aku antar. Kita libur bersama besok.”


“Tidak ke mana-mana. Aku hanya tak ingin melihat wajahmu saja sampai rasa kesalku hilang.”


Ricko mengembuskan napas berat. Mulai merajuk lagi. Harusnya, aku yang marah. Kenapa jadi sebaliknya? Ini diluar rencana. Semuanya, gara-gara elu, nih, Zack. Ngapain, sih, pake acara ngajak jalan Arinda. Bikin hubungan gue yang memang udah rumit ini semakin bertambah kusut, batinnya.


“Arinda ....”


“Ricko, pergi!”


Enak aja pergi. Tidak semudah itu mengusirku, Tuan Putri, ucap Ricko dalam hati.


Pria itu justru dengan sengaja membaringkan tubuhnya di atas kasur dan melipat tangan di belakang kepala. “Kasur ini kekecilan. Besok aku belikan yang besar.”


“Tidak.”


“Ricko, ih! Pergi!”


“Tidak.”


“Ricko!”


“Apa?”


“Pergi!


“Tidak.”


“Ricko!”


Arinda terus menarik lengan Ricko. Walaupun hasilnya nihil. Bahkan, pria itu bergeser saja tidak.


Pada akhirnya, Pria tampan dan menawan itu melakukan hal yang sama. Sehingga, Arinda terjatuh ke dalam pelukannya dengan posisi gadis itu membelakangi Ricko.


“Masih kesal?” tanya Ricko seraya mengeratkan pelukan.


Sementara, Arinda memilih diam tak meronta. Pikirnya percuma karena tenaga Ricko lebih besar.


“IYA!” jawab Arinda kesal.


Ricko tersenyum simpul. “Duh, galak banget, sih.”


“Sudah tau galak, sana pulang!”


“Sama kamu, ya?”

__ADS_1


“Apa, sih, Ricko? Ini kan apartemenku.”


“Pulang ke apartemenku. Kita tinggal bersama. Mau?”


“Ricko! Kita belum menikah.”


“Will you be mine, Arinda?”


Arinda mengernyit. “Rick, kamu kesambet setan mana?”


“Aku cinta kamu. Dari dulu, sekarang, dan selamanya aku selalu mencintaimu. Itu yang selalu ingin kamu dengar, bukan?”


Arinda mematung. Aku sudah tahu kamu masih cinta dari Pak Rahardian. Tapi, mengapa rasanya berbeda saat kamu mengucapkannya secara langsung. Jutaan bunga seperti menghujaniku, Rick, batinnya.


“Rick, aku lagi gak mood bercanda,” ucap Arinda salah tingkah. Pipinya sudah memerah berona karena malu.


“Aku serius. Ayo, kita membangun rumah tangga. Bulan depan kita ke Belanda. Minta restu pada Opa Roni. Kita akan menikah resmi secara Agama dan Negara.”


“Restu? Opa-mu? Maksudnya?” tanya Arinda.


Ricko menceritakan perihal sang opa yang belum memberi restu. Ia mengatakan jika akan merestui kalau pria sepuh itu bertemu Keluarga Arinda.


Namun, Ricko belum menceritakan kalau Nita dan Erwin bukanlah orang tua kandung Arinda. Pria itu ingin menemukan lebih dulu di mana keluarga sang pujaan sebenarnya berada, baru memberi tahu.


“Jadi, Opa-mu tidak merestui?” Arinda kembali bertanya. Ia sudah menduga wanita semacam dirinya tidak akan semudah itu mendapatkan pria seperti Ricko.


Kita memang tidak akan pernah bersama, Rick. Pak Roni ingin bertemu keluargaku. Sementara, aku tidak tahu sama sekali di mana keberadaan Papa Erwin. Lagi pula, Pak Rahardian menginginkan menantu dari keluarga baik-baik. Sedangkan aku anak dari seorang pemabuk. Arinda membatin.


Ricko membalikkan tubuh Arinda. Menatap netra indah itu dengan lekat. “Bukan tidak, tetapi belum.”


“Apa menurutmu aku pantas hidup berdampingan denganmu juga Keluarga Besar Narendra? Aku kan ....”


Ricko menutup mulut Arinda dengan sebuah kecupan. “Kamu lebih dari pantas titik.”


“Kenapa tiba-tiba ingin menikahiku secara resmi? Kamu takut Zacky merebutku?”


Ricko berdecak. Ia kesal dengan Arinda karena ucapannya benar. Itu salah satu faktor pria itu ingin mengikatnya agar tidak jatuh kepelukan pria lain.


“Arinda ....”


“Jadi, itu benar?”


“Tapi, aku benar mencintaimu. Bahkan, memang ingin menikahimu.”


Keduanya membisu. Suasana seketika hening. Mereka saling melempar pandangan.


“Aku ingin tidur denganmu malam ini,” pinta Arinda berucap dengan suara lembut.


Untaian kata yang keluar barusan membuat Ricko tercengang dan menegang. Kemudian, matanya mengerjap beberapa kali karena rasa tak percaya. Bahkan, kini aliran darahnya mulai memanas. Ia merasa kegerahan. Padahal, apartemen Arinda ber-AC.


Posisi yang ia ciptakan sendiri pun membuatnya menjadi serba salah. Pasalnya, lengan berototnya berada tepat menjadi bantalan kepala Arinda. Dan, tangannya dipakai memeluk tubuh ramping sang pujaan. Wajah mereka pun hanya berjarak satu jengkal saja.


“Rin, aku ....”


Arinda mengecup satu kali bibir Ricko seraya berujar dengan wajah memohon, “Please?!”


Ricko POV


Oh, no! Aku harus bagaimana sekarang? Menurut salah. Tapi, tidak mengiakan, kok, rasanya mubazir.


Toh, aku berniat menikahinya juga, bukan? Hanya saja, memajukan sedikit malam pertama menjadi sekarang.


Tidak! Tidak! Tidak!


Shit! Otakmu, Ricko! Hentikan itu, bodoh! Jangan menjadi pria brengsek!


Arinda, kenapa juga harus memohon untuk hal seperti itu, sih? Aku laki-laki normal loh! Jangan membuat kejantananku meronta-ronta.


Lalu, apa yang harus aku pilih? Akal sehat atau nafsu sesaat?

__ADS_1


Iya atau tidak?


__ADS_2